Prof. Dr. Tobroni, M.Si. Blog
RSS icon Email icon
  • PENINGKATAN MUTU PERGURUAN TINGGI ISLAM (Lessons Learned dari McGill University)

    Posted on November 25th, 2010 tobroni No comments

    Prof. Dr. Tobroni, M.Si.

    (bagian 1 dari tiga tulisan)

    Pada tanggal 18 Mei sampai 18 Juni 2006 saya melakukan perjalanan ke Kanada tepatnya ke kota Montreal dalam rangka mengikuti training tentang Higher Education Leadership and Management di McGill University Montreal. Acara itu terselenggara atas kerjasama Pemerintah Kanada dan Pemerintah Indonesia melalui CIDA dan Departemen Agama. Sedang yang membiayai acara tersebut adalah CIDA (Canadian International Development Agency), yaitu sebuah funding milik pemerintah Kanada untuk pembangunan internasional. Penulis adalah satu-satunya peserta dari kalangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah diantara 21 peserta lainnya. Selama satu bulan penuh, penulis mendapatkan training tentang bagaimana mengembangkan perguruan tinggi di tanah air menjadi perguruan tinggi  yang baik (menuju the real university) dengan mengacu pada McGill University Montreal Kanada. McGill University adalah salah satu universitas terbaik di Kanada dan mendapatkan predikat “The Research University of the Year 2005” dan peringkat 24 untuk World University Ranking tahun 2005. Bahkan Majalah Times Higher Education Supplement yang diterbitkan di London menempatkan  McGill University sebagai universitas besar dunia sebagaimana Harvard dan Oxford University. Sedangkan materi pelatihan mulai dari bagaimana konsep perguruan tinggi yang ideal (research University), visi-misi, manajemen kepemimpinan sampai pada unit-unit pelaksana teknis sebuah universtias.

    Penulis memandang perlu lesson learned atau gold nugget (hikmah/bongkahan emas ilmu)  dari Kanada dan khususnya dari McGill University ini disebarluaskan untuk pengembangan PTM. Muhammadiyah yang memiliki lebih dari 150 PTM apabila 10 diantaranya dapat menjadi the research university yang sesungguhnya, tentu sudah dapat memberikan kontribusi positif dalam membangun peradaban dunia. Berikut secara berseri dikemukakan tentang: visi dan budaya perguruan tinggi, manajemen dan proses pendidikan, dan Kemahasiswaan

    Visi Misi dan Budaya Perguruan Tinggi.

    Visi dan Misi

    Visi adalah gambaran ideal masa depan yang hendak dituju. Visi  berfungsi sebagai  pemberi arah dan kekuatan serta mengilhami (pikiran, perasaan, dan cita-cita) civitas akademika agar memiliki komitmen dan dedikasi untuk menggapai yang ideal. Orang yang punya visi adalah orang yang terpimpin oleh visinya dan pada gilirannya akan mampu mempimpin dirinya untuk mencapai apa yang diidealkan itu. Visi harus dirumuskan secara jelas, dapat dipahami, dapat dicapai, komunikatif, eternal (tetap actual), dan tidak terlalu abstrak.

    Visi McGill University sebagai contoh adalah sebagai berikut: “Advancement of learning through teaching, scholarship and service to society”, yaitu menjadi lembaga pendidikan yang unggul di bidang pengajaran, pemberian beasiswa dan pengabdian kepada masyarakat

    Dari visi tersebut kemudian dijabarkan dalam misi. Misi McGill University dapat dikelompokkan dalam tiga hal: Pertama, menyelenggarakan pengajaran yang berkualitas baik untuk sarjana maupun pascasarjana (outstanding under graduate and graduate students the best education available). Kedua, menyediakan beasiswa bagi calon mahasiswa dan mahasiswa terbaik dengan standar internasional (carrying out scholarly activities judged to be excellent when measured against the highest international standards). Ketiga, menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat dengan kekokohan akademik (providing service to society in those ways for which we are well-suited by virtue of our academic strengths).

    Berdasarkan contoh McGill University tersebut, visi misi PTM sebaiknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Pertama, PTM harus  dibangun berdasarkan nilai-nilai dasar perjuangan yang jelas, misalnya untuk menegakkan mengembangkan ilmu pengetahuan, dan mendidik generasi muda yang mampu berberfastabiqul khairat. Kedua, visi sebuah lembaga pendidikan dirumuskan secara ideal tetapi jelas dan terukur, misalnya menjadi research university.

    Ketiga, misi sebaiknya dirumuskan berdasarkan core business dari sebuah lembaga pendididikan tinggi Islam, misalnya menyelenggarakan pendidikan dan  penelitian bertaraf internasional, pengabdian pada masyarakat berdasarkan kekokohan ilmu pengetahuan dan memberikan beasiswa untuk mahasiswa berprestasi akademik dan non akademik.

    Keempat, sosialisasi, aktualisasi dan bahkan reaktualisasi visi dan misi  perlu terus dilakukan agar keberadaan dan makna visi dan misi tetap aktual. Pengembangan perencanaan program seharusnya didasarkan dan mengacu pada pemenuhan visi-misi  lembaga.

    Budaya Universitas

    Proses organisasi sebuah lembaga pendidikan ditentukan oleh nilai-nilai yang tidak tampak (unseen). Apa yang tidak tampak itu biasanya berupa budaya organisasi. McGill University dapat menjadi universitas terkemuka dunia memiliki nilai-nilai budaya yang sangat relevan untuk dikembangkan di lingkungan PTM. Nilai-nilai tersebut antara lain berupa: Pertama, budaya amal. Sebagaimana di kemukakan di muka, semangat amal tidak dapat dilepaskan dari sejarah maupun perkembangan Universitas McGill sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik dunia. Sampai sekarang, budaya amal untuk pengembangan Universitas McGill dari kalangan berpunya, pengusaha,  dan alumni terus memperkokoh outstanding Universitas McGill.   Apa yang dikemukakan KH. A. Dahlan “hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah” harus diartikan sebagai keharusan budaya amal di Muhammadiyah. Pengertiannya bukan dilarang menerima gaji dari amal usaha Muhammadiyah, melainkan nilai kerja lebih banyak dibandingkan yang diterimnya, sehingga ada penumpukan amal (modal) yang pada akhirnya terus dapat membesarkan dan meningkatkan mutu lembaga. Disamping itu, semangat berderma untuk lembaga pendidikan harus terus digelorakan kepada para aghniya, pemerintah dan pengusaha dan alumni, baik dalam bentuk zakat, infak, sedekah, hadiah, hibah dan lain sebagainya. Amal-amal tersebut digunakan untuk pembangunan fisik dan fasilitas, beasiswa mahasiswa berprestasi dan untuk subsidi bagi mahasiswa tidak mampu.

    Kedua, walk the talk, melakukan apa yang dikatakan. Iman seharusnya dapat membentuk pribadi yang memiliki integritas. Meninggalkan perkataan yang tiada berguna, satu kesatuan antara hati, mulut dan perbuatan. Walk the talk adalah cermin dari orang yang tidak saja beriman, tetapi lebih dari itu bertaqwa, yaitu orang yang mengamalkan apa yang diyakini dan dikatakan. Budaya walk the talk memiliki hubungan dengan budaya mutu dan budaya amal. Budaya walk the talk, berarti menjaga kepercayan (amanah) orangtua dan masyarakat agar anaknya dididik dengan pendidikan terbaik. Walk the talk juga berarti responsible dan accountable terhadap amal yang diberikan masyarakat. Tanpa adanya kepercayaan, kecil kemungkinan orang akan memiliki kepercayaan kuliah atau memberikan amal kepada PTM.

    Ketiga, budaya kerja keras.  Kebesaran sebuah universitas tidak lepas dari budaya kerja keras dari stake holder-nya. Motto Universitas McGill misalnya berbunyi “by work, all things increase and grow” (dengan kerja segala sesuatu meningkat dan tumbuh). Budaya kerja keras ini harus dimiliki oleh seluruh civitas akademika PTM.  Dalam Islam kemuliaan seseorang tergantung pada ketaqwaannya Dalam konteks membangun universitas, siapa yang paling berjasa dan  yang paling baik karyanya merupakan orang yang paling mulia (paling bertaqwa). Terhadap orang-orang yang telah bekerja keras, PTM seharusnya memberikan penghormatan misalnya dalam bentuk prasasti, mengabadikan namanya menjadi nama sebuah gedung atau nama jalan di lingkungan universitas. Hal ini penting untuk mengenang jasa-jasanya dan mengilhami generasi berikutnya untuk lebih bekerja keras lagi.

    Keempat, mutual respect, yaitu budaya saling menghormati atau mengapresiasi karya atau kelebihan orang lain. Mutual respect perlu diwujudkan dalam pergaulan sehari-hari, dalam bekerja dan dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran misalnya, dosen sangat menghormati mahasiswanya dan tidak pernah mencaci atau menghukumnya, melainkan memuji dan memuji. Dalam masyarakat yang kurang memiliki kedewasaan dalam berfikir dan bersikap, mutual respect sangat sulit diwujudkan, bahkan yang terjadi sebaliknya membenci, iri, berebut  dan berusaha menjatuhkan orang yang berprestasi. Kebajikan dan prestasi belum menjadi mainstream dan pedoman hidup bersama.

    Kelima, Excellence Oriented. Budaya mutu, berorientasi pada prestasi dan perfeksionistik harus menjadi budaya kerja civitas akademika PTM. Wacana tentang budaya kerja yang excellence oriented sebenarnya bukanlah hal yang baru. Akan tetapi persoalannya adalah bagaimana dapat menerapkan dalam sebuah lembaga yang di dalamnya terdapat sejumlah orang yang beragam kemampuan dan kemauan? Walk  the talk (menjalankan apa yang dikatakan) atau kesatuan antara “qaulan wa fi’lan” (perkataan dan perbuatan)  merupakan nilai dasar kehidupan yang harus ditegakkan.  Artinya, budaya excellence oriented harus diawali dari kualitas moral orang-orang yang ada dalam sebuah lembaga. Walk the talk akan melahirkan manusia yang konsisten (amanah), komitmen (dedikasi). PTM pantas menerapkannya.

    Leave a reply

    Captcha Garb (1.5)