Prof. Dr. Tobroni, M.Si. Blog
RSS icon Email icon
  • PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU DALAM PEMBELAJARAN

    Posted on November 29th, 2010 tobroni No comments

    Oleh Prof. Dr. Tobroni,  M.Si.

    1. Beberapa Istilah Untuk “Guru”

    Dalam hazanah pemikiran Islam, istilah guru memiliki beberapa istilah seperti “ustadz”, “mu’allim”, “muaddib” ,  “murabbi” dan “mursyid”. Beberapa istilah untuk sebutan “guru” itu berkait dengan beberapa istilah untuk pendidikan yaitu “ta’lim”, ta’dib” dan “tarbiyah” sebagaimana telah dikemukakan terdahulu. Istilah mu’allim lebih menekankan guru sebagai pengajar, penyampai pengetahuan (knowlwdge) dan ilmu (science); istilah mu’addib lebih menekankan guru sebagai pembina moralitas dan akhlak peserta didik dengan keteladanan; dan istilah murabbi lebih menekankan pengembangan dan pemeliharaan baik spek jasmaniah maupun ruhaniah. Sedangkan istilah yang umum dipakai dan memiliki cakupan makna yang luas dan netral adalah ustadz yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “guru”.

    Dalam bahasa Indonesia terdapat  istilah guru, disamping istilah  pengajar dan  pendidik. Dua istilah terakhir  yang merupakan bagian tugas terpenting dari guru yaitu mengajar dan sekaligus mendidik siswanya. Walaupun antara guru dan ustadz pengertiannya sama, namun dalam praktek khususnya di lingkungan sekolah-sekolah Islam,  istilah guru dipakai secara umum, sedangkan istilah ustadz dipakai untuk sebutan guru khusus yaitu yang  memiliki pengetahuan dan pengamalan agama yang “mendalam”. Dalam wacana yang lebih luas, istilah guru bukan hanya terbatas pada lembaga persekolahan atau lembaga keguruan semata. Istilah guru sering dikaitkan dengan istilah bangsa sehingga menjadi guru bangsa. Istilah guru bangsa muncul ketika sebuah bangsa mengalami kegoncangan struktural dan kultural sehingga hampir-hampir terjerumus dalam kehancuran. Guru Bangsa adalah orang yang dengan keluasan  pengetahuan, keteguhan komitmen dan kebesaran jiwa dan pengaruh serta keteladanannya dapat mencerahkan bangsa dari kegelapan. Guru bangsa dapat lahir dari ulama/agamawan, intelektual, pengusaha pejuang, birokrat dan lain-lain. Pendek kata, dalam istilah guru mengandung nilai,  kedudukan dan peranan  mulia. Karena itu di dunia ini banyak orang yang bekerja sebagai guru, akan tetapi mungkin hanya sedikit yang bisa menjadi guru yaitu yang bisa  digugu dan ditiru.

    2. Kedudukan Guru.

    Hampir di semua bangsa yang beradab, guru diakui sebagai suatu profesi khusus. Dikatakan demikian karena profesi keguruan bukan saja memerlukan keahlian tertentu sebagaimana profesi lain[i], tetapi juga mengemban misi yang paling berharga yaitu pendidikan dan peradaban. Atas dasar itu dalam kebudayaan bangsa yang beradab guru senantiasa diagungkan, disanjung, dikagumi, dihormati karena perannya yang penting bagi eksistensi bangsa di masa depan.

    Telah banyak peneliti dan penulis buku tentang pendidikan Islam yang menkaji tentang kedudukan guru dalam pendidikan Islam. Para penulis itu antara lain seperti AlGhazali, M. Athiyah al-Abrasyi, Asama Hasan Fahmi, M. Zafar Iqbal telah mengemukakan kedudukan guru yang sangat mulia dalam pandangan Islam. Pada umumnya mereka mengemukakan kemuliaan  guru secara normatif berdasarkan pandangan Al-Qur’an,  al-Sunnah dan pandangan para ulama, dan hanya sedikit yang mengkaji dari perspektif kedudukan guru secara sosiologis yang meliputi status sosial dan perannya  di masyarakat dan tanggungjawab masyarakat dan  pemerintah terhadap guru.

    Secara normatif kedudukan guru dalam Islam sangat mulia. Tidak sedikit penulis yang menyimpulkan kedudukan guru setingkat di bawah kedudukan Nabi dan Rasul,  seraya mengemukakan Hadits Nabi dan perkataan ulama: “Tinta para ulama lebih baik dari darahnya para syuhada”. Penyair Syauki sebagaimana dikutip al-Abrasyi berkata:

    Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang Rasul”[ii].

    Hampir bisa dipastikan bahwa yang dimaksud guru sebagaimana dalam Hadits dan syair di atas adalah seorang ulama yang sempurna (al-ulama al-rasyidun), yaitu seorang guru yang telah tercerahkan dan mampu mencerahkan muridnya, bukan semata-mata guru sebagai pekerja yang menjadikan pekerjaan mengajar semata-mata sebagai media mencari nafkah. Kedudukan guru memang terhormat dan mulia apabila yang menduduki jabatan itu juga orang terhormat dan mulia. Sebab kehormatan dan kemuliaan itu tidak hanya terkait secara struktural, tetapi yang lebih penting adalah secara substansial dan fungsional. Itulah sebabnya para tokoh pendidikan Islam menetapkan kode etik dan persyaratan untuk menduduki jabatan guru agar kedudukan yang mulia itu benar-benar diisi oleh orang yang mulia atau minimal tidak merendahkan kedudukan dan martabatnya itu.

    Penghargaan Islam yang tinggi terhadap guru (pengajar) dan termasuk penuntut ilmu (terdidik) sebenarnya tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan penghargaan islam terhadap ilmu pengetahuan dan akhlak. Ini berarti bahwa guru yang memiliki kedudukan mulia adalah guru yang menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki akhlak dan mampu memberdayakan si terdidik dengan ilmu dan akhlaknya itu. Karena itu seseorang menjadi mulia bukan semata-mata secara struktural sebagai guru, melainkan secara substansial memang mulia dan secara fungsional mampu memerankan fungsi keguruannya yaitu mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan bangsa.

    3. Tugas Guru

    Daoed Joesoep, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1978-1983 mengemukakan tiga misi atau fungsi guru: fungsi profesional, fungsi  kemanusiaan dan fungsi civic mission. Fungsi profesional dalam arti guru meneruskan ilmu/keterampilan/pengalaman  yang dimilikinya/dipelajarinya kepada anak didiknya. Fungsi kemanusiaan dalam arti berusaha mengembangkan/membina segala potensi bakat/pembawaan yang ada pada diri si anak serta membentuk wajah ilahi dalam dirinya. Fungsi civic mission dalam arti guru wajib menjadikan anak didiknya menjadi warga negara yang baik, yaitu yang berjiwa patriotime, mempunyai semangat kebangsaan nasional, dan disiplin/taat terhadap semua peraturan perudang-undangan yang berlaku atas dasar Pancasila dan UUD 1945[iii]. Sedangkan tugas guru sebagai penjabaran dari misi dan fungsi yang diembannya menurut Darji Darmodiharjo minimal ada tiga: mendidik, mengajar dan melatih. Tugas mendidik lebih menekankan pada pembentukan jiwa, karakter, kepribadian berdasankan nilai-nilai; Tugas mengajar lebih menekankan pada pengembangan kemampuan penalaran, dan tugas melatih menekankan pada pengembangan kemampuan penerapan teknologi dengan cara melatih berbagai keterampilan[iv].

    Dalam perspektif Islam, mengemban amanat sebagai guru bukan terbatas pada pekerjaan atau jabatan seseorang, melainkan memiliki dimensi nilai yang lebih luas dan agung yaitu tugas ketuhanan, kerasulan dan kemanusiaan. Dikatakan sebagai tugas ketuhanan karena mendidik merupakan sifat “fungsional” Allah (sifat rububiyah) sebagai “Rabb” yaitu sebagai “guru” bagi semua makhluk. Allah mengajar semua makhluknya lewat tanda-tanda alam (sign), dengan menurunkan wahyu, mengutus rasul-Nya dan lewat hamba-hambanya. Allah memanggil hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mendidik.

    Guru juga mengemban tugas kerasulan, yaitu menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada umat manusia. Secara lebih khusus tugas Nabi dalam kaitannya dengan pendidikan sebagaimana tercantum dalam surat Jum’ah ayat 2:

    Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.

    Ayat di atas menggambarkan bahwa tugas Rasul adalah melakukan pencerahan, pemberdayaan, transformasi dan mobilisasi potensi umat menuju kepada cahaya (nur) setelah sekian lama terbelenggu dalam kegelapan. Rasulullah sendiri dalam Haditsnya yang populer mengatakan: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”, dan dalam Haditsnya yang lain beliau bersabda: “aku diutus sebagai pendidik”, dan “Tuhanku mendidikku dan karenanya menjadikan pendidikanku yang terbaik”.

    Tugas kerasulan tidak berhenti dengan wafatnya Muhammad saw., melainkan diteruskan oleh seluruh umatnya yang beriman dengan cara meneruskan risalahnya kepada seluruh umat manusia. Dalam kehidupan keluarga, orangtua adalah guru bagi anak-anaknya. Dan dalam kehidupan masyarakat yang telah mengenal pembagian kerja, lembaga  persekolahan adalah salah satu upaya yang paling efektif dalam melanjutkan risalah Muhammad kepada generasi muda dimana guru merupakan aktor utamanya.

    Sedangkan tugas kemanusiaan seorang guru harus terpanggil untuk membimbing, melayani, mengarahkan, menolong, memotivasi dan memberdayakan sesama khususnya anak didiknya sebagai sebuah keterpanggilan kemanusiaan dan bukan semata-mata terkait dengan tugas formal atau pekerjaannya sebagai guru. Sehingga guru benar-benar mampu, ikhlas (sepenuh hati) dan penuh dedikasi dalam menjalankan tugas keguruannya.

    Dalam lembaga persekolahan, tugas utama guru adalah mendidik dan mengajar. Dan agar tugas utama tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, maka ia perlu memiliki kualifikasi tertentu yaitu profesionalisme: memiliki kompetensi dalam ilmu pengetahuan, kredibilitas moral, dedikasi dalam menjalankan tugas,  kematangan jiwa (kedewasaan) dan  memiliki keterampilan teknis mengajar, mampu membangkitkan etos dan motivasi anak didik dalam belajar dan meraih kesuksesan. Dengan kualifikasi tersebut diharapkan guru dapat menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar mulai dari perencanakan program pembelajaran, mampu memberikan keteladanan dalam banyak hal, mampu menggerakkan etos anak didik sampai pada evaluasi.

    1. 4. Pemberdayaan Guru.

    Dalam proses pembelajaran di sekolah, terutama sekolah dasar,  guru merupakan sumber daya edukatif dan sekaligus aktor proses pembelajaran  yang utama. Karena itu upaya pemberdayaan guru adalah niscaya berdasarkan hal-hal berikut: pertama, peran guru sebagai sumber edukatif yang utama tak akan pernah tergantikan walaupun perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi pembelajaran mengalami perkembangan sangat pesat. Perubahan cepat dalam teknologi informasi dan teknologi pembelajaran bukan menjadi penghalang bagi guru sebagai sumber dan aktor pendidikan yang utama, melainkan menjadi tantangan yang menuntut kompetensi profesional guru yang lebih tinggi. Kedua, era otonomi daerah dan penyelenggaraan pendidikan yang berbasis masyarakat (Community-Based Education) menuntut  pertanggungjkawaban proses penyelenggaraan pendidikan dan proses pembelajaran di sekolah secara transparansi. Karena itu guru yang memiliki kompetensi profesional yang rendah tidak akan bisa mempertanggungjawabkan hasil pembelajaran.

    Ketiga, perubahan sosial diikuti dengan perubahan tuntutan masyarakat terhadap kompetensi lulusan pendidikan. UNESCO misalnya memprediksi bahwa pendidikan di abad 21 akan berbeda dengan abad sebelumnya. UNESCO merekomendasikan The Four Pillars of Education, yaitu lerning to know, learning to do, Learning to live together, dan learning to be. Penerapan learning to know menuntut penerapan teknologi pembelajaran dan teknologi informasi dalam pembelajaran dan penerapan prinsip pendidikan sepanjang hayat (Live long education). Penerapan learning to do di masa depan bukan sekedar mengembang kemampuan  keterampilan fisik, lebih dari itu harus dibarengi dengan kemampuan menjalin hubungan interpersonal, yang  (kemampuan itu) muncul dari terbentuknya kecerdasar emosional (emotional intelligence) pada diri anak didik. Perwujudan lerning to live together merupakan keniscayaan dari era globalisasi dimana dialektika antar budaya yang hidup (living culture) dalam arena pasar bebas akan menimbulkan kerawanan konflik antar kelompok budaya. Siswa perlu dibekali untuk saling berempati terhadap keragaman budaya sekaligus memelihara kebudayaan sendiri. Dan learning to be bertujuan untuk membentuk pengajar dan pembelajar memiliki integritas kepribadian dalam hubungannya dengan orang lain dan sekaligus memiliki kearifan dan hikmah dalam mensikapi lingkungannya[v].

    Untuk mewujudkan keempat pilar pendidikan tersebut dalam proses pembelajaran diperlukan guru yang memiliki kompetensi profesional yang tinggi, pengalaman dan pengetahuan yang luas. Sementara itu faktor-faktor lain seperti fisik dan fasilitas, kurikulum dan lingkungan pada dasarnya hanyalah sebagai sarana pendukung agar guru dapat menjalankan tugasnya secara efektif mencapai tujuan pendidikan. Meskipun dalam kenyataan tidak sedikit lembaga pendidikan yang lebih memprioritaskan membangun gedung dan fasilitas lain yang mewah sementara gurunya kurang diperhatikan. Padahal tanpa guru yang berkualitas, gedung dan fasilitas lain tidak akan ada gunanya  dan lebih dari itu proses pendidikan akan mengalami stagnasi  bahkan mengalami kebangkrutan.

    Dalam konteks Indonesia dimana guru berada dalam berbagai  ketidakberdayaan, upaya pemberdayaan dinilai sebagai suatu yang mendesak. Upaya pemberdayaan guru dapat dilakukan dengan  beberapa pendekatan dan langkah-langkah.

    Pendekatan Pemberdayaan guru

    Upaya-upaya pemberdayaan secara umum  dapat dilakukan dengan beberapa cara. Kalau upaya pemberdayaan itu diakwivalenkan dengan pembangunan atau modernisasi, M. Farcis Abraham mengemukakan beberapa pendekatan:  pendekatan struktural, pendekatan kultural, pendekatan psikologis, pendekatan konflik dan pendekatan proses[vi].  Sementara kalau upaya pemberdayaan itu diakwivalenkan dengan perubahan sosial, Zaltman membagi dalam tiga strategi: strategi fasilitatif (facilitative strategies) strategi pendidikan (reeducative strategies) dan strategi paksaan (power strategies)[vii]. Mikkelsen lebih menekankan dua pendekatan dalam upaya pemberdayaan yaitu pendekatan dari bawah ke atas (bottom up approach) dan pendekatan partisipasi ( participatory approach)[viii]. Dalam Perspektif sistem organisasi, upaya-upaya pemberdayaan dalam rangka mengelola keefektifan individu, kelompok dan organisasi, Gibson, Ivancevich dan Donnelly,demikian juga Robins mengemukakan sedikitnya tiga pendekatan: pendekatan menurut tujuan (organisasi), pendekatan teori sistem (organisasi)  dan pendekatan budaya organisasi[ix]

    Menurut Gaff dan Smith sebagaimana dikutip Hadikoemoro mengatakan, pemberdayaan guru biasanya menggunakan tiga pendekatan: pendekatan personal, pendekatan instruksional dan pendekatan organisasional[x]. Pendekatan personal lebih menekankan pada aspek-aspek seperti efektifitas mengajar, pengembangan profesional, pertumbuhan pribadi serta peningkatan kemampuan teknik dan keterampilan mengajar. Pendekatan instruksional ditekankan pada perbaikan pengajaran (instruksional) seperti:  pengembangan kurikulum, desain dan sistem oembelajaran, bahan-bahan pelajaran, pengembangan teori ke arah efektifitas belajar siswa, media dan teknologi pembelajaran. Sementara itu pendekatan organisasional memfokuskan pada lingkungan dan suasana dimana para komunitas sekolah (guru, murid, pimpinan dan karyawan) berada. Pendekatan organisasional mencakup pembinaan tim, pemecahan masalah, dinamika kelompok, hubungan antar kelompok, perilaku individu dan kelompok dalam suatu lingkungan organisasi, keterampilan komunikasi, dan hal-hal lain yang menyangkut proses-proses interpersonal yang menunjang proses pembelajaran di sekolah.

    Pendekatan organisasional menurut Hadikoemoro lebih lanjut  memang tidak ada kaitannya secara langsung dengan kualitas guru karena program-programnya tidak secara langsung berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran di kelas. Pendekatan organisasional tekanannya pada penciptaan kondisi yang kondusif seperti sistem dan budaya organisasi yang efektif, hubungan interpersonal antar komponen organisasi yang sehat, kesejahteraan personal yang baik, pengembangan karier yang lancar, kepuasan kerja  dan lain sebagainya.

    Pemberdayaan guru dengan pendekatan organisasional didasari oleh proposisi: (1) Lingkungan, suasana dan budaya sekolah merupakan persoalan yang mendasar, dan menentukan hal-hal lain. Lingkungan,  suasana dan budaya  kerja yang kondusif dan menentukan perilaku individu-individu yang ada di adalamnya. Sekolah diharapkan menjadi learning society dan menjadi reinforcemen dan bahkan menjadi daya paksa bagi pembentukan perilaku guru, murid, pimpinan dan karyawan sebagaimana diharapkan; (2)  Suatu organisasi merupakan suatu sistem yang dinamik dari komponen-kpmponen yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Perubahan dalam salah satu komponen dari sistem akan mempengaruhi dan membutuhkan adanya perubahan pada komponen yang lain. Oleh karena itu upaya untuk memberdayakan guru berupa peningkatan kemampuan dan profesionalisme, peningkatan kesejahteraan, pengembangan karier, dan pengembangan aspek pribadi guru lainnya, harus didukung oleh perubahan-perubahan pada komponen-komponen lainnya.

    Organisasi sekolah biasanya dianggap memiliki  ciri-ciri khusus yang oleh Bidwell dianggap sebagai organisasi dengan struktur yang longgar dan berkecenderungan untuk mengurangi desakan-desakan ke arah birokratisasi. [xi]. Kelonggaran itu berupa otonomi guru dalam menentukan metode pembelajaran di kelas yang sangat tergantung pada kreativitas guru secara pribadi, walaupun harus mengikuti kaidah-kaidah umum, dan  kelonggaran struktural yang ditandai dengan tidak adanya hierarki jabatan yang ketat. Pendek kata, prinsip-prinsip birokrasi sebagaimana dikemukakan weber tidak bisa dijadikan ukuran efektifitas dalam organisasi sekolah.

    Pemberdayaan guru juga efektif dengan menggunakan pendekatan partisipasi. Bahkan konsep pemberdayaan  (empowerment) itu pada dasarnya berisi partisipasi (involvement). Pemberdayaan guru dapat terjadi apabila ada partisipasi aktif dalam proses perencanaan,  dan kegiatan sekolah. Dalam partisipasi setiap guru di-reinforcement, didorong, diberi kesempatan dan  difasilitasi agar bisa memberikan sumbangan pemikiran, mengadakan inovasi dan kreativitas sehingga dapat mengembangkan dan memberdayakan dirinya. Tanpa adanya partisipasi seperti itu pemberdayaan guru sulit dan bahkan tidak akan terjadi. Pemberdayaan tidak akan terjadi semata-mata melalui cara-cara top down seperti  perintah, petunjuk dan pengarahan. Partisipasi aktif yang didasari oleh motivasi intrinsik dan didukung oleh iklim dan suasana organisasi yang sehat merupakan dua faktor bagi berkembangnya  kreativitas. keberhasilan mewujudkan sekolah yang efektif akan terwujud apabila ada partisipasi dan keberdayaan semua komunitas sekolah khususnya guru. .

    4.2. Langkah-langkah Pemeberdayaan.

    Secara praktis, langkah-langkah pemberdayaan guru dapat dilaksanakan berdasarkan  pada hasil analisis atas berbagai persoalan yang menjadi sumber atau menyebabkan ketidakberdayaan. Sumber itu bisa dari guru yang bersangkutan (faktor internal) maupun dari sistem organisasi sekolah (faktor internal). Sedangkan secara teoritis, langkah-langkah  pemberdayaan guru dapat dikemukakan di sini berdasarkan pada persoalan yang dihadapi guru pada umumnya.

    Kelompok kerja guru dan tenaga kependidikan mengemukakan langkah-langkah pemberdayaan guru berdasarkan hasil analisis atas kondisi guru di Indonesia: Peningkatan kesejahteraan guru, pengembangan karier guru, peningkatan kemampuan guru dan upaya mengatasi beban psikologis guru[xii].

    1) Peningkatan Kesejahteraan Guru.

    Peningkatan kesejahteraan dapat berupa kesejahteraan kesejahteraan ekstrinsik dan intrinsik. Kesejahteraan ekstrinsik terkait dengan gaji yang layak yang minimal dapat memenuhi kebutuhan fisik (faali/fisiologis) yang menurut Maslow sebagaimana dikutip Robins meliputi: rasa lapar, haus, perlindungan (pakaian, perumahan), seks, dan kebutuhan ragawi lainnya[xiii]. Walaupun besarnya gaji diyakini sangat menentukan tingkat kesejahteraan, namun bukanlah satu-satunya. Seandainya kemampuan lembaga terbatas untuk memberikan gaji yang memadai, lembaga dapat melakukan cara-cara lain dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia lainnya sebagaimana dikemukakan Maslow. Kebutuhan itu meliputi: jaminan keamanan (fisik dan emosional), sosial (kasih sayang, rasa memiliki, diterima-baik, dan persahabatan), perhargaan (penghargaan internal seperti harga diri, otonomi dan  prestasi; dan faktor hormat eksternal seperti misalnya status, pengakuan dan perhatian), dan aktualisasi diri (dorongan untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi; mencakup pertumbuhan, mencapai potensialnya, dan pemenuhan-diri).

    2) Pengembangan Karier Guru.

    Pengembangan karier antara lain dapat dilakukan dengan sistem promosi terbuka dan jujur sehingga membuka peluang untuk berkompetisi secara fairness diantara sesama guru.  Berbagai jenis lomba dan penghargaan bagi guru berprestasi perlu dibudayakan. Jabatan-jabatan struktural yang strategis dan puncak jabatan fungsional yang dapat dijabat oleh guru dikembangkan baik dengan memformalkan posisi yang telah ada sekarang maupun dengan mengembangkan posisi baru yang memang dibutuhkan sejalan dengan dinamika organisasi sekolah.

    3) Peningkatan Kemampuan Para Guru.

    Peningkatan kemampuan profesional guru dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti: pendidikan lanjutan dalam jabatan, inservice traing , pembentukan wadah-wadah peningkatan kualitas guru seperti penyeliaan, pemantapan kerja guru (PKG) dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). Sekolah perlu mengakses informasi yang berkaitan dengan peningkatan kemampuan guru majalah, jurnal, internet dan lain sebagainya.

    4) Mengatasi Beban Psikologis Guru.

    Guru memiliki beban psikologis yang berat akibat tugas-tugas berat dan kompleks yang harus dilaksanakan, tanggungjawab yang dipikulkan, kemampuan yang terbatas dan gaji yang kecil. Atas dasar itu sekolah perlu kembangkan pembinaan guru secara orang per orang (individualized) dan bersifat pendekatan pribadi (personalized approach) untuk memenuhi kebutuhan masing-masing guru.

    5. Guru yang Efektif

    Guru yang efektif (effective teacher) adalah yang dapat menunaikan tugas dan fungsinya secara profesional. Untuk dapat melaksanakan tugas secara profesional diperlukan berbagai persyaratan seperti: kompetensi akademik, kompetensi metodologis, kematangan pribadi,  sikap penuh dedikasi, kesejahteraan yang memadai , pengembangan karier, dan budaya kerja dan suasana kerja yang kondusif.

    Dalam pandangan Islam, disamping syarat-syarat di atas, seorang guru haruslah seorang yang bertaqwa, yaitu beriman, berilmu dan berakhlakul karimah sehingga tidak saja efektif dalam mengajar tetapi juga efektif dalam mendidik. Sebab mendidik dengan keteladanan lebih efektif dari pada mengajar dengan perkataan (lisan al-hal afshahu min lisan al-maqal).

    Karakteristik guru yang efektif sebenarnya mengandung banyak pertanyaan, mengingat tidak adanya kesepakatan diantara para guru, murid, orangtua dan administrator tentang peran yang harus dimainkan oleh guru. Di lingkungan perguruan tinggi, ruang lingkup tugas guru (dosen) tercantum dalam “Tri Dharma Perguruan Tinggi”, yaitu: pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Guru pada jenjang yang lebih rendah memiliki tugas yang tidak jauh berbeda dengan dosen di perguruan tinggi bahkan menurup Supriadi sebenarnya tidak ada perbedaan yang asasi[xiv]. Perbedaannya bukan terletak pada jenis peran yang dimainkan melainkan pada intensitas peran yang dimainkan. Tampubolon menyebutkan gradasi intensitas peran guru berdasarkan jenjang pendidikan, yaitu sebagai: orangtua/pendidik, orangtua/pengajar, pemimpin/menejer, produsen/pelayan, pembimbing/fasilitator, motivator/ stimulator dan peneliti/narasumber[xv]. Guru juga berperan sebagai administrator sekolah, supervisor dan  konselor.  Secara umum, makin rendah jenjang pendidikan semakin besar perannya sebagai pendidik dan pengajar, begitu sebaliknya.

    Walaupun tugas guru sangat kompleks, namun peran sebagai sumber educational dan instruksional tetap yang utama. Karena itu walaupun tidak mudah untuk melakukan penilaian terhadap peran guru yang efektif secara keseluruhan, namun pada  peran utamanyalah yang biasanya dapat diidentifikasi. Wragg mengemukakan guru yang efektif atau guru yang baik berdasarkan pada anggapan umum adalah guru yang tekun, bergairah (entusiastik), tertip, tegas tetapi adil, menguasai materi, dan peduli akan kesejahteraan murid-muridnya[xvi]. Selanjutnya Wragg mengemukakan ciri-ciri guru yang efektif: pertama, mampu menentukan strategi ada yang dipakai yang memungkinkan murid belajar; kedua, memudahkan murid mempelajari sesuatu yang bermanfaat seperti fakta, keterampilan, nilai, konsep dan bagaiamana hidup serasi dengan sesama; ketiga, guru memiliki keterampilan profesional dan mampu mengejawantahkan keterampilannya secara konsisten, bukan hanya atas dasar sekenanya; keempat, keterampilan tersebut diakui oleh oleh mereka yang berkompeten seperti guru, pelatih guru, pengawas atau penilik sekolah, tutor dan guru pemandu mata pelajaran atau bahkan murid-murid sendiri.

    Bagaimana guru yang efektif menurut pandangan murid ? Survey UNESCO terhadap anak usia 8-12 tahun dari 50 negara dapat disimpulkan, guru yang efektif memiliki karakteristik: (1) hubungan guru murid: bersahabat, menjadi mitra belajar sambil menghibur murid, menyayangi murid sebagaimana anaknya sendiri, adil, dan memahami kebutuhan setiap anak dan berusaha memberikan yang terbaik untuk muridnya, mmampu membantu anak didik menuju kedewasaan; (2) berkaitan dengan tugasnya sebagai guru: mencintai pekerjaannya, cakap secara akademik, mampu menerangkan dengan jelas, mampu merangsang siswa untuk belajar, mampu memberikan kepada siswa sesuatu yang paling berharga, mampu menjadikan kelas sebagai lingkungan yang menyenangkan; (3) berkaitan dengan sikap dan kepribadian: berpenampilan menarik, tidak terlalu kaku, bisa menjadi teladan bagi siswanya[xvii].

    Sementara itu Davis dan Thomas[xviii] mengemukakan karakteristik guru dan pengajaran yang efektif ditinjau dari berbagai aspek seperti iklim kelas (climate classroom), menejemen (management), umpan balik dan penguatan (feedback and reinforcement), pembaharuan diri dan pengembangan staf (self-renewal and staffdevelopment).

    1)        beberapa  hal berdasarkan penelitian berkorelasi dengan keefektifan guru dalam hal iklim situasi kelas mencakup hal-hal di bawah:

    (1)   Mempunyai interpersonal yang kuat, khususnya empati, respek dan kesungguhan

    (2)   Mempunyai hubungan yang baik dengan siswa

    (3)   Kesungguhan dalam menerima dan peduli terhadap anak didik/ siswa

    (4)   Mengekspresikan keterarikan dan antusiasme

    (5)   Menciptakan suatu atmosfer kebersamaan dan kepaduan kelompok

    (6)   Mengikutsertakan siswa dalam pengaturan dan perencanaan

    (7)   Mendengarkan siswa dan menghormati hak mereka untuk berbicara dalam resitasi dan diskusi

    (8)   Meminimalkan perselisihan dalam setiap hal

    2) Beberapa strategi pengaturan management dari guru yang efektif meliputi

    (1)   Mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan ketidak perhatian

    (2)   Bertanya atau mengajukan tugas-tugas yang membutuhkan tingkat pemikiran yang berbeda.

    3) Yang termasuk dalam area feedback dan reinforcement(penguatan)

    (1)   Memberikan feedback yang positif terhadap respon-respon siswa

    (2)   Memberikan respon yang sifatnya mendukung terhadap siswa yang berkemampuan rendah

    (3)   Berusaha untuk meningkatkan memperbaiki jawaban-jawaban memuaskan (e. g., with follw – aup questions)

    (4)   Memberikan bantuan apa bila di perlukan

    4) Beberapa ciri dari pembaharuan dan pengembangan staff meliputi

    (1)   Menggunakan kurikulum dan metode pengajaran yang inovatif

    (2)   Secara berkelanjutan mengembangkan kecakapan seseorang dalam metode mengajar

    (3)   Menggunakan perencanaan kelompok guru untuk menciptakan atau mencari metode pengajaran alternatif


    [i]Zamroni menyebut profesi guru sebagai soft profession, yaitu suatu profesi yang memerlukan kadar seni dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Lihat, Zamroni, Paradigma Pendidikan Masa Depan, Yogyakarta: Bigraf, 2001, hal 61.

    2. M. Athiyyah al-Abrasyi, ibid. hal. 135-136.

    [iii]3. Daoed Joesoep, Guru Adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, dalam Pengabdianku, Jakarta: Panitia Nasional Pemilihan Guru Teladan, 1981, hal ix.

    [iv]4.  Darji Darmodiharjo, Pengabdianku, ibid. hal. xii-xiii.

    5. Wuri Soedjatmiko, Pendidikan Tinggi dan Demokrasi, dalam Sindhunata (editor), Menggagas Paradigma Baru Pendidikan, Yogyakarta: Kanisius, 2000, hal. 55-58. Lihat juga Gordon Dryden and Jeannette Vos, The Learning Revolution, Torance: The Learning Web, 1999, P. 140-141.

    6 Lihat, M. Francis Abraham, Perspectives on Modernization: Toward a General Theory of World Development, Washington: University of America, 1980.

    7.  Gerald Zaltman and Robert Duncan, Strategies for Planed Change, New York: Interscience Publication John Wiley and Sons, 1977, p. 111-163.

    8. Britha Mikkelsen, Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan,  Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999, hal. 48 dan 148.

    9. Lihat Gibson, Ivanchevich dan Donelly, Organisasi, Perilaku, Proses, Jakarta: Erlangga, edisi kelima, 1992. Lihat juga Stephen P. Robins, Perilaku Organisasi Konsep, Kontroversi, Aplikasi, jakarta: Prenhallindo, 1996.

    10. Soeekisno Hadikoemoro, Pembinaan Dosen Perguruan Tinggi Swasta: Pemantapan Bidang Pendidikan dan Pengajaran, JakartaDirjen Dikti Depdikbud, 1982, hal. 13-15.

    11. C.E. Bidwell, The Scool as a Formal Organization, dalam J.G. March (ed.), Handbook of Organization, Cichago: Rand McNally, 1965.

    12. Fasli Jalal dan Dedi Supriyadi, Reformasi Pendidikan DalamKonteks Otonomi Daerah, Yogyakarta: Adi Cita, 2001, hal. 344-345.

    13. Stephen P. Robins, Perilaku Organisasi: Konsep, Kontroversi Aplikasi, Jakarta: Prenhallindo, 1996, 199.

    14. Dedi Supriadi, Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Yogyakarta: Adi Cita Karya Nusa, 1999.

    15. Daulat P. Tampubolon, ibid, hal 175.

    16. E.C. Wragg, Primary Teaching Skills, London: Rontledge, 1997, hal. 9.

    17. UNESCO, What Makes a Good Theacher? Children Speak Their Mind, Paris, 1996.

    [xviii].  Gary A. Davis and Margaret A. Thomas, Effective Schools and Effective Teachers, Boston: Allyn and Bacon, 1989, hal. 147-148.

    Leave a reply

    Captcha Garb (1.5)