Prof. Dr. Tobroni, M.Si. Blog
RSS icon Email icon
  • PENGEMBANGAN MUTU AKADEMIK PTM Lessons Learned dari McGill University (Bagian 3)

    Posted on November 27th, 2010 tobroni No comments

    Prof. Dr. Tobroni, M.Si.

    (bagian 3 dari tiga tulisan)

    Pada bagian 1 dan 2 dikemukakan tentang nilai-nilai dasar yang harus dikembangkan sebagai kekuatan moral dan arah pengembangan perguruan tinggi. Pada Bagian kedua dikemukakan seputar pembinaan kemahasiswaan yang antara lain dibahas tentang pentingnya pembinaan mahasiswa tahun pertama dan pengembangan karier. Sedang pada bagian ketiga dikemukakan tentang pengembangan mutu akademik yang akan membahas tentang pengembangan dosen dan sumberdaya manusia, portofolio  pembelajaran, kultur akademik, perpustakaan,  dan dukungan IT (information technology).

    Dosen dan Sumber Daya Manusia.

    Dosen merupakan sumber edukasional yang utama dalam sebuah perguruan tinggi. Inti proses pembelajaran adalah interaksi edukatif antara mahasiswa dan dosen, baik langsung maupun tidak langsung. Interaksi langsung melalui tatap muka dan telephon; sedangkan tidak langsung dapat lewat buku, email dan internet. Sedangkan faktor-faktor lainnya seperti perpustakaan, IT, kurikulum, dan lingkungan merupakan faktor pendukung. Atas dasar itulah posisi dosen sangat sentral dan strategis dalam sebuah perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang kurang memperhatikan dosen sebagai sumber daya edukatif yang utama ini, sekali-kali tidak akan menjadi perguruan tingi yang berkualitas walaupun didukung oleh faktor-faktor pendidikan lain yang sangat baik. McGill University sebagai perguruan tinggi yang berhasil melakukan penjaminan mutu akademik  sangat menyadari hal ini. McGill University adalah perguruan tinggi yang sangat memperdulikan dosennya dalam banyak hal: kompetensi akademik, professional, kepribadian dan soisal. Persoalannya adalah apa saja yang dilakukan McGill University dalam pengembangan dosen dan lessons learned yang dapat dipetik untuk pengembangan PTM?

    Di negara-negara the British commonwealth (persemakmuran Inggris), profesi dosen dan guru menempati posisi terhormat dan mendapatkan gaji yang tinggi. Fakultas Keguruan di Kanada merupakan salah satu fakultas favorit dan menjadi pilihan calon mahasiswa berprestasi.  Karena itu tidak mengherankan apabila standar profesi dosen dan guru juga tinggi. Syarat menjadi dosen misalnya harus  bergelar akademik minimal doktor dan  memiliki outstanding atau reputasi akademik dan keagungan kepribadian yang dapat diandalkan di tingkat internasional..

    Kalau PTM berkomitmen menjadi perguruan tinggi yang memiliki outstanding akademik dan non akademik, maka  penghargaan, penghormatan dan  reward dosen harus mendapatkan perhatian. Dengan kata lain PTM harus mengutamakan faktor human resource-nya. Menurut pengamatan penulis, masih ada gejala-gejala yang kurang kondusif di lingkungan PTM berupa kurangnya penghargaan terhadap faktor manusia yang berkualitas. Sebagai contoh, banyak orang-orang potensial yang telah berhasil mengembangkan PTM justru dilengserkan begitu saja setelah prestasinya dapat dibanggakan. Orang-orang potensial itu dilengserkan karena dinilai “dominan” dan dikhawatirkan “menguasai” PTM.  Karena kekuatan PTM masih terletak pada orang dan bukan pada organisasinya, maka ketika orang-orang yang potensial yang telah berhasil membesarkan PTM  tidak ada lagi, lantas yang terjadi adalah PTM-PTM kehilangan kekuatannya. Fenomena ini (kurangnya menghargai faktor manusia) tidak hanya terjadi di PTM tetapi juga di amal-amal usaha Muhammadiyah (AUM) lainnya seperti rumah sakit dan sekolah. Ketika AUM masih kecil dan “tidak ada apa-apanya”, tidak ada yang memperhatikan, tetapi ketika menjadi besar dan “ada apa-apanya” semua orang meliriknya dan dengan berbagai alasan berupaya menyingkirkan orang yang telah membesarkannya itu.  fenomena ini terjadi berulang-ulang dan bahkan telah menjadi semacam pola pergeseran elit di Muhammadiyah.

    Fenomena di atas seharusnya tidak boleh terjadi lagi di PTM atau AUM lainnya. PTM harus lebih menghargai faktor manusia dari pada organisasi. Penulis sering mendengar penyataan pimpinan Persyarikatan yang dengan bangganya menyebut jumlah AUM di bidang pendidikan, tetapi tidak pernah menyebut orang-orang yang membesarkannya. Banyak pimpinan PTM yang dengan bangganya mengemukakan kemegahan kampusnya, kelengkapan fasilitas pendidikan, jumlah jurusan dan lain sebagainya, akan tetapi jarang bahkan tidak pernah menyebut misalnya memiliki sekian doktor dan professor dengan keahlian masing-masing dan sekian peneliti senior. Ibaratnya, orang lebih bangga punya telur dari pada induknya. Yang lebih aneh lagi adalah menginginkan telur tetapi membuang induknya. Mestinya induknya itulah yang dipelihara agar banyak telurnya. Pembaharuan PTM pada umumnya belum memfokus pada SDM, melainkan lebih banyak kepada fisik, serimonial dan bahkan nusnsa-nuansa politis. PTM. Banyak PTM yang pengelolaannya masih bergaya ormas dan orpol ban belum fokus pada core business nya yaitu peningkatan mutu akademik.

    Portofolio Pembelajaran.

    Input dosen dan mahasiswa yang berkualitas memang faktor terpenting namun belum tentu menjamin terciptanya proses pembelajaran yang efektif dan berkualitas. Hal ini disebabkan karena manusia itu tindakannya memiliki berbagai dimensi. Bahasa agama mengatakan bahwa manusia (insan) betapapun hebatnya tetap saja memiliki kelemahan yang fundamental, yaitu tempatnya salah dan lupa. Agar kelemahan itu dapat tereliminasi, maka diperlukan sistem yang dapat mengontrol/mengendalikan, memotivasi, menggerakkan dan mengevaluasi. Sistem itu bernama potofolio pembelajaran yang meliputi potofolio untuk dosen, mahasiswa, dan mata kuliah. Di McGill University, protofolio pembelajaran itu diterapkan yang tujuan utamanya untuk mengavaluasi kualitas proses dan hasil pembelajaran tetapi tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran secara berkelanjutan. Dosen, mahasiswa dan mata kuliah dievaluasi pada setiap semester dalam rangka memperoleh feed back dan tindak lanjut. Evaluasi dan tindak lanjut adalah dua kata  kunci dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran secara berkelanjutan. Evaluasi pembelajaran mungkin sudah dilakukan di PTM dan bahkan ada sebuah PTM yang sudah melengkapi ruangan kelasnya dengan kamera yang dapat dikontrol dari ruang Badan Pengendali Mutu Akademik (BKMA). Akan tetapi tindak lanjut setelah dievaluasi itu biasanya tidak dilakukan, sehingga peralatan yang sangat mahal itu menjadi kurang efektif dan bahkan bisa dikatakan tidak tepat sasaran.

    Kultur Akademik

    Perguruan tinggi    merupakan lembaga akademik tertinggi, komunitasnya disebut civitas akademika, periode waktunya disebut tahun akademik,  budayanya disebut budaya akademik, dan perilakunya disebut perilaku akademik, yaitu berfikir, bersikap dan bertindak berdasarkan norma-norma akademik. Perguruan tinggi juga merupakan lembaga otonom yang tidak dapat diintervensi oleh faktor-faktor eksternal (kekuatan politik dan ekonomi) karena di dalamnya memiliki kebebasan yang disebut kebebasan mimbar akademik. Nama-nama kegiatan di perguruan tinggi juga menunjukkan kegiatan akademik seperti: almamater, kuliah,  tentamen, praktikum,  yudisium, dan lain sebagainya.

    Apa yang dikemukakan di atas, barulah simbol-simbol yang menggambarkan perguruan tinggi yang identik dengan dunia ilmu pengetahuan. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana mewujudkannya? Apa yang dilakukan McGill University dan PTM dalam mengembangkan kultur akademik?  McGill University membangun kultur akademik dengan cara: (1) Menyelenggarakan pendidikan/pengajaran dan pengabdian pada masyarakat berbasis riset; (2) Profesor menulis apa yang diteliti dalam bentuk buku atau jurnal ilmiah, (3) Melibatkan mahasiswa dalam kegiatan penelitian, (4) Menjunjung tinggi etika akademik dalam penelitian, penulisan karya ilmiah dan dalam pengajaran, (5) Political will universitas untuk pengembangan akademik yang antara lain ditandai dengan budget yang proporsional untuk pengembangan akademik terutama riset, (6) Penguatan terhadap lembaga penelitian, (7) Link and math dengan perusahaan dan lembaga-lembaga luar dalam penelitian sehingga menghasilkan income yang terus meningkat dari penelitian, (8) Quality assurance dalam riset dan pembelajaran, (9) Menjadi pusat keunggulan dan melahirkan karya hak cipta yang terus meningkat.   Bagaimana dengan PTM?

    Perpustakaan.

    Pernyataan bahwa perpustakaan merupakan jantung dari sebuah perguruan tinggi adalah benar adanya. Denyut nadi sebuah perguruan tinggi sangat ditentukan oleh kualitas perpustakaan dan antusiasme civitas academika (dosen dan mahasiswa) untuk menimba ilmu di perpustakaan. Perpustakaan McGill University memiliki semboyan: innovation, information dan service. Perpustakaan di McGill University bukan sekedar kumpulan buku, jurnal, dokumen dan memberikan layanan baca dan peminjaman buku sebagaimana di perguruan tinggi di Indonesia, melainkan lebih dari itu mengemban tiga fungsi sebagaimana semboyannya tersebut. Dari perpustakaanlah informasi dan inovasi bergulir, terutama dalam pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan.

    IT Support.

    Para era informasi seperti sekarang ini, teknologi informasi (TI) merupakan panglima, siapa yang menguasai informasi dialah yang akan memenangkan pergumulan, tidak terkecuali perguruan tinggi. Sitem pembelajaran, sistem administrasi dan sistem informasi yang canggih harus didukung oleh TI. Pepatah mengatakan: to manage business is to manage future, to manage future is to manage information.

    Leave a reply

    Captcha Garb (1.5)