Prof. Dr. Tobroni, M.Si. Blog
RSS icon Email icon
  • REKONSTRUKSI PENDIDIKAN AGAMA UNTUK MEMBANGUN ETIKA SOSIAL DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

    Posted on November 24th, 2010 tobroni No comments

    Oleh: Prof. Dr. Tobroni, M.Si.

    Latar Belakang Permasalahan

    Berbagai permasalahan menimpa Bangsa Indonesia seperti masih adanya konflik sosial di berbagai tempat, sering mengedepankan cara kekerasan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, praktek korupsi yang semakin canggih dan massif, sering terjadi perkelahian antar pelajar, pelanggaran etika dan susila yang semakin vulgar, munculnya aliran yang dianggap sesat dan cara-cara penyelesaiannya yang cenderung menggunakan kekerasan, tindakan kejahatan yang mengancam ketenteraman dan keamanan, praktek demokrasi liberal yang ekstreem dalam berbagai aspek kehidupan sehingga bertabrakan dengan budaya dan nilai-nilai kepatutan sebagai bangsa Timur dan bangsa yang religius.

    Sebagai bangsa Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga masih menghadapi persoalan yang serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, antara lain masih adanya sebagian umat Islam yang belum at home sebagai Bangsa Indonesia. Mereka belum sepenuhnya menerima keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai bentuk negara yang final. Masih adanya sebagian umat yang belum memiliki kemampuan dan keterampilan untuk hidup bersama dalam keberbedaan. Impak dari sikap itu antara lain berupa masih kuatnya eksklusifitas, maraknya gerakan-gerakan umat yang kontra produktif, seperti terorisme, garakan-gerakan bawah tanah yang bertujuan mengganti bentuk negara, berbagai bentuk pembangkangan dan bahkan perlawanan terhadap negara dan pemerintahan yang sah. Akibat dari sikap sebagian umat Islam ini sangat luas, berangkai dan kontra produktif bagi bangsa dan negara, dan khususnya bagi umat Islam.

    Permasalahan yang serius juga terjadi di dunia pendidikan. Pelanggaran etika sosial dan susila serta kekerasan dalam berbagai bentuknya sering terjadi seperti: perkelaian antar pelajar, seks bebas, tindak pidana, sikap tidak etis terhadap guru, berbagai bentuk pelanggaran tata tertib sekolah, dan minimnya prestasi dan kejayaan yang dicapai para pelajar kita.

    Permasalahan bangsa tersebut di atas semakin diperparah dengan tayangan telivisi yang sangat vulgar, life, tidak mengenal waktu tayang, dan diulang-ulang oleh hampir semua stasiun TV dan juga surat kabar. Peristiwa pembunuhan, pemerkosaan, perkelaian, perampokan, pembakaran, demo yang anarkis, tidakan aparat yang represif, perceraian, terorisme dan berbagai bentuk tindakan kejahatan justru menjadi menu utama dan disiarkan dalam berbagai bentuk tayangan (berita, peristiwa, sinetron, dialog dan lain-lain). Semboyan wartawan adalah “bad news is good news”. Berita baik apabila ada unsur ‘blood” dan “crowd”. Tindakan memperolok, memfitnah, menghina, mengadu domba, pembunuhan karakter justru difasilitasi oleh media.

    Fenomena di atas, apabila kita renungkan akan menimbulkan keprihatinan yang mendalam. Prihatin terhadap kualitas generasi muda di masa depan, prihatin terhadap citra dan daya saing bangsa kita yang semakin rendah dan direndahkan oleh bangsa-bangsa lain. Kita juga prihatin terhadap stigma terhadap sebagian umat Islam yang diidentikkan dengan teroris, anti intelektual dan anti peradaban.

    Berbagai permasalahan tersebut diasumsikan bersumber dari krisis etika dan moral: bisa korupsi dianggap prestasi, penipuan dianggap lumrah asalkan tidak keterlaluan, hilangnya budaya malu (marwah), hilangnya keperawanan tidak lagi disesalkan, politik uang untuk membeli kekuasaan, berbudi bahasa yang santun dianggap suatu kelemahan, agama tidak lagi dipedomani sebagai akhlak melainkan sebagai alat kepentingan dan kekuasaan, dan bahasa kekerasan adalah bahasa kekuasaan dan ketertindasan.

    Adanya krisis etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bahkan juga krisis etika dan moral dalam beragama lantas memunculkan pertanyaan tentang peranan dan sumbangan Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk etika dan moral. Walaupun variabel perkembangan permasalahan tersebut sesungguhnya sangat kompleks, namun seringkali secara langsung maupun tidak langsung dihubungkan dengan permasalahan pendidikan agama di sekolah. Pertanyaan seperti ini dianggap sah-sah saja karena sumber dari berbagai permasalahan tersebut adalah akibat adanya krisis etika dan moral, sedangkan tugas pokok pendidikan agama adalah membentuk anak didik memiliki moralitas dan akhlak budi pekerti yang mulia.

    Kondisi tersebut tentu saja sangat memprihatinkan. Kondisi ini menuntut semua pihak untuk mengambil peran masing-masing guna menyelamatkan generasi muda dan bangsa. Kaum agamawan sebagai penjaga etika dan moral masyarakat termasuk di dalamnya guru agama harus diberdayakan agar dapat mengambil peran secara signifikan. Demikian juga pendidikan agama yang memiliki peran strategis harus semakin ditingkatkan mutu dan relevansinya bagi upaya pembangunan moral bangsa. Pendidikan agama di sekolah perlu direkonstruksi agar dapat memerankan tugas dan fungsinya secara efektif yaitu membangun akhlak (etika dan moral) generasi penerus bangsa. Rekonstruksi itu meliputi aspek filosofis, substantif dan metodologis.

    Hakekat Pendidikan Agama Islam

    Pendidikan adalah persoalan yang paling strategis bagi kehidupan manusia baik dalam perspektif individu, masyarakat dan bangsa. Dalam hal ini John Dewey dalam Democracy and Education (1964:1-53) mengemukakan bahwa pendidikan adalah sebagai salah satu kebutuhan hidup (a necessary of life), salah satu fungsi sosial (a social function), sebagai bimbingan (a direction) dan sebagai sarana pertumbuhan (as growth), yang mempersiapkan dan membukakan serta membentuk disiplin hidup.

    Misi utama yang diemban oleh pendidikan Agama Islam tidak lain adalah misi Islam itu sendiri yaitu rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam) dan membangun akhlak dan peradaban yang agung (al-Hadis). Sebagaimana Firman Allah: Dan tidak­lah Aku mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam (Q.S. 21: 107). “Dan diantara mereka ada yang orang berdoa” “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di duia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka” (Q.S. al-Baqarah, 2:201).

    Pendidikan sebagai Penebar Rahmat dan Anti Kekerasan

    Islam dalam wataknya yang asli adalah anti kekerasan. Islam mengajarkan agar manusia memiliki sikap sosial luhur: pengabdian menggantikan kekuasaan, pelayanan menggantikan dominasi, pengampunan mengganti­kan permusuhan, cinta kasih menggantikan kebencian, derma menggantikan keserakahan, keadilan menggantikan kerusakan, dan kesabaran menggantikan kekerasan.

    Watak agama yang asli sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah ketika beliau hijrah ke Thaif (80 km sebelah tenggara dari Makkah). Sesampai di Thaif Beliau disalahpahami oleh penduduk dan dilempari batu sampai berlumuran darah. Beliau tidak mengutuk mereka melainkan justru mendoakan petunjuk, dan rahmat bagi mereka. Demikian juga ketika terjadi perang Uhud, Rasulullah tidak membenci para pemanah yang tidak setia pada perintah beliau yang mengakibatkan kekalahan, melainkan beliau berlaku lemah lembut dan tetap mengayomi mereka (QS Ali Imran/3:159). Rasul-rasul Allah yang tergabung dalam Ulul Azmi yang memiliki jiwa pengampun dan kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi ulah umatnya terbukti lebih berhasil dalam misinya dari pada yang sebaliknya. Allah berfirman: “Maka disebabkan rahmat Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu” (Q.S. Ali Imran/3: 159).

    Sikap lemah lembut dengan penuh kasih sayang sudah sepatutnya dipercontohkan oleh para orangtua, para pendidik dan komunitas sekolah lainnya sebagai manivestasi ajaran agama yang diyakininya. Kekerasan seharusnya tidak boleh terjadi di lingkungan sekolah. Agama mengajarkan kasih sayang dan kelemah lembutan serta pengampunan. Allah berfir­man:“… Dan jika kamu memaafkan akan lebih dekat dengan taqwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di a­ntara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Al-Baqarah: 137).

    Kajian tentang Etika dan Moral

    Kehadiran Islam di muka bumi adalah sebagai pedoman hidup manusia dan untuk memberikan solusi yang tegas terhadap berbagai persoalan kemanusiaan. Salah satu persoalan kemanusiaan yang perlu mendapat perhatian besar dari umat Islam adalah persoalan etika sosial persaudaraan dan perdamaian. Namun menurut Susanto, tema ini kurang mendapatkan perhatian secara memadai dalam hazanah pemikiran Islam. Dan sekiranya ada, umumnya membahas etika individual, yaitu bagaimana memperbaiki diri dan kepribadian dalam berkata, bersikap, dan berbuat terutama dikaji dalam perspektif fiqh (Susanto, 2005) dan akhlak tasawuf. Karena itu tema tentang etika sosial persaudaraan dan perdamaian yang dikaji dalam perspektif filosofis dan sosialisasi serta implementasinya dalam pendidikan menjadi sangat penting. Dalam tulisan ini istilah etika digunakan dalam pengertian sebagai kajian tentang nilai baik dan buruk. ”etika” adalah cabang filsafat yang mengkaji tentang baik dan buruk, sedangkan ”moral” adalah nilai baik atau buruk menurut suatu masyarakat. Dengan kata lain, ”moral” adalah etika terapan.

    Pembicaraan tentang agama dan moralitas, biasanya muncul pertanyaan tentang hubungan antara keduanya, yaitu: apakah agama identik dengan moralitas? Seringkali agama diidentikkan dengan moralitas. Bagi agamawan, kaidah-kaidah moralitas itu berkaitan erat dengan agama, tidak mungkin orang yang sungguh-sungguh bermoral tanpa didasarkan pada agama tertentu. Orang yang bermoral pasti memegang teguh keyakinan agamanya. Demikian hal sebaliknya, orang yang beragama mengarah pada tujuan-tujuan moralitas. Menurut Sudarminto ada tiga alasan: (1) moralitas pada hakikatnya bersangkut paut pada persoalan bagaimana manusia dapat hidup dengan baik; (2) agama merupakan salah satu pranata kehidupan manusia yang paling kuno; dan (3) dalam praktek keberagamaan ada kepercayaan bahwa Tuhan akan memberikan pahala kepada orang yang baik dan menjatuhkan hukuman bagi orang yang jahat, sehingga secara psikologis agama dapat menjadi penjamin yang kuat bagi hidup yang bermoral (Sudarminto 2001). Salah satu contoh pandangan agamawan ini adalah pendapat Al-Ghazali sebagaimana dikemukakan oleh Abdullah. Bagi Al-Ghazali, keutamaan (etika dan moralitas) selalu berhubungan dengan Tuhan. Tidak ada keutamaan lain yang dapat dicapai tanpa pertolongan Tuhan. Bahkan, al-Ghazali menegaskan bahwa tanpa pertolongan Tuhan usaha untuk mendapatkan tindakan moral dan etis hanyalah sia-sia (Abdullah, 2001: 137-8).

    Dalam perspektif lain (mis. filosofis dan sosiologis), antara agama dan moralitas tidak selalu seiring sejalan. Walaupun logika hubungan positip antara keberagamaan dan moralitas dapat dipahami, namun prinsip-prinsip dasar moralitas dapat pula dikenali dan dipraktikkan oleh manusia yang tidak beragama yang menggunakan pemikiran atau akal budinya. Bahkan, sering terjadi perilaku orang yang mengaku beragama tapi perbuatannya sering tidak mengindahkan kaidah-kaidah moral yang diajarkan dalam agama itu sendiri (Sudarminta, 2001:13) seperti mereka yang mengaku memperjuangkan agama tetapi dengan menghalalkan segala cara. Ada gerakan yang mengatasnamakan agama, tetapi agenda, watak dan perilakunya murni gerakan politik yang kasar dan kotor yang jauh dengan nilai-niai agama itu sendiri. Sebaliknya ada gerakan yang manifesnya adalah gerakan non agama, tetapi sangat mempedulikan nilai-nilai universal agama dan mengemban misi dakwah agama. Yang pertama adalah penghianatan terhadap agama dan yang kedua adalah ketulusan terhadap perintah agama.

    Jalan tengahnya adalah, meskipun agama dan etika memiliki tujuan sama, yakni kemaslahatan manusia, namun hukum-hukum agama tampak bersifat ritualistik, sementara etika berlandaskan pada nilai-nilai analitik dan menuntut adanya kebebasan manusia. Inilah yang memisahkan agama dan etika. Walaupun terkadang hukum-hukum agama bersifat ritualistik dan menuntut ketaatan total kepada Tuhan dan tanpa mempertanyakan kandungan etisnya, namun ide moralnya juga pada tindakan etis (Shubhi, 1999).

    Islam Agama Etis dan Moralitas.

    Etika dan moralitas adalah puncak nilai keberagamaan seorang muslim. Hal ini sejalan dengan Hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan keagungan. Berislam yang tidak membuahkan akhlak adalah sia-sia.

    Menurut Susanto , memahami Islam dengan kandungan ajaran moralitasnya perlu dilacak secara historis bagaimana konstruksi bangunan pemikiran Islam ketika Nabi Muhammad mengembangkan Islam pada saat periode Makkah atau qabla hijrah (Susanto, 2005). Hal ini penting agar kita mampu menangkap pesan-pesan moral Islam dengan baik. Bagi sebagian besar masyarakat Muslim, konstruksi pemahaman tentang Islam selalu dirujuk pada produk aturan syariat yang didirikan Nabi pada saat beliau sudah menetap di kota Madinah (ba’da hijrah). Kita sering melupakan prosesi sejarah di mana Islam sebenarnya terkonstruksi melalui sebuah proses yang bertahap dan disesuaikan dengan konteks zaman pada saat itu yaitu periode Makkah dan Madinah.

    Para Sejarawan membagi pembentukan Islam dalam dua periode, yaitu periode Mekkah (610-622 M) yang disebut dengan “ar-risalah al-ula” dan periode Madinah (622-632 M) yang disebut dengan “ar-risalah ats-tsaniyah”. Karakter Islam yang terbangun dalam misi pertama adalah ajaran-ajaran yang bernuansa universal, filosofis dan sangat sarat dengan pesan-pesan moral etis, sedangkan Islam pada misi kedua merupakan bangunan keislaman yang cenderung mapan, berorientasi penuh ke dalam, dan penuh dengan aturan-aturan “syariat” kolektif (Thaha, 2003). Periode Makkah merupakan landasan filosofis, etis dan moral bagi pembentukan body of knowledge Islam yang terbentuk pada periode Madinah. Ibaratnya, Periode Makkah adalah ”Pancasila” sedangkan periode Madinah adalah ”UUD 1945” dan peraturan perundangan turunannya. Dalam perspektif sosiologi agama, Islam pada periode Makkah disebut ”idealistic religion”, sedangkan pada periode Madinah dsebut ”organized religion”.

    Menurut Raghib al-Isfahani, etika sosial Islam berbentuk ethical individual social egoism dalam motivasi moral. Maksudnya, pengejaran perilaku moral individu tidak mesti mengorbankan perilaku moral etis sosial. Etika sosial Islam tidak hendak memasung otoritas individu untuk sosial sebagaimana paham komutarianisme atau pengorbanan sosial untuk individu sebagaimana paham universalisme (Amril M. 200: 2ix). Etika sosial Islam harus berlandaskan pada cita-cita keadilan dan kebebasan bagi individu untuk melakukan kebaikan sosial. Etika sosial Islam adalah sebuah pandangan moralitas agama yang mengarahkan manusia untuk berbuat baik antar sesamanya agar tercipta masyarakat yang baik dan teratur.

    Islam memiliki peran yang sangat besar bagi perbaikan atas kehidupan umat manusia. Etika sosial Islam mempunyai dua ciri yang sangat mendasar, yaitu keadilan dan kebebasan. Dua ciri ini penting untuk menggerakkan Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Perbuatan kita mesti diorientasikan pada tindakan-tindakan yang mengarah pada keadilan dan juga memandang kebebasan mutlak setiap individu. Karena, kebebasan individu ini berimplikasi pada tindakan sosial dan syariat kolektif.

    Rekonstrukdi Pendidikan Agama di Sekolah

    Dalam dunia akademik, perilaku ilmiah senantiasa didasarkan pada paradigma tertentu sebagai landasan suatu teori dan metode. Sebagaimana diketahui, kebenaran ilmiah itu bersifat relatif dan ilmu pengetahuan terus menerus diadakan penelitian (research) untuk menemukan kebenaran baru, merevisi dan menyempurnakan temuan yang sudah ada. Atas dasar itulah paradigma lama bisa jadi dianggap tidak lagi relevan lantas menimbulkan anomaly dan crisis dan kemudian muncul paradigma baru. Thomas S. Kuhn dalam The Structur of Scientific Revolution (1996) mengelaborasi dengan baik bagaimana perubahan dari paradigma lama yang mapan kemudian mengalami anomaly, krisis, revolusi dan kemudian muncul paradigma baru

    Ilmu pendidikan (pedagogy) termasuk di dalamnya pedagogy di bidang pendidikan agama adalah sebagai sebuah science memiliki kebenaran ilmiah ralatif, dan sebuah teknologi memiliki ketepatan yang tentatif. Problematika di bidang pendidikan dan keagamaan yang terus berkembang mengharuskan adanya paradigma baru, teori baru dan metode-metode baru untuk menggantikan paradigma, teori dan metode lama yang mungkin tidak relevan atau tidak fungsional lagi untuk memecahkan problematika baru yang lebih kompleks dan kualitatif. Atas dasar itulah diperlukan pembaharuan pemikiran, pengkajian dan penelitian terhadap pendidikan Islam untuk melakukan rekonstruksi mulai aspek teologisnya, filisofisnya, substantifnya, metodologinya dan sistem pembelajarannya. Harapannya adalah, agar pelaksanaan pendidikan agama dapat berlangsung secara efektif.

    Rekonstruksi Teologis dan Filosofis.

    1) Pola pemikiran keagamaan

    Mainstream pemikiran keagamaan yang dikembangkan dalam PAI selama ini masih bercorak teosentrisme (berpusat pada Tuhan). Agama itu berasal dari Tuhan yang diterima secara taken for granted dan untuk melayani atau untuk kepentingan Tuhan. Agama lebih banyak difahami sebagai petunjuk teknis (juknis) untuk melayani Tuhan. Dalam pola pemahaman seperti ini, agama dapat menjadi pemasung kemuliaan manusia yang antara lain berupa kemerdekaannya. Paham teosentrisme menempatkan manusia sebagai obyek Tuhan, dan agama sebagai alat pemuas Tuhan.

    Walaupun pemikiran keagamaan yang dikembangkan dalam PAI di sekolah tidak se-ektrim paham teosentrisme, namun nuansa teosentrisme masih sangat kental. Tema sentral dalam PAI adalah Tuhan dan bagaimana relasi manusia dengan Tuhan. Akibatnya aspirasi dan kebutuhan manusia kurang terakomodasi dalam pembelajaran agama. Pendidikan agama menjadi sangat normatif, tidak kontekstual dengan kebutuhan dan problematika kehidupan yang berkembang. Akibatnya jelas, pendidikan agama menjadi kurang menarik dan kurang fungsional.

    Allah menurunkan agama adalah manifestasi sifat Rahman dan Rahim-Nya untuk memberikan petunjuk jalan yang lurus (tidak sesat) kepada manusia yang dikaruniai kehendak bebas(QS. Al-Baqarah/2: 37-38). Agama adalah petunjuk dari Tuhan untuk manusia. Petunjuk itu tidak diterima secara taken for granted, melainkan difahami secara cerdas dan kontekstual agar fungsional dengan dinamika zaman. Sebagai contoh, ajaran tentang shalat, zakat, puasa dan haji adalah memang dari Allah tetapi hakekatnya untuk manusia. Inilah pola pemahaman keagamaan yang teo-antroposentris, yang menempatkan Tuhan sebagai Zat yang disembah, dan manusia sebagai khalifaturabb dan sekaligus Abdullah. Dengan berparadigma teo-antroposentris, tema sentral dalam PAI adalah manusia dan kehidupannya yang disinari cahaya ilahi.

    2) Diskursus tentang Tuhan

    Konsep Tuhan dalam al-Qur’an dapat difahami dalam dua istilah: Ilah dan Rabb. Kata Ilah yang dima’rifatkan menjadi al-Ilah dan dirangkai menjadi Allah, memiliki makna sebagai Tuhan yang tidak terjangkau, yang misterius, yang pribadi dan tidak pernah tergantikan. Allah adalah gambaran tentang sifat substantif Tuhan. Sedangkan kata Rabb adalah gambaran Allah yang berfirman, berbuat dan dekat dengan hamba-Nya. Rabb adalah Allah yang Maha Mencipta, Memelihara, memberi Rizki, Maha Adil dan Maha Kasih terhadap hamba-Nya. Rabb adalah peran fungsional Allah ketika berhubungan dengan “al-alamin” (hamba/ciptaan-Nya).

    Dalam al-Qur’an dikemukakan bahwa ketika Allah menampakkan diri dan berhubungan dengan al-alamin (ciptaannya termasuk manusia), Dia menyebut dirinya sebagai Rabb (QS. Al-Fatihah/1: 2, al-Baqarah/2:30). Atas dasar itulah, diskursus tentang Tuhan dalam PAI seharusnya lebih menekankan Allah sebagai Rabb, bukan Allah sebagai al-Ilah. Rabb adalah salah satu peran fungsional Allah dalam hubungannya dengan makhluk-Nya. Asmaul Husna adalah sifat-sifat Allah sebagai Rabb. Penekanan pembahasan Allah sebagai Rabb ini akan mampu melahirkan kedekatan manusia dengan Tuhan, memberikan kekuatan moral dan inspirasi untuk meniru sifat-sifat dan perbuatan Rabb sebagaimana dalam Asmaul Husna. Rabb adalah Tuhan Yang Dekat, Yang Hadir, yang fungsional, yang mendengar keluhan dan doa hamba-Nya. PAI perlu merekonstruksi diskursus tentang Tuhan dari mengedepankan konsep Tuhan sebagai Allah kepada Rabb.

    3) Pandangan tentang Nabi.

    Sebagian umat Islam memandang Nabi Muhammad SAW sebagai manusia setengah dewa. Muhammad adalah manusia yang ma’shum (terjaga dari kesalahan), dapat memberikan syafaat, dan “Nur Muhammad”nya merupakan cikal bakal dari kehidupan ini (sangkan paraning dumadi). Bacaan shalawat diartikan sebagai puji-pujian atau sanjungan kepada Muhammad, dan bukan sebagai doa untuknya. Pandangan ini tampaknya terpengaruh oleh pemahaman umat kristiani tentang Nabi Isa sebagai Tuhan Yesus. Di pihak lain ada juga yang berpandangan bahwa apapun yang dari Muhammad adalah syariat termasuk cara makan, berpakaian, bentuk alas kakinya, janggutnya dan sebagainya.

    Pemahaman tentang Muhammad diatas bukan saja bermakna pengkultusan terhadap manusia dan menempatkan Nabi sebagai manusia setengah dewa, tetapi juga memasung pemahaman agama dan kreatifitas anak didik. Dalam surat al-Kahfi ayat 110 dikemukakan dengan sangat jelas bahwa Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang diberi wahyu. Dan yang menarik, dalam ayat ini diiringi dengan peringatan untuk tidak mempersekutukan Allah dengan seorangpun. Muhammad adalah seorang manusia pilihan, manusia jenius dan manusia teladan (uswah hasanah). Muhammad adalah role model dan significant others yang terus menginspirasi dan memberikan contoh keteladanan kepada umatnya dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Dengan mengedepankan sisi kemanusiaan Muhammad, akan terhindar dari pengkultusan dan syirik di satu sisi, dan akan melahirkan kekaguman serta kehormatan disisi lain. Mengikuti sunnah Nabi bukan sekedar melaksanakan “apa” yang dikatakan, diperbuat, dan ditetapkan oleh Nabi, melainkan yang lebih penting adalah mengikuti “cara berfikir”, Nabi. Inilah cara melakukan kontekstualisasi Sunnah dan Hadits, sehingga Sunnah dan Hadits tetap mampu memberikan inspirasi, pencerahan dan petunjuk walaupun dalam konteks kekinian (time) dan kedisinian (space) yang berbeda. PAI perlu merekonstruksi pandangannya tentang Nabi Muhammad dari mengedepankan sifat “maksum” kepada peran sebagai “role model”

    3) Manusia ideal

    Gambaran manusia ideal dalam kurikulum PAI digambarkan sebagai khalifatullah (wakil Allah) dan ‘abdullah (hamba Allah). Sebagaimana dikemukakan di atas, konsep khalifatullah sesungguhnya kurang tepat, karena konsep “Allah” sangat pribadi dan tidak dapat diwakilkan. Peran Allah sebagai Rabb lah yang dapat digantikan oleh manusia. Khalifatu Rabb bermakna, manusialah pengganti Tuhan dalam mengendalikan kehidupan ini. Manusia adalah aktor dalam panggung kehidupan ini menggantikan peran Allah sebagai Rabb. Untuk dapat berperan sebagai Khalifatu Rabb, manusia bukan saja berusaha menjalankan “apa” yang diperintahkan Allah dan menjauhi “apa” yang dilarang-Nya, melainkan perlu membangun dalam dirinya “mind-set”, “mode of thought” atau “cara berfikir” ketuhanan. Allah dalam hal ini Rabb bukan hanya Tuhan yang ditakuti dan ditaati, tetapi sebagai Zat yang dikagumi dan dicontoh. PAI perlu merekonstruksi pandangan manusia ideal dari sebagai khalifatullah kepada khalifaturabb.

    4) Pandangan dunia.

    Pandangan tentang hakekat kehidupan sangat mempengaruhi jalan hidup seseorang, apakah pandangan hidup mistis atau asketis. Paham mistisisme memandang bahwa dunia adalah kefanaan total, dunia dan keinginan duniawi sebagai penghalang untuk menuju kepada Yang Hakiki, sehingga berupaya menista dan meninggalkan keinginan terhadap dunia. Sebaliknya, paham asketisme berpandangan bahwa dunia ini adalah realitas, dan intensifikasi pengabdian agama yang dijalankan dalam kegairahan kerja sebagai gambaran dan pernyataan dari manusia terpilih. Jalan keselamatan dicari tidak dengan meninggalkan atau membelakang dunia tetapi dengan menundukkannya (Webber, 1964:79-80). Tesis Weber ini relevan dengan kandungan Surat al-Baqarah ayat 269:

    “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang ayat-ayat Allah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”.

    Pandangan dunia yang dikembangkan melalui Pendidikan Agama Islam di sekolah perlu direkonstruksi dari paham mistisisme duniawi kepada paham asketisme duniawi.

    Aspek Substantif

    1) Tujuan kurikulum

    Agama Islam yang dikemas dalam kurikulum PAI adalah agama sebagai “pengetahuan”, “ilmu” dan bahkan sebagai teknologi. Akibatnya corak pembelajaran PAI di sekolah lebih dominan sebagai pengajaran dari pada pendidikan. Kurikulum dan pembelajarannya bersifat “padat isi” dan “padat jam” serta bertujuan memberikan pengetahuan sebanyak-banyaknya tentang agama Islam. Asumsinya adalah, dengan memiliki pengetahuan yang sebanyak-banyakya, murid akan memiliki kepribadian dan berbuat sesuai dengan pengetahuannya itu. PAI di sekolah umum seharusnya tidak bertujuan untuk membentuk siswa yang ahli agama atau “having religion”, melainkan menjadi orang yang bertaqwa atau “being religious”.

    PAI di sekolah yang memiliki alokasi waktu yang terbatas dan sebagai salah satu komponen isi pendidikan seharusnya tidak bersifat padat ilmu dan padat jam, melainkan padat isi dan misi. Pengajaran Islam sebagai ilmu yaitu ilmu-ilmu tentang keislaman baik yang bersifat normatif maupun historis-sosiologis lebih tepat diberikan pada murid yang memang mengambil spesialisasi di bidang ilmu agama.

    2) Arah pembelajaran PAI

    3) Materi pokok PAI

    Sebagaimaa dikemukakan di atas, isi pembelajaran PAI adalah padat pengetahuan. Dalam buku Standar Isi dan Standar Kelulusan Pendidikan Agama Islam (2007), ruang lingkup PAI meliputi lima aspek: al-Qur’an-Hadits, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Tarikh-Kebudayaan Islam. Materi pokok PAI ini disamping memiliki kelebihan juga ada kelemahannya, yaitu kurang kontekstual dengan persoalan hidup dan dimensi-dimensi kehidupan.

    Isi kandungan al-Qur’an mencakup seluruh komponen kehidupan manusia mulai dari alam ruh sampai alam akhirat yang meliputi: Tuhan, manusia, alam, penciptaan dan akhlak. Dengan kata lain ruang lingkup ajaran Islam meliputi: ontologi (Tuhan, manusia, alam) epistemologi (penciptaan/kejadian) dan aksiologi (akhlak). Isi pokok materi PAI perlu direkonstruksi dari keilmuan normatif dan historis Islam kepada dimensi-dimensi kehidupan. Dengan cara inilah umat Islam dapat kembali kepada al-Qur’an dan Hadits secara cerdas dan fungsional.

    4) Sifat Kurikulum

    Aspek Metodologis

    Al-tharîqatu ahammu min al-maddah, al-ustâdzu ahammu min al-tharîqah, wa tilmidlu ahammu min al-ustadz” (metode lebih penting dari materi, guru lebih penting dari pada metode, dan murid lebih penting dari pada guru). Statemen bijak tersebut menggambarkan betapa pentingnya metodologi pendidikan, lebih penting lagi adalah peran guru yang sangat menentukan kejayaan dalam proses pembelajaran, dan di atas semuanya, murid adalah faktor yang paling penting.

    Dalam praktek sering dijumpai, sebuah mata pelajaran yang sulit menjadi menyenangkan karena faktor guru, demikian juga sebaliknya. Guru dan metode yang digunakan sangat menentukan keefektifan proses pembelajaran. Kritik yang berkembang bahwa pembelajaran PAI dianggap kurang menarik minat siswa perlu dicermati dari aspek metodologi pembelajaran yang digunakan dan terutama peran guru di dalamnya, dan bagaimana guru menempatkan murid dalam posisi subyek dan sentral dalam pembelajaran.

    1) Model Pembelajaran

    2) Peran guru

    3) Peran murid

    4) Arah pembelajaran

    5) Evaluasi pembelajaran

    Aspek Etika dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

    Persoalan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah persoalan fundamental dan serius bagi umat Islam maupun bagi bangsa dan Negara Indonesia, mengingat umat Islam adalah warga bangsa mayoritas di Negara ini, dan bangsa Indonesia adalah bangsa Muslim terbesar di dunia. Permasalahan yang dikemukakan dalam tulisan ini, dan melalui PAI diharapkan dapat memberikan kontribusi pemecahannya meliputi: Bentuk etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Etika sesama warga bangsa, etika terhadap negara, etika terhadap pemimpin bangsa, masalah nasionalisme dan patriotisme.

    1) Bentuk etika dalam kehidupan publik

    Politik berasal dari kata ‘poly” dan “ethic” yang berarti beragam etika, norma dan etiket. etika yang bersifat normatif yang derivasi dari agama tertentu perlu diobjektifikasi, dan etika individual perlu dikontekstualisasi. Etika Islam yang diajarkan di sekolah selama ini cenderung bersifat etika normatif dan individual, yaitu ajaran tentang baik dan buruk yang bersifat individual yang diderivasi dari teks-teks al-Qur’an dan Hadits. Sedangkan etika sosial dalam ranah publik kurang mendapatkan perhatian yang memadai. Akibatnya ada kecenderungan etika normatif dan individual diterapkan pada ranah publik. Islam memberikan petunjuk bahwa persoalan publik itu diselesaikan dengan dengan cara musyawarah: “sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka”-(QS. Asy-Syura/48:38). Ayat ini menegaskan bahwa urusan public itu itu dipecahkan dengan etika diskursus (consensus para ahlul hikmah).

    Etika publik itu melampaui etika normatif, dan etika sosial melampaui etika individual. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, PAI perlu merekonstruksi system etika dari etika normatif individual kepada etika diskursus dan etika sosial. Negara itu melampaui agama, tetapi sebagai warga Negara perlu beragama. Negara itu tidak beragama, tetapi human beingnyalah yang beragama. Bukan sebaliknya, negaranya yang beragama sementara warga negaranya berperilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.

    2) Etika kepada sesama warga Bangsa

    Dalam sebuah Negara yang menerapkan system syura, sesama warga bangsa memiliki dedudukan dan hak serta kewajiban yang sama. Negara tidak melakukan klasifikasi warganya atas dasar agamanya, melainkan atas dasar hukum yang berlaku apakah dia taat atau membangkang (bughot). Pengklasifikasian warga Negara secara dikhotomik atas dasar agamanya: Muslim atau kafir (dzimmi atau harbi) dianggap tidak relevan dan menyesatkan, antara lain akan melahirkan sikap ta’asub (merasa paling benar), takfir (pengkafiran), eksklusif dan intoleran.

    Umat Islam di berbagai Negara mengalami ambigu dan kecenderungan bersikap dan eksklusif karena terkungkung pola pemikiran dikhotomik muslim versus kafir itu. Atas dasar itulah dalam pelajaran PAI perlu direkonstruksi dari mind-set pemikiran dikhotomik kepada mindset pluralistik mutikultural.

    3) Etika terhadap Negara dan pemimpin Negara

    Negara terbentuk antara lain karena adanya konsensus dari warga negaranya yang tinggal dalam suatu wilayah dan ingin hidup bersama. Konsensus itu biasanya diwujudkan dengan dasar Negara. Etika terhadap pemimpin bangsa adalah bersikap loyal selama pemimpin bangsa itu tidak menyimpang terhadap dasar Negara. Dengan demikian, loyalitas warga Negara terhadap pemimpin Negara bersifat loyal-kritis, dan loyalitas konstitusional, bukan taat atau membangkang secara total. Loyalitas atau pembangkangan total terhadap Negara atau pemimpin Negara biasanya lahir dari sikap dikhotomik terhadap Negara: negara agama (Islam) versus negara kafir. Ketika negara dan pemimpin Negara dianggap Negara Islam akan melahirkan ketaatan total dan bahkan akan melahirkan sikap right or wrong is my country. Sebaliknya ketika Negara dan pemimpin Negara dianggap kafir, akan melahirkan pembangkangan total.

    Pemikiran terhadap Negara Islam atau Negara bukan Islam perlu direkonstruksi melalui pendidikan agama. Pendidikan agama perlu memberikan pencerahan terhadap romantisme Negara agama masa lalu yang tidak memiliki dasar normatif maupun dasar ilmu pengetahuan yang kokoh.

    4) Nasionalisme

    “Cinta tanah air bagian dari iman” (Hadits). Dalam suatu kesempatan Rasulullah bersabda yang intinya beliau sangat mencintai kota Makkah karena beliau lahir di kota itu, dan dibesarkan dalam budaya dan system sosial pada saat itu. Dalam bahasa sekarang, Rasulullah adalah orang yang memiliki nasionalisme tulen. Rasulullah mencintai Makkah karena beliau dilahirkan di kota itu (nasionalisme tanah air) dan karena beliau bagian dari bangsa Arab Quraisy (nasionalisme kebangsaan). Nasionalisme Rasulullah terhadap Makkah bukan nasionalisme simbolik, dalam arti apakah Makkah pada waktu itu Islam atau kafir.

    Kecintaan terhadap tanah air dan bangsa merupakan fenomena alamiah, dan bagian dari fitrah manusia, dan bahkan ditakatan bagian dari iman. Sebaliknya paham yang meniadakan cinta tanah air adalah paham yang absurd (tidak masuk akal) dan utopia. Pendidikan agama perlu mengembangkan pemikiran dan sikap cinta tanah air, bukan nasionalisme sempit atau nasionalisme simbolik.

    5) Patriotisme

    Patriotisme adalah sikap rela berkorban dan pantang menyerah dalam membela dan memperjuangkan kejayaan bangsa dan Negara. Orang yang memiliki sikap patriotisme kemudian disebut pejuang bahkan pahlawan. Sikap patriotisme biasanya lahir dari idealisme agama untuk bangsa dan Negaranya sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dalam membangun kejayaan Madinah. Di Indonesia sikap patriotisme juga dicontohkan antara lain oleh Bung Tomo. Patriotisme Rasulullah dan patriotisme Bung Tomo adalah patriotisme agama untuk Bangsa, patriotisme Islam untuk semua.

    Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sikap patriotisme tidak bersifat sektarian, yaitu memperjuangkan kejayaan kelompok berdasar identitas agama, suku atau golongan. Dalam perspektif kenegaraan, patriotisme sektarian tidak disebut sebagai pejuang tetapi pecundang, tidak akan disebut pahlawan melainkan pengkhianat.

    Melalui PAI perlu dibangun patriotisme kenegaraan dan bukan patriotisme sectarian.

    Sebagai kesimpulan, Islam itu agama yang indah dalam berbagai aspek ajarannya. Akan tetapi keindahan Islam itu seringkali dibajak oleh penganutnya sendiri dan mereka-mereka yang tergolong dalam Islamophobia. Melalui pendidikan agama Islam di sekolah diharapkan keindahan Islam itu terpancar baik dalam ranah pemikiran maupun tindakan.

    UCAPAN TERIMA KASIH

    Sujud syukur hamba haturkan kepada Allah Rabbul Izzati, Rabb yang Maha Pengasih, Maha Mencipta, Maha memelihara, Maha memberi Rizki, dan Maha Adil. Berkat limpahan rahmat dan karunianya hamba yang lemah dan hina ini dapat berdiri di tempat yang mulia ini.

    Kepada Muhammad SAW, engkau manusia biasa yang diberi wahyu, engkau menusia biasa yang karena perjuangannya yang luar biasa sehingga menjadi manusia sempurna, teladan bagi seluruh umat manusia. Berkat sunnahmu yang selalu memberikan inspirasi dan pencerahan, umatmu ini dapat terbimbing ke jalan kebenaran dan ilmu pengetahuan.

    Kepada keluarga besar Universitas Muhammadiyah Malang: Pimpinan dan mantan pimpinan, teman sejawat sesama dosen dan karyawan yang telah berjuang dan bekerja keras tak kenal lelah sehingga Universitas ini terus berjaya. Melalui perjuangan dan pengorbananmu, saya bisa ikut bergabung, ikut mengabdi di almamater tercinta ini. Pangkat dan gelar guru besar yang saya raih ini bukanlah pretasi individual, melainkan hasil dari kerja keras dan prestasi kita semua seluruh civitas akademika.

    Dari unsur pimpinan, saya harus memberikan apresiasi kepada Pak Muhadjir. Melalui kepemimpinan beliau, alhamdulillah UMM masih dapat terus melakukan ekspansi ditengah persaingan yang tidak seimbang antara PTN dan PTS.

    Di jajaran mantan Pimpinan, tentunya nama Pak Malik begitu dekat di hati kita. Juga Prof. Imam Suprayogo yang juga Rektor UIN. Seperti kita ketahui beliau pernah menjabat PR 1 selama 13 tahun disaat-saat yang paling menentukan perkembangan UMM. Kita bersyukur di Malang ini ada Pak Imam dan Pak Muhadjir, dua jawara penggerak pendidikan tinggi Islam yang berhasil yang sama-sama lahir dari kampus putih ini.

    Kepada guru-guruku yang dimuliakan Allah: guru ngaji, guru MI, MTs dan MA. Kepada para dosen-dosenku: dosen di IAIN Sunan Ampel Malang, Program Pascasarjana UMM, dan Program Doktor UIN Yogyakarta. Juga guru-guru informal maupun non formal. Engkau laksana lampu yang memberikan cahaya ilmu dan peradaban. Amal baktimu tak mungkin terbalas. Hanya doa yang dapat kupanjatkan jazâkumullâhu khairal jazâ. Juga tidak lupa saya haturkan permohonan maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan.

    Hadir dalam kesempatan ini Pak Mahmudi, S.Pd guru MI saya, yang kata teman-teman saya Bapak termasuk guru yang kereng, ini kata temen-temen saya lho pak. Tapi bagi saya, Bapak bukan kereng tapi tegas dan ditakuti. Hadir juga Bapak K.H. Zarqoni, BA guru MTs. Bapak adalah guru yag baik hati dan menganggap saya ini pandai dalam Bahasa Arab, padahal yang memang bisa.

    Hadir Juga guru MAN saya Bapak Dr. K.H. Ahmad Najib, M.Ag. Waktu saya sekolah dulu beliau dikenal sebagai guru muda yang cerdas dan humoris. Beliau waktu itu lulusan PGA tetapi pandai mengajar matematika. Saya sesungguhnya tidak bisa matematika tetapi saya sengaja duduk di bangku paling depan yang dekat dengan meja beliau untuk menutupi ketidak bisaan saya di bidang matematika.

    Hadir juga dosen saya di IAIN antara lain … dan dosen S2 saya atara lain…. Banyak kenangan manis dan sangat manis ketika saya kuliah di S1, S2 maupun S3, yang semua itu terukir indah dalam perjalanan hidup saya.

    Kepada para murid dan mahasiswa. Terima kasih karena telah mau percaya kepada saya, mendengar ucapan saya, mengikuti arahan saya dan menuruti perintah saya, walaupun terkadang saya juga tidak terlalu yakin terhadap apa yang saya ajarkan itu. Kepada para muridku, karena engkaulah saya belajar, menulis dan meneliti, dan karena engkau pula saya dapat berkembang. Karena itu saya sangat menyadari tanpa adanya murid saya tak akan menjadi guru, apalagi menjadi guru besar. Kata Pak Malik Fadjar, mengabdi di dunia pendidikan itu tidak ada matinya. Kesungguhan kita dalam mendidik akan memberikan impak yang setara dengan perkembangan kita sendiri. Kepada para mahasiswa, hanya doa yang dapat saya hadiahkan semoga ilmu kalian bermanfaat, dan mampu melampaui prestasi guru-gurunya.

    Sungkem saya haturkan kepada kedua orangtua saya: ayah saya H. Ahmad Sahli (alm) dan Ibu Muti’ah. Kedua orang tuaku telah mendidik, membesarkan dan mendoakan saya dengan penuh kasih sayang sehingga saat ini. Dalam himpitan kebutuhan ekonomi yang sulit, dan keterbatasan yang ada, engkau bekerja keras tak kenal lelah dan tidak pernah mengeluh. Restumu yang tulus dan doamu yang tidak pernah putus telah memberikan kekuatan dan kemudahan dalam setiap gerak langkahku. Jasamu tak mungkin terbalas, hanya doa yang sanggup aku panjatkan: “Allâhumaghfirli dzunubi wa liwa lidayya warrhamhumâ kamâ rabbayâni shaghirâ

    Kepada istri tercinta Ririek Wuryantini, SE. Terima kasih atas cinta, kesetiaan dan pengorbanannya yang tulus dan selama hampir 20 tahun menemani dalam suka dan duka. Selama saya menulis naskah orasi ini juga selalu menemani (walau sambil tiduran di kursi, dan akhirnya ketiduran juga), ketika saya mengetik sampai larut malam. Kepada anak-anakku Hero Adibi Abda (Hero) (Kuliah di Unair), Sabiella Maris Adiba (Bella) sekolah di SMA 8 dan Mahira Charmi ainaya (Aya) sekolah di MIN. Kalian bagaikan air yang menyejukkan jiwa dan bagaikan taman yang menyegarkan mata. Kepada kalian anak-anak-ku ayah berpesan untuk selalu berjuang dalam tiga hal: Berjuang untuk kejayaan Islam, berjuang untuk kejayaan ilmu dan berjuang untuk kejayaan kemanusiaan.

    Kepada Bpk. Prof. Dr. Ahmad Mursidi, M.Sc dari Majlis Dikti Litbang diucapkan terima kasih

    Kepada Bpk. Prof. Dr. M. Nur Syam, M.Si selaku Koordinator Kopertais Wilayah IV. Sebagai sesame alumni Short Course Leadership di Canada, saya apresiate dengan beliau karena mampu menyelesaikan gelar M.Sc hanya dalam waktu 2 bulan. Tetapi M.Sc di sini bukan singkatan Master of Science, melainkan Master of Science Catherine.

    Kepada Prof. Syafigh A. Mughni, MA, Ph.D, selaku Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Muhammadiyah Jawa Timur dan unsure pimpinan lainnya yang hadir pada kesempatan ini, terima kasih atas kehadiran dan bantuannya.

    Kepada Kolegial di Fakultas Agama Islam, Pak Drs. Sunarto, M.Ag dan sejawat.

    Dari Program Pascasarjana: Prof. Syamsul Arifin dan Pak Jabal serta para ka Prodi, terima kasih atas dukungan dan bantuannya.

    Kepada Pimpinan BAN PT terima kasih atas dukungan dan bantuannya

    Kepada Direktur Pendidikan Agama di Sekolah Kemenag, terima kasih atas dukungan dan bantuannya

    Dari University of Malaya Faculty of Islamic Studies (API) hadir Prof. Dr. H. Saiful Akhyar dan Puan Hera, mewakili Pengarah Islamic Studies Prof. Dr. Ahmad Hidayat Buang. Terima kaseh kehadirannya semoga Tuan-Puan seronok duduk kat Kota Malang yang disebut Paris Van Java ini. Seronok itu artinya senang berkesan. Memang secara umum antara Bahasa Indonesia dengan Bahasa Malaysia itu sama, tetapi ada juga perbedaan. Misalnya kementerian agama, bahasa Malaysia kocaknya adalah kementerian tak berdosa.

    Kepada sejawat sebagai Visiting Professor, di University of Malaya, hadir Prof. Dr. Haidar Daulay, MA., Prof. Dr. Susiknan Azhari, M.A; Prof. Dr. Ishomuddin, M.Si.

    Kepada Prof. M. Nazir, MA, Ph.D sebagai sesama alumni Short Course di Jerman, dan juga sebagai Rektor UIN Riau, saya sampaikan terima kasih atas kehadirannya.

    Kepada panitia yang dikomandani pak Syarif, terima kasih dan jazakumullahu khairal jaza atas kerja kerasnya.

    Kepada teman-teman di Ranting Muhammadiyah Tunggulwulung, terima kasih atas kekompakan dan kegigihannya.

    Kepada Krue elektone yang dikomandani Bu Ratih, terima kasih atas persembahan lagu-lagunya.

    Kepada saudara kandung dan saudara ipar, yang alhamdulillah dapat berkumpul semua dari beberapa wilayah di Jawa.

    Kepada teman-teman kuliah di S1, S2 da S3 yang berkenan hadir walaupun harus menempuh jarak yang jauh. Hadir dalam kesempatan ini Prof. Dr. Mujamil Qomar, Ketua STAIN Tulungagung, …

    Dan kepada hadirin sekalian yang telah berkenan hadir dan memberikan doa restu … Saya mohon maaf, terima kasih, terima kasih dan terima kasih, jazâkumullahu khair.

    Wassalâmu’alaikum Wr. Wb.

    Leave a reply

    *