Prof. Dr. Tobroni, M.Si. Blog
RSS icon Email icon
  • SPIRITUAL LEADERSHIP The Problem Solver Krisis Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam

    Posted on November 29th, 2010 tobroni No comments

    Oleh Prof. Dr. Tobroni, M.Si.[1]

    The mind issue of this paper is to describe the spiritual leadership or leadership SQ. Spiritual leadership  in my opinion is the problem solver crisis of leadership in Islamic Education.  Experts in emotional spiritual quotient (ESQ) like Zohar and Agustian argue that  spirituality has extraordinary power which enables human beings to solve any problems. Experts in religious ethics like Weber and Izutsu state that religious ethics is the formation     base for morality and behavior. Behavior of people which tends to asceticism or mysticism depends on ethic values that become basic for morality. Effectiveness of human behavior that results in achievement, depends on spirituality and religious ethics. In this aericle, interrelation between spirituality, religious ethics and asceticism in the human being will make spiritual leadership.

    The conclusions of this article are: first, dominant power in Islamic education development depends on cultural power. The cultural power depends on leadership and the leadership power depends on the commitment of the leaders in  the religious ethics that derives from ethical behavior of God to human beings. These are spiritual leaders who can present God in their hearts and therefore, their souls become calm (nafs al-mutmainnah), their hearts become clean and peaceful (qalbun munîb, qalbun salîm), their minds become healthy and bright (aql ul-salîm) and their bodies become healthy (jism ul-salîm). The one meaning of a spiritual leader is the leader that has intellectual, emotional and spiritual intelligence. Because they have close relationship with worldly spirit, super natural and Ilahi, they can manage emotion and their hearts become calm and peaceful; God Sport is open, conscience and spirituality are working fully; bright minds and logic work normally and IQ, EQ and SQ are integrated to produce the ultimate intelligence.

    Second, spiritual leadership is the leadership that is based on piety, leadership by holy war spirit and total leadership. Their hearts, heads and hands are used for serving and obedience for the sake of God (mardlôtillah).

    Third, Spiritual leadership proves to be able to make effective school. The standard of effectiveness in this research is based on three perspectives: conducive school organization culture; effective school organization process and learning innovation.

    Forth, spirituality that develops in the leadership is ascetic spirituality. Ascetic spirituality is intensity obedience to God resulting in good deed.

    A. Pendahuluan

    Tulisan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan tentang keberadaan lembaga pendidikan Islam[2] di tanah air yang sebagian besar mutunya belum menggembirakan.[3] Semangat umat untuk menyelenggarakan pendidikan sebenarnya sangat tinggi yang ditandai dengan banyaknya jumlah lembaga pendidikan Islam. Akan tetapi semangat yang tinggi tersebut seringkali kurang disertai dengan sikap profesionalisme dalam penyelenggaraan sehingga pendidikan Islam di tanah air sebagian besar berada dalam siklus negatif atau lingkaran setan permasalahan (not solvable problem). Siswa sedikit dan bermutu rendah, fisik dan fasilitas minim, kualitas, profesionalisme dan gaji guru rendah, proses pembelajaran tidak efektif, kualitas out put rendah, kepercayaan masyarakat rendah dan seterusnya.

    Untuk memecahkan permasalahan tersebut dan sekaligus dalam rangka melakukan pembaharuan pendidikan Islam menjadi sekolah yang baik (good school) atau sekolah yang efektif (effective school) atau sekolah unggul (excellence school), bukan sekedar membutuhkan berbagai teori modernisasi dan pemberdayaan, melainkan jihad; yaitu usaha kerja keras lahir dan batin, penuh kesungguhan, keihlasan, pengorbanan, kepahlawanan,  keteladanan dan kepedulian  dengan memobilisasi segala sumber daya untuk mencapai suatu cita-cita bersama, suci dan luhur.  Jihad dengan demikian merupakan kata kunci (key word) untuk merubah kondisi pendidikan Islam dari tidak diminati menjadi berprestasi, dari tidak berkualitas menjadi berkualitas, dari tidak berdaya menjadi berdaya. Beratnya perjuangan untuk melakukan perubahan terhadap pendidikan Islam disebabkan kondisi pendidikan Islam yang sebagian besar menghadapi siklus negatip atau terbelenggu oleh lingkaran setan ketidakberdayaan.

    Pembaharuan suatu lembaga pendidikan perlu lebih ditekankan pada  faktor budaya yang antara lain berupa kepemimpinan kepala sekolah yang kuat (strong leadership).  Kepemimpinan yang kuat adalah kepemimpinan yang visioner, mampu membangun budaya dan proses orgasisasi yang efektif dan iklim pembelajaran yang kondusif.

    Beberapa hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara kepemimpinan pendidikan yang efektif dengan sekolah yang efektif. Penelitian Edmonds mengemukakan, sekolah-sekolah yang dinamis yang senantiasa berupaya meningkatkan prestasi kerjanya dipimpin oleh kepala sekolah yang baik[4] dan penelitian Hallinger dan Lithwood yang menyimpulkan bahwa sekolah yang efektif senantiasa dipimpin oleh kepala sekolah yang efektif pula.[5] Kedua penelitian tersebut didasarkan pada asumsi bahwa kepala sekolah  merupakan pemimpin dan salah satu agen perubahan sekolah yang terpenting. Kepala sekolah yang memiliki kepemimpinan yang kuat menurut Blumberg dan Greenfield mampu memerankan diri dalam delapan peran: organisator (the organizer), pengakrobat berdasarkan nilai (the value-based juggler), penolong sejati (the authentic helper), perantara (the broker), humanis (the humanist), katalis (the catalyst), rasionalis (the rationalist), dan politicus (the politician).[6]

    Persoalannya adalah model kepemimpinan yang bagaimana yang cocok dan mampu merubah pendidikan Islam yang sebagian besar terbelenggu dalam lingkaran ketidakberdayaan (siklus negatip) menjadi lingkaran keberdayaan (siklus positip)?, kepemimpinan yang mampu mengembangkan ruh al-jihâd?  kepemimpinan yang mampu mengembangkan pendidikan Islam menjadi pendidikan yang efektif? Model kepemimpinan yang dimaksud tentu bukan model kepemimpinan yang biasa, melainkan kepemimpinan yang luar biasa. Model kepemimpinan apakah itu?.[7]

    Model kepemimpinan itu menurut Percy  adalah “the leadership SQ” atau  “kepemimpinan spiritual”[viii] atau “the corporate mystic” menurut Hendricks dan Ludeman[ix], “kepemimpinan dimensi keempat” menurut Herry Tjahjono,[x], “kepemimpinan yang mengembangkan kecerdasan emosi” menurut Coleman[xi], “executive EQ” menurut Cooper dan Sawaf[xii] dan powerful leaders menurut Ary Ginanjar Agustian.

    B. Konsep Spiritual Leadership

    Istilah “kepemimpinan” telah banyak kita kenal, baik secara akademik maupun sosiologik. Akan tetapi ketika kata kepemimpinan dirangkai dengan  konsep SQ kemudian menjadi leadership SQ menjadi ambigu. Dalam tulisan ini selanjutnya, konsep Leadership SQ akan diterjemahkan sebagai  “kepemimpinan spiritual”. Istilah “spiritual” adalah bahasa Inggris berasal dari kata dasar “spirit”. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary misalnya,  istilah spirit antara lain memiliki cakupan makna: jiwa,  arwah / roh, semangat, hantu, moral dan tujuan atau makna  yang hakiki[xiii].  Sedangkan dalam Bahasa Arab, istilah spiritual terkait dengan yang ruhani dan ma’nawi dari segala sesuatu.

    Makna inti dari kata spirit berikut kata jadiannya seperti spiritual dan spiritualitas (spirituality) adalah bermuara kepada kehakikian, keabadian dan  ruh; bukan yang sifatnya sementara dan  tiruan. Dalam perspektif Islam, dimensi spiritualitas senantiasa berkaitan secara langsung dengan realitas Ilahi, Tuhan Yang Maha Esa (tauhid). Spiritualitas bukan sesuatu yang asing bagi manusia, karena merupakan inti (core) kemanusiaan itu sendiri. Manusia terdisi dari unsur material dan spiritual atau unsur jasmani dan ruhani. Perilaku manusia merupakan produk tarik-menarik antara energi spiritual dan material atau antara dimensi ruhaniah dan jasmaniah. Dorongan spiritual senantiasa membuat kemungkinan membawa dimensi material manusia kepada dimensi spiritualnya (ruh, keilahian). Caranya adalah dengan  memahami dan menginternalisasi sifat-sifat-Nya, menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk-Nya dan  meneladani Rasul-Nya Tujuannya adalah memperoleh ridlo-Nya, menjadi “sahabat” Allah, “kekasih” (wali) Allah. Inilah manusia yang suci, yang beberadaannya membawa kegembiraan bagi manusia-manusia lainnya.

    Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang membawa dimensi keduniawian kepada dimensi spiritual (keilahian). Tuhan adalah pemimpin sejati yang mengilhami, mempengaruhi, melayani dan menggerakkan hati nurani  hamba-Nya dengan cara yang sangat bijaksana melalui pendekatan etis dan keteladanan. Karena itu kepemimpinan spiritual disebut juga sebagai kepemimpinan yang berdasarkan etika religius. Kepemimpinan yang mampu mengilhami, membangkitkan, mempengaruhi dan menggerakkan melalui keteladanan, pelayanan, kasih sayang dan implementasi nilai dan sifat-sifat ketuhanan lainnya dalam tujuan, proses, budaya dan perilaku kepemimpinan.

    Dalam perspektif sejarah, kepemimpinan spiritual telah dicontohkan dengan sangat sempurna oleh Muhammad SAW. Dengan integritasnya yang luar biasa dan mendapatkan gelar sebagai al-amin (terpercaya), Muhammad SAW mampu mengembangkan kepemimpinan yang paling ideal dan paling sukses dalam sejarah peradaban umat manusia[xiv]. Sifat-sifatnya yang utama yaitu siddiq (integrity), amanah (trust), fathanah (smart) dan tabligh (openly) mampu mempengaruhi orang lain dengan cara mengilhami tanpa mengindoktrinasi, menyadarkan tanpa menyakiti, membangkitkan tanpa memaksa dan mengajak tanpa memerintah.

    Uraian di atas menggambarkan bahwa persoalan spiritualitas semakin diterima dalam abad 21 yang oleh para futurolog seperti Aburdene dan Fukuyama dikatakan sebagai abad nilai (the new age). Dalam perspektif sejarah  Islam, spiritualitas telah terbukti menjadi kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan individu-individu yang suci, memiliki integritas dan akhlakul karimah yang keberadaannya bermanfaat (membawa kegembiraan) kepada yang lain. Secara sosial, spiritualitas mampu membangun masyarakat Islam mencapai puncak peradaban, mampu mencapai predikat khaira ummat dan keberadaannya membawa kebahagiaan untuk semua (rahmatan lil’âlamin).

    Kepemimpinan spiritual diyakini sebagai solusi terhadap krisis kepemimpinan saat ini. Kepemimpinan spiritual merupakan puncak evolusi model atau pendekatan kepemimpinan karena berangkat dari paradigma manusia sebagai makhluk yang rasional, emosional dan spiritual atau makhluk yang struktur kepribadiannya terdiri dari jasad, nafsu, akal, kalbu dan ruh. Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang sejati dan pemimpin yang sesungguhnya. Dia memimpin dengan etika religius yang mampu membentuk karakter, integritas dan keteladanan yang luar biasa. Ia bukan seorang pemimpin karena pangkat, kedudukan, jabatan, keturunan, kekuasaan dan kekayaan.

    Kepemimpinan spiritual bukan berarti kepemimpinan yang anti intelektual. Kepemimpinan spiritual bukan hanya sangat rasional, melainkan justru menjernihkan rasionalitas dengan bimbingan hati nuraninya. Kepemimpinan spiritual juga tidak berarti kepemimpinan dengan kekuatan gaib sebagaimana terkandung dalam istilah “tokoh spiritual” atau  “penasehat spiritual”, melainkan kepemimpinan dengan menggunakan kecerdasan spiritual, ketajaman mata batin atau indera keenam. Kepemimpinan spiritual juga tidak bisa disamakan dengan yang serba esoteris (batin) yang dilawankan dengan yang serba eksoteris (lahir, formal), melainkan berupaya membawa dan memberi nilai dan makna yang lahir menuju rumah batin (spiritual) atau memberi muatan spiritualitas dan kesucian terhadap segala yang profan.

    Kajian dan penelitian tentang kepemimpinan spiritual dengan berbagai variasi peristilahannya semakin menarik dan semakin banyak dilakukan akhir-akhir ini. Demikian juga pelatihan dan buku-buku atau majalah-majalah  tentang spiritualitas termasuk di dalamnya kecerdasan spiritual semakin banyak bermunculan dengan tiras yang tinggi.

    Kajian tentang kepemimpinan spiritual dalam berbagai bidang telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu antara lain oleh beberapa peneliti sebagaimana dikemukakan di atas dan terbukti sangat efektif. Dalam konteks pendidikan Islam dengan berbagai persoalan yang menyertainya, kepemimpinan spiritual adalah salah satu solusi paling efektif untuk melakukan perubahan.

    C. Spiritual Leadership Diantara Model Kepemimpinan Lainnya

    Pada dasarnya kepemimpinan itu tidak ditentukan oleh pangkat, jabatan dan kedudukan seseorang. Kepemimpinan muncul bukan dari kondisi eksternal dari keindahan  seseorang (other beauty of human being), melainkan dari keindahann jiwanya (inner beauty of spiritual human being). Kepemimpinan muncul dari sebuah proses panjang dan sebuah keputusan untuk menjadi pemimpin. Ketika seseorang menemukan keyakinan dasar (core belief) dan nilai-nilai dasar (core values) yang dijadikan pegangan hidupnya, ketika seseorang menetapkan visi dan misi hidupnya,  ketika seseorang merasa damai dalam dirinya (inner peace), memiliki karakter yang kokoh (integritas), ketika ucapan dan tindakannya mampu memberikan pengaruh kepada orang lain secara suka rela, ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang menjadi pemimpin yang sesungguhnya.

    Terdapat dua model kepemimpinan apabila dilihat sumber tindakan kepemimpinan yaitu kepemimpinan konvensional dan  kepemimpinan spiritual. Yang dimaksud kepemimpinan konvensional  adalah kepemimpinan yang lazim diterapkan dalam berbagai lembaga formal dan sebagaimana dikemukakan dalam literatur-literatur ilmiah selama ini. Kepemimpinan konvensional menggunakan paradigma positivistik atau paradigma ilmiah dalam perilaku kepemimpinannya. Blanchard dalam hal ini mengatakan, kalau kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang muncul dari dalam diri keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya (leadership from inside out), kepemimpinan konvensional sebaliknya, muncul dari luar ke dalam (leadership from outside in) lewat penghormatan dan pujian (honor and praise).[xv]

    Kepemimpinan spiritual dalam tulisan ini bukan berarti kepemimpinan yang tidak rasional atau yang serba supra rasional. Kepemimpinan spiritual yang dimaksud di sini adalah kepemimpinan yang lebih banyak mengandalkan kecerdasan spiritual (ruhani, soul, ruh, hati nurani) dalam kegiatan kepemimpinan. Sinetar mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai pemikiran yang terilhami … yaitu ketajaman pemikiran yang tinggi yang sering kita katakan menghasilkan sifat-sifat supernatural: intuisi, petunjuk moral yang kokoh, kekuasaan atau otoritas batin, kemampuan membedakan yang salah dan yang benar dan kebijaksanaan.[xvi]

    Sementara itu Zohar dan Marshal menyebut kecerdasan spiritual sebagai the ultimate intelligence. Kalau dalam diri manusia terdapat ketiga jenis kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual (intellectual quotient, IQ), kecerdasan emosional (emotional quotient, EQ) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient, SQ), maka kata Zohar dan Marshal, SQ merupakan fundasi yang diperlukan  bagi keefektifan dua kecerdasan yang lain, “SQ is the necessary foundation for the functioning of both IQ and EQ. It is our ultimate intelligence“.[xvii]

    Kepemimpinan spiritual juga bisa diartikan sebagai kepemimpinan yang sangat menjaga nilai-nilai etis dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual.[xviii] Mereka melakukan pekerjaan dengan cara yang memuaskan hati lewat pemberdayan, memulihkan dan menguntungkan siapa saja yang berhubungan dengannya. Mereka tidak hanya mampu menghadirkan uang, tetapi juga hati dan jiwa mereka dalam bekerja. Mereka terlibat sepenuhnya (involve) dalam aktivitas organisasi (bisnis) yang dipimpinnya sebagai bentuk komitmennya yang paling dalam yaitu komitmen spiritualitas. Percy dalam hal ini mengatakan :”dan ketika anda bermukim di rumah spiritualitas, tidak ada lagi jurang menganga dan daerah perbatasan antara keyakinan dan tindakan. Jurang itu diisi dengan esensi dan selaku manusia yang utuh. Anda dan obyek komitmen anda telah menyatu sempurna”.[xix]

    Kepemimpinan spiritual oleh Tjahjono disebut sebagai kepemimpinan dimensi keempat, yaitu kepemimpinan yang lebih mendasarkan pada iman dan hati nurani dalam kualitas kepemimpinannya atau kepemimpinan yang membersihkan hati, memberi, melayani, mencerahkan dan memenangkan jiwa berdasarkan semangat syukur dan kasih.[xx]

    Barangkali, kepemimpinan spiritual identik dengan kepemimpinan profetik, meminjam istilahnya kuntowijoyo, yaitu kepemimpinan yang mengemban  visi dan misi  suci sebagai sebuah panggilan kedalaman religius (ketuhanan) mengandung tiga komponen: humanisasi/emansipasi, liberalisasi dan transendensi[xxi] atau pencerahan, pembebasan dan spiritualisasi.

    Prijosaksono mengemukakan konsep Q-Leader. Sejalan dengan konsep multiple quotient. Q dalam Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki IQ, EQ dan SQ.[xxii]

    Kepemimpinan spiritual yang dimaksud dalam tulisan ini berparadigma pada etika religius  dalam setiap perilaku dan proses kepemimpinannya. Etika religius yang dimaksud di sini tidak semata-mata etika yang dieksplorasi dari keyakinan religius, melainkan juga etika yang lahir dari pengalaman spiritual seorang pemimpin, spiritualitas yang hidup dalam aktivitas keseharian. Sebab agama terutama agama terorganisasi (organized religion)  biasanya terkait dengan aspek-aspek spiritualitas yang terorganisasi yang meliputi seperangkan peraturan, iman, dan tradisi. Kepemimpinan spiritual dan beberapa istilah lain seperti kepemimpinan atas nama Tuhan, kepemimpinan dengan ESQ (emotional spiritual quotient), kepemimpinan dimensi keempat, kepemimpinan yang mencontoh Tuhan dan  kepemimpinan profetik merupakan kepemimpinan yang mendasarkan diri pada etika religius atau cara hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Etika religius adalah prinsip-prinsip moral-etis yang diderivasi dari perilaku etis Tuhan terhadap hamba-Nya (manusia), perilaku etis manusia terhadap Tuhannya dan perilaku etis manusia terhadap sesamanya. Nilai-nilai etis itu dalam kadar yang sempurna telah dicontohkan oleh Nabi dengan bantuan dan anugerah yang datang dalam bentuk wahyu al-Qur’an.

    Kepemimpinan spiritual merupakan model kepemimpinan komprehensip yang menggabungkan berbagai pendekatan dan sekaligus  kekuatan penggerak kepemimpinan seperti kekuatan  intelektual, moral, emosional, dan spiritual. Kepemimpinan spiritual merupakan gabungan dari model kepemimpinan etik, asketik dan mistik. Kepemimpinan  spiritual bukan sekedar orang yang kaya tentang pengetahuan spiritual, melainkan lebih menekankan pada kesadaran spiritual (spiritual awareness) yaitu sebuah penghayatan hidup. Kalau Levin mengatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan puncak kecerdasan  (the highest level of intelligence)[xxiii] , maka kepemimpinan spiritual merupakan kepemimpinan yang menggunakan seluruh kecerdasan atau puncak kecerdasan kepemimpinan.

    Dalam millenium ketiga yang juga dikenal sebagai the new age dimana nilai-nilai etis dan spiritual memegang peran penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia di satu sisi, dan kecepatan laju perubahan dan persaingan global yang mengarah pada pola kehidupan yang turbulent di sisi lain, kepemimpinan spiritual akan memegang peran penting tidak hanya dalam bidang sosial dan keagamaan, melainkan dalam bisnis global. Dunia pendidikan sebagai noble industry[xxiv] dan merupakan institusi yang paling bertanggungjawab terhadap kualitas sumber daya manusia dan kualitas peradaban di masa depan paling tepat menerapkan kepemimpinan spiritual ini.

    Kepemimpinan spiritual diantara model kepemimpinan lainnya digambarkan dalam tabel berikut:

    TABEL

    KEPEMIMPINAN SPIRITUAL DIANTARA MODEL KEPEMIMPINAN LAINNYA

    Uraian Kepemimpinan Transaksional Kepemimpinan Transformasional Kepemimpinan Spiritual
    Hakekat kepemimpi-nan Fasilitas, kepercayaan manusia (bawahan) Amanat dari sesama manusia Ujian, amanat dari Tuhan dan manusia
    Fungsi kepemimpinan Untuk membesarkan diri dan kelompoknya atas biaya orang lain melalui kekuasaan Untuk memberdayakan pengikut dengan kekuasaan keahlian dan  dan keteladanan Untuk memberdayakan dan mencerahkan iman dan hati nurani  pengikut  melalui jihad  (pengorbanan) dan amal shaleh (altruistik)
    Etos kepemimpinan Mendedikasikan usahanya kepada manusia untuk memperoleh imbalan / posisi yang lebih Mendedikasikan usahanya kepada sesama untuk kehidupan bersama yang lebih baik Mendedikasikan usahanya kepada Allah dan sesama manusia (ibadah) tanpa pamrih apa pun
    Sasaran tindakan kepemimpinan Pikiran dan tindakan yang  kasat mata Pikiran dan hati nurani Spiritualitas dan hati nurani
    Pendekatan kepemimpinan Posisi dan kekuasaan Kekuasaan, keahlian dan keteladanan Hati nurani dan keteladanan
    Dalam mempengaruhi yang dipimpin Kekuasaan, perintah, uang, sistem, mengembangkan interes, transaksional Kekuasaan keahlian dan kekuasaan referensi Keteladanan, mengilhami, membangkitkan, memberdayakan, memanusiakan
    Cara mempengaruhi Menaklukkan jiwa dan membangun kewibawaan melalui kekuasaan Memenangkan jiwa dan membangun karisma Memenangkan jiwa, membangkit-kan iman
    Target kepemimpinan Membangun jaringan kekuasaan Membangun kebersamaan Membangun kasih, menebar kebajikan dan penyalur rahmat Tuhan

    D. Karakteristik kepemimpinan Spiritual

    Seiring dengan ditemukannya konsep kecerdasan spiritual yang justru dianggap sebagai the ultimate intelligence dan sebagai fundasi yang diperlukan bagi keefektifan dua bentuk kecerdasan yang lain (intellectual quotient atau IQ dan emotional quotient atau EQ), muncul pula berbagai konsep kepemimpinan yang mendasarkan diri pada paradigma, konsep dan karakteristik kecerdasan spiritual tersebut. Hendricks dan Ludeman misalnya mengemukakan The Corporate Mystic sebagai konsep kepemimpinan spiritual[xxv]; Parcy mengemukakan Going Deep, sebuah eksplorasi kedalaman spriritual dalam hidup dan kepemimpinan[xxvi]; Zaluchu, mengemukakan kepemimpinan spiritual dalam perspektif al-Kitab[xxvii]; Tjahjono mengemukakan kepemimpinan domensi keempat sebagai konsep kepemimpinan spiritual dan sebagai jawaban atas krisis kepemimpinan. Agustian mengemukakan kepemimpinan spiritual berdasarkan rukun iman dan rukun Islam yang dia sebut sebagai powerfull leader [xxviii], Prijosaksono mengemukakan konsep kepemimpinan sejati[xxix] dan Blancard mengemukakan konsep servant leadership (kepemimpinan yang melayani)[xxx],   dan mungkin masih banyak lagi kajian tentang kepemimpinan spiritual dalam ragam perspektif dan dalam ragam kasus.

    Blanchard dan kawan-kawan memiliki konsep yang menarik tentang kepemimpinan yang berbasis etik ini. Dalam bukunya yang sangat terkenal “Leadership by The Book” ia mengemukakan konsep servant leadership (kepemimpinan yang melayani) yang menurut penulis identik dengan kepemimpinan yang berbasis etis ini. Servant leadership menurut Blanchard dan kawan-kawan merupakan kepemimpinan yang nyaris sempurna karena terkandung di dalamnya tiga karakter yaitu pendeta, profesor dan profesional. Tiga kekuatan karakter tersebut memiliki potensi luar biasa untuk membawa keberhasilan dalam kepemimpinan di dunia bisnis. Tiga aspek kepemimpinan tersebut adalah hati yang melayani (servant heart), kepala atau pikiran yang melayani (servant head) dan tangan yang melayani (servant hand)[xxxi].

    Sebagaimana dikemukakan di muka, kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang berbasis pada etika religius, kepemimpinan atas nama Tuhan,  yaitu kepemimpinan yang terilhami oleh perilaku etis Tuhan dalam memimpin makhluk-makhluk-Nya. Dalam panggung sejarah, para Rasul Tuhan adalah contoh terbaik bagaimana kepemimpinan spiritual ditegakkan. Para Rasul Tuhan itu terilhami bagaimana kepemimpinan Tuhan dan untuk selanjutnya mereka terapkan dalam memimpin sesama manusia.

    Berikut dikemukakan pokok-pokok karakteristik kepemimpinan spiritual yang berbasis pada etika religius: kejujuran sejati, fairness, pengenalan diri sendiri, fokus pada alam shaleh, spiritualisme yang tidak dogmatis, bekerja lebih efisien, membangkitkan yang terbaik dalam diri sendiri  dan orang lain, keterbukaan menerima perubahan, think globally act locally, disiplin tetapi tetap fleksibel, santai dan cerdas, dan kerendahan hati.

    1. Kejujuran sejati.

    Rahasia sukses para pemimpin besar dalam mengemban misinya adalah memegang teguh kejujuran. Bahkan dalam berperangpun kejujuran tetap ditegakkan walaupun harus dilakukan secara taktis-diplomatis. Berlaku jujur senantiasa membawa kepada keberhasilan dan kebahagiaan pada akhirnya, walaupun mungkin pada boleh jadi terasa pahit. Orang yang jujur adalah orang yang memiliki integritas dan kepribadian yang utuh sehingga dapat mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam situasi apapun. Orang yang jujur adalah orang yang memiliki integritas dan integritas adalah mulia dan menjadi kekuatan yang luar biasa untuk meraih kesuksesan. Integritas adalah sebuah kejujuran, tidak pernah berbohong dan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Dengan integritas seseorang akan dipercaya, dan kepercayaan akan menciptakan pengaruh dan pengikut

    Tugas yang berat tidak mungkin diserahkan dan diemban oleh orang yang tidak jujur, tidak amanah. Dengan kejujuran sesuatu yang dianggap oleh orang lain sebagai mimpi atau angan-angan, tetapi bisa dilakukan dengan baik oleh orang yang jujur. Keberhasilan Muhammad menghadapi kekuatan kafir Quraisy yang dominan dalam kultur dan struktur jahiliyah adalah sesuatu yang luar biasa dan mission impossible bagi orang biasa. Tapi bagi Nabi yang mendapatkan predikat al-amin (yang dapat dipercaya), kejujuran adalah sesuatu yang harus dilaksanakan dan terbukti sukses.

    Sebaliknya kebohongan senantiasa membawa kehancuran dan kesulitan. Orang yang berbohong adalah orang yang memperkosa suara hati nuraninya sendiri dan berakibat pada kegelisahan. Orang yang sekali  berbohong akan melakukan hal yang sama untuk menutupi kebohongan sebelumnya dan seterusnya sampai ia mendapatkan predikat pembohong. Orang yang berbohong bagaikan menggali lubang kuburnya  sendiri yang semakin lama semakin dalam. Dalam berbisnis untung dan rugi itu hal biasa, akan tetapi kalau kebohongan   bukan hanya akan mendapatkan kerugian tetapi juga kehinaan.

    Sifat lain yang bertolak belakang dari kejujuran adalah kepura-puraan. Antara kebohongan dan kepura-puraan bagaikan dua sisi mata uang.  Kalau kebohongan biasanya secara eksplisit diucapkan lewat lisan atau tulisan dan relatif mudah dideteksi, sedangkan kepura-puraan berupa tindakan yang lebih sulit dideteksi tetapi dampaknya bisa jadi lebih parah. Kepura-puraan adalah tindakan yang dilakukan tidak dengan sepenuh hati yang pasti akan melahirkan kegagalan. Pendidik yang mengajar dengan setengah hati, pegawai yang memeberikan layanan setengah hati, dokter yang mengobati pasien dengan setengah hati, petani yang bertani dengan setengah hati tidak akan memperoleh hasil kecuali sebuah kegagalan. Kepura-puraan adalah penyakit masyarakat dan  bangsa yang sangat berbahaya.

    2. Fairness

    Pemimpin spiritual mengemban misi sosial menegakkan keadilan di muka bumi, baik adil terhadap diri sendiri, keluarga dan orang lain. Bagi para pemimpin spiritual, menegakkan keadilan bukan sekedar kewajiban moral religius dan tujuan akhir dari sebuah tatanan sosial yang adil,  melainkan sekaligus dalam proses dan prosedurnya (strategi)  keberhasilan kepemimpinannya. Fairness menurut Rawls merupakan strategi untuk memecahkan moralitas sosial melalui sebuah kontrak sosial berdasarkan the principle of greatest equal liberty dan the principle of fair equality of opportunity.[xxxii]

    Seorang pemimpin yang ketahuan bahwa dia tidak berlaku adil terhadap orang lain terutama yang dipimpinnya, maka akan sia-sialah perkataan, peraturan dan kebijakan-kebijakan yang telah dibuatnya: tidak akan ditaati dan dihormati secara tulus/sukarela. Percy dalam hal ini mengatakan “tanpa kepemimpinan tidak akan ada pengikut dan tiada pengikut (follower) tanpa kejujuran dan inspirasi” (no leadership without follower and no follower without honest and inspiration. [xxxiii]

    3. Semangat amal shaleh

    Kebanyakan pemimpin suatu lembaga, mereka sebenarnya bekerja bukan untuk orang dan  lembaga yang dipimpin, melainkan untuk “keamanan”, “kemapanan” dan “kejayaan” dirinya. Tetapi pemimpin spiritual bersikap sebaliknya, yaitu untuk memberikan konstribusi, dhrama atau amal saleh bagi lembaga dan orang-orang yang dipimpinnya. Seorang spiritualis rela  bersusah payah,   bekerja tak kenal waktu dan lelah untuk bisa memberikan kontribusi terbaiknya, mumpung masih punya kesempatan dan kemampuan untuk berdedikasi kepada Tuhan dan sesama. Mereka bekerja bukan semata-mata karena jabatannya, melainkan sebuah panggilan (calling) hati nuraninya, panggilan spiritualitasnya sebagai hamba Tuhan dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Orientasi hidup seorang spiritualis  bukan untuk “memiliki” sesuatu (to have) apakah berupa kekayaan, jabatan, dan simbol-simbol kebanggaan duniawi lainnya, melainkan untuk “menjadi” sesuatu (to be).

    4. Membenci formalitas dan organized religion

    Bagi seorang spiritualis, formalitas tanpa isi bagaikan pepesan kosong.  Organized religion biasanya hanya mengedepankan dogma, peraturan, perilaku dan hubungan sosial yang terstruktur yang berpotensi memecah belah.. Tindakan formalitas perlu dilakukan untuk memperkokoh makna dari substansi tindakan itu sendiri dan dalam rangka merayakan sebuah kesuksesan, kemenangan. Pemimpin spiritual lebih mengedepankan tindakan yang genuine dan substantif (esoteric). Kepuasan  dan kemenangan bukan ketika mendapatkan pujian, piala dan sejenisnya, melainkan ketika memberdayakan (empowerment), memampukan (enable) mencerahkan (enlighten)  dan membebaskan (liberation) orang dan lembaga yang dipimpinnya. Ia puas ketika dapat memberikan sesuatu dan bukan ketika menerima sesuatu. Pujian dan sanjungan manusia  apabila tidak disikapi secara arif justru dapat membahayakan dan mengancam kemurnian dan kualitas karya dan kepribadiannya. Karena itu pujian yang ia harapkan adalah pujian dan keridloan Tuhan semata.

    5. Sedikit bicara banyak kerja dan santai

    Banyak bicara banyak salahnya, banyak musuhnya, banyak dosanya serta sedikit kontemplasinya dan sedikit karyanya. Seorang pemimpin spiritual  adalah pemimpin yang sedikit bicara banyak kerja. Dia paham betul dengan pepatah Arab yang mengatakan qaul hal afshah min lisân al maqal (keteladanan lebih menghunjam dari pada perkataan) Serta hadits: “man kâna yu’minu bi il-lah wa al yaum il-âkhir fal yaqul khairan au liyasmut” atau tarkuhu mâ lâ ya’ni. (Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam). Dalam hadits lain ditambahkan “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah meninggalkan apa-apa yang tiada berguna”). Dengan prinsip itu dia dapat bekerja secara efisien dan efektif. Dia sangat menghargai waktu dan berbagai sumberdaya. Orang Barat mengatakan waktu adalah uang dan orang arab mengatakan waktu adalah pedang, sementara pemimpin spiritual mengatakan waktu adalah spirit (Tuhan, roh, soul, kekuatan).

    Walaupun seorang pemimpin spiritual sangat efektif dan efisien dalam bekerja dan pekerjaan yang diselesaikan sambung-menyambung seakan tidak ada habisnya, namun dia tidak merasa sibuk, tidak merasa menjadi orang penting, tidak menjadi pelit untuk melayani orang lain. Sebaliknya ia tetap santai, ramah dan biasa-biasa saja. Ia tetap bisa “mementingkan urusan yang penting dan tidak merasa paling penting ketika ia dipentingkan pada saat-saat genting”. Hal ini dikarenakan ia memiliki kesadaran pribadi dan jati diri  yang kokoh dan kepercayaan yang mendalam bahwa Tuhan selalu membimbingnya. Hal ini (pengenalan terhadap jati diri dan kedekatannya dengan Tuhan) mampu membuat dirinya menjadi tenang dan bahagia dimanapun berada dan dalam menghadapi berbagai poersoalan yang berat sekalipun. Ahlul Hikmah mengatakan : “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” (barang siapa mengenal jati dirinya akan mengenal Tuhannya), dan al-Qur’ân mengatakan : “Ketahuilah, dengan menghadirkan Tuhan dalam dirinya, hati akan menjadi tenang”[xxxiv]

    6. Membangkitkan yang terbaik bagi diri sendiri dan orang lain.

    Sebagaimana dikemukakan di muka, pemimpin spiritual berupaya mengenali jati dirinya dengan sebaik-baiknya. Upaya mengenali jati diri itu juga dilakukan terhadap orang lain terutama para kolegial, relasi dan orang-orang yang dipimpinnya. Jatidiri itu meliputi potensi lahiriah seperti kecakapan dan profesionalitas, hoby, kondisi kesehatan,  dan potensi batin seperti watak dan karakternya. Dengan mengenali jati diri ia dapat membangkitkan segala potensinya dan dapat bersikap secara arif dan bijaksana dalam berbagai situasi. Dengan mengenali jati diri ia dapat membangkitkan dengan cara yang memikat, “memukul” tanpa menyakiti, mengevaluasi tanpa menyinggung harga diri. Dengan mengenali jati diri ia dapat berperilaku,  menghormati dan memperlakukan diri sendiri dan orang lain “apa adanya”. Ketika menghadapi orang-orang yang menyulitkan, seorang trouble maker, dan menjadi source of problem sekalipun ia tetap dengan cara yang arif dan bijaksana dan tetap menghargai jati dirinya. Dengan cara seperti itu pemimpin spiritual diibaratkan seperti samudra yang semangat (ombak)nya senantiasa bergelora tetapi air (lingkungan)nya tetap jernih dan menjernihkan setiap yang keruh yang datang padanya.

    7. Keterbukaan menerima perubahan.

    “Perubahan” adalah kata yang paling disukai bagi kelompok tertindas dan sebaliknya paling ditakuti oleh kelompok mapan. Pimpinan biasanya dikategorikan sebagai kelompok mapan dan pada umumnya berusaha menikmati kemapanannya dengan menolak perubahan. Kalaupun ia gencar mengadakan perubahan  adalah dalam rangka mempertahankan atau mengamankan posisinya.

    Pemimpin spiritual berbeda dengan pemimpin pada umumnya. Ia tidak alergi dengan perubahan dan juga bukan penikmat kemapanan. Pemimpin spiritual memiliki rasa hormat bahkan rasa senang dengan perubahan yang menyentuh diri mereka yang paling dalam sekalipun. Ia sadar bahwa kehadirannya sebagai pemimpin memang untuk membawa perubahan. Ia sadar bahwa perubahan adalah hukum alam (sunnatullah). Semua yang ada di alam ini akan berubah kecuali Yang Membuat Perubahan itu sendiri. Iqbal dalam hal ini mengatakan: “intisari hidup adalah gerak, sedang hukum hidup adalah gerak. Kafir yang aktif lebih baik dari muslim yang suka tidur”.[xxxv]

    Pemimpin spiritual berkeyakinan bahwa lembaga yang ia pimpin bukan untuk diirinya, bukan simbol prestasi dan prestise dirinya dan juga bukan untuk keluarga dan kroni-kroninya,  melainkan sebaliknya dirinya adalah untuk lembaga bahkan kalau perlu rela hancur asalkan lembaga yang dipimpinnya berjaya. Lembaga yang dipimpin merupakan wahana beraktualisasi diri dan berdedikasi kehadirat Tuhan. “Inna shalâti wa nusuki wa mahyâya wa mamâti lillâhi rabbil ‘âlamîn[xxxvi] (Sesungguhnya ibadahku, pengorbananku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata, Tuhan semesta alam). begitulah kira kira komitmen seorang pemimpin spiritual, komitmen yang dibaca dalam do’a iftitah shalat.

    8. Pemimpin yang dicintai.

    Pemimpin pada umumnya sering tidak perduli apakah mereka dicintai para karyawannya atau tidak. Bagi mereka dicintai atau dibenci itu  tidak penting, yang penting dihormati dan memperoleh legitimasi sebagai pemimpin. Bahkan sebagian diantara mereka merasa tidak perlu dicintai karena hal itu akan menghalangi dalam mengambil keputusan yang sulit yang menyangkut persoalan karyawannya. Pernyataan ini mungkin  ada benarnya, akan tetapi bagi pemimpin spiritual, kasih sayang sesama justru merupakan ruh (élan vital, spirit) sebuah organisasi. Cinta kasih kata Percy tidak sama dengan belas kasihan ketika melihat ke bawah yang miskin-papa, jiwa-jiwa terlantar dibanding kita … cinta kasih adalah sikap menginginkan yang lebih untuk orang-orang lain dibandingkan untuk dirinya sendiri.[xxxvii] Cinta kasih bagi pemimpin spiritual bukanlah cinta kasih dalam pengertian sempit yang dapat mempengaruhi obyektifitas dalam pengambilan keputusan dan memperdayakan kinerja lembaga, tetapi cinta-kasih yang memberdayakan, cinta kasih yang tidak semata-mata bersifat perorangan, tetapi cita kasih struktural yaitu cinta terhadap ribuan orang yang dipimpinnya.

    Dengan cinta kasih ini interaksi sosial tidak diliputi dengan suasana ketegangan dan serba formal, melainkan hubungan yang cair dan bahkan suasana canda. Hendricks dan Ludeman bahkan mengatakan: “satu-satunya cara terbaik untuk menilai kesehatan sebuah tim atau sebuah perusahaan adalah dengan mengetahui seberapa sering mereka bercanda”.[xxxviii] Dengan cinta kasih pimpinan bukan atasan semata, melainkan bisa menjadi teman, orangtua dan  mentor sekaligus.

    9. Think Globally and act locally

    Statemen di atas merupakan visi seorang pemimpin spiritual. Memiliki visi jauh ke depan dengan fokus perhatian kekinian dan kedisinian. Dalam hal yang paling abstrak (spirit, soul, ruh) saja ia dapat meyakini, memahami dan menghayati, maka dalam kehidupan nyata ia tentu lebih dapat memahami dan menjelaskan lagi walaupun kenyataan itu merupakan cita-cita masa depan. Ia memiliki kelebihan  untuk menggambarkan idealita masa depan secara mendetail dan bagaimana mencapainya kepada orang lain seakan-akan gambaran masa depan itu sebuah realitas yang ada di depan mata. Ia mampu membangkitkan dan mengarahkan imajinasi seseorang kepada visinya. Orang Jawa akan mengatakan: “weruh sajeroning winarah” (tahu apa yang akan terjadi). Pemimpin spiritual mampu mendiskripsikan seolah-olah ganjaran sebuah perbuatan sudah dimiliki sekarang juga, kesuksesan, kemenangan, kejayaan, nama baik, prestasi seakan sudah dapat dicicipi oleh kita  saat ini dan di sini.

    Di sisi lain pemimpin spiritual juga memiliki visi pada persoalan kekinian dan kedisinian, di depan mata. Ia bukan seorang filosof yang saking asyiknya menengadah ke langit sampai lupa bumi tempat berpijak, atau seorang sufi yang terpesona oleh samudera cinta Tuhannya sampai melupakan sisi kemanusiaannya. Ia tidak kehilangan eksistensi dan jati dirinya meskipun ia sangat dekat dengan Tuhan. Ia sadar bahwa “zona kehidupan” manusia berputar dan saling mempengaruhi antara dimensi waktu masa lalu, masa kini dan masa depan. Pemimpin spiritual bagaikan seorang pengemudi yang berorientasi pada tujuan tetapi tidak pernah terlena kapan dan dimana ia berada dan hanya sekali-kali melihat ke belakang melalui kaca spionnya.

    10. Disiplin Tetapi Fleksibel dan Tetap Cerdas dan Penuh Gairah

    Kedisiplinan  pemimpin spiritual tidak didasarkan pada sistem kerja otoritarian yang menimbulkan kekakuan dan ketakutan, melainkan didasarkan pada komitmen dan kesadaran yaitu kesadaran spiritual yang oleh Percy dianggap sebagai bentuk komitmen yang paling tinggi setelah komitmen politik, komitmen intelektual dan komitmen emosional.[xxxix] Pemimpin spiritual adalah orang yang berhasil mendisiplinkan diri sendiri dari keinginan, godaan dan tindakan destruktif atau sekedar kurang bermanfaat atau kurang patut. Kebiasaan mendisiplinkan diri ini menjadikan pemimpin spiritual sebagai orang yang teguh memegang prinsip, memiliki disiplin yang tinggi tetapi tetap fleksibel, cerdas, bergairah dan mampu melahirkan energi yang seakan tiada habisnya.

    11. Kerendahan Hati

    Posisi sebagai pemimpin yang dianggap berhasil dan sering diundang dalam berbagai forum sebagai pembicara dan mendapat bahana tepuk tangan bahkan standing ovation adalah sangat sukar untuk tidak berfikir bahwa semua itu karena “saya”: Kecerdasan yang tinggi, bakat, kekuatan dan talenta yang luar biasa, gaya yang menawan, kecakapan mumpuni, pengetahuan yang luas, bahkan merasa paling dekat dengan Tuhan. Seorang pemimpin “biasa” sering terjebak dalam kebanggaan yang sebenarnya adalah tipuan konyol belaka.

    Seorang pemimpin spiritual menyadari sepenuhnya bahwa semua kedudukan, prestasi, sanjungan dan kehormatan itu bukan karena dia dan bukan untuk dia, melainkan karena dan untuk Dzat Yang Maha Terpuji, subhânallah. Sikap rendah hati menurut Parcy adalah pengakuan bahwa anda tidak mempunyai karunia untuk memimpin, namun karunia itu yang memiliki anda[xl], sementara al-Shadr mengatakan bahwa kerendahan hati adalah “memperhatikan kedudukan orang lain dan menghindari perilaku arogan terhadap mereka”.[xli] Pemimpin spiritual menyadari bahwa pemujaan terhadap diri sendiri sangat melelahkan jiwa, sikap bodoh dan awal dari kebangkrutan. Dirinya hanyalah sekedar saluran, media. Allahlah sesungguhnya yang memberi kekuatan, petunjuk, pertolongan. Ibarat air, dirinya hanyalah pipa-pipa atau saluran, dan bukan airnya itu sendiri. Ia bangga dan bersyukur bahwa dirinyalah yang dipilih untuk menyalurkan karunia kepemimpinannya kepada umat manusia.

    Demikianlah karakteristik kepemimpinan spiritual: kejujuran sejati, fairness, pengenalan diri sendiri, fokus pada amal saleh, spiritualisme yang tidak dogmatis, bekerja lebih efisien, membangkitkan yang terbaik dalam diri sendiri  dan orang lain, keterbukaan menerima perubahan, think globally act locally, disiplin tetapi tetap fleksibel, santai dan cerdas, dan kerendahan hati. Karakteristik ini merupakan rangkuman dari tipe ideal dari sejumlah  pemimpin spiritual berdasarkan hasil penelitian. Mungkin tidak ada seorang pemimpin spiritual yang memiliki semua karakteristik tersebut dengan sempurna walaupun dia telah berusaha dengan sungguh-sungguh. Sebab bagaimanapun juga manusia itu tempatnya salah dan lupa (al-insânu mahallu khata’ wa al-niyân). Tetapi sekiranya Dzat Yang Maha sempurna menghendaki dan memanggil hambaNya untuk mengemban karunia kepemimpinan-Nya, semua yang tidak mungkin akan menjadi kenyataan

    D. Spiritual Leadership: The Problem Solver Pendidikan Islam

    Sebagaimana dikemukakan dalam dalam pendahuluan, cara yang paling ampuh merubah siklus negatip lembaga-lembaga pendidikan Islam menjadi siklus positip adalah melalui kepemimpinan spiritual. Dengan kata lain pemimpin spiritual adalah faktor dominan terjadinya perubahan dari sekolah tidak diminati menjadi berprestasi. Dimana terdapat lembaga pendidikan Islam yang maju, didalamnya pasti terdapat “orang besar” yaitu orang yang memiliki puncak piramida etika religius (nafs al-mutnainnah, taqwa dan ihlas). Implementasi puncak etika religius dalam kehidupan sehari-hari akan melahirkan orang  yang memiliki komitmen (kepedulian) dan dedikasi (pengabdian), sabar, rela berkorban, berjuang tanpa kenal lelah dan ihlas. Inilah orang yang memiliki spiritualitas, orang yang mampu menjadi soko guru tegaknya lembaga pendidikan Islam. Orang-orang inilah yang rela  menafkahkan hidupnya untuk mengembangkan pendidikan Islam. Ia berjihad untuk pendidikan Islam dengan hartanya dan jiwanya. Inilah pemimpin spiritual dalam pendidikan Islam.

    Bagaimana pemimpin spiritual dalam mengembangkan pendidikan Islam? Dan peran apa saja yang dilakukan dalam mengembangkan pendidikan Islam?

    1. Sebagai pembaharu.

    Keberhasilan pemimpin spiritual dalam mengembangkan pendidikan Islam tidak lepas dari perannya sebagai pembaharu. Gagasan-gagasan  atau ide-ide baru senantiasa keluar dari hasil kontemplasi, penjelajahan  dan pengembaraan intelektualnya yang luas.

    2. Pemimpin Spiritual Sebagai Pemimpin Organisasi Pendidikan.

    Sebagaimana dikemukakan dalam pembahasan sebelumnya,  lembaga pendidikan merupakan noble industry (industri mulia) yang merupakan gabungan dari lembaga yang bersifat profit seperti perusahaan, industri dan jasa dan lembaga non profit seperti lembaga sosial kemasyarakatan, lembaga dakwah, dan lembaga nirlaba lainnya. Karena itu dari sisi kelembagaan, kekuatan-kekuatan kepemimpinan spiritual sangat cocok untuk memimpin lembaga pendidikan.  Pemimpin spiritual mampu memerankan diri sebagai seorang entrepreneur, corporate dan pebisnis (businessman) yang handal sehingga mampu mengefektifkan budaya dan proses organisasi dan mengembangkan usaha dan memperbesar laba. Di sisi lain,  pemimpin spiritual juga mampu berperan sebagai seorang tokoh pergerakan, seorang ruhaniawan, relawan dan volunteer yang pandai menarik simpati dan menggerakkan massa, tokoh spiritual dan seorang pekerja sosial. Itulah sebabnya, lembaga pendidikan yang memiliki dimensi sebagai organisasi profit dan organisasi sosial dan dakwah sangat tepat dipimpin oleh orang yang mengembangkan kepemimpinan spiritual.

    3. Pemimpin spiritual sebagai administrator proses pembelajaran.

    Kepala sekolah selama ini lebih banyak berperan hanya  sebagai administrator pembelajaran. Tugas mereka seakan sudah selesai apabila proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lancar dan tertib. Pemimpin spiritual  memandang tugas sebagai administrator sebagai tugas rutin dan karena itu diserahkan pelaksanaannya kepada masing-masing pimpinan bidang atau unit. Ini tidak berarti tugas sebagai administrator tidak penting, melainkan secara organisatoris telah ada pembagian tugas dan sekaligus sebagai bentuk pengkaderan. Posisi pemimpin spiritual dalam hal ini berperan sebagai pengilham, pencerah dan pembangkit.

    4. Pemimpin Spiritual Sebagai Pendidik.

    Salah satu kekuatan yang menyebabkan pemimpin spiritual berhasil dalam mengembangkan pendidikan adalah karena perannya sebagai pendidik (murabbi). Di depan muridnya ia tetap seorang guru yang mau menyapa dan  peduli sehingga memiliki hubungan yang harmoni, dekat, akrab dan  khurmah. Di depan guru dan karyawan ia adalah seorang teman sesama guru yang senasip dan seperjuangan. Dengan sesama guru ia tetap egaliter, dekat dan  akrap disamping juga peduli. Bukan hanya dengan sesama guru, dengan muridpun pemimpin spiritual dapat bergurau dengan renyah dan riang.

    Dilihat dari proses pembelajaran di lembaga pendidikan, pemimpin spiritual terbukti mampu mengefektifkan proses pembelajaran dan melakukan berbagai inovasi. Sedang apabila dilihat dari substansi dan esensi pendidikan, pemimpin spiritual terbukti mampu mengembangkan pemikiran dan ide-ide baru yang brillian, mencerahkan dan memberdayakan sehingga pendidikan benar-benar mampu memerankan fungsi pokoknya, bukan sekedar fungsi formalnya.

    E. Penutup

    Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan atas dasar taqwa, kepemimpinan dengan semangat jihad dan kepemimpinan yang totalitas. Hati (heart), kepala (head)  dan tangan (hand) nya  digunakan untuk berhidmat dan melayani yang dipimpinnya dalam rangka mencari ridlo Tuhan (mardlotillah).

    Kepemimpinan spiritual dan beberapa istilah lain seperti kepemimpinan atas nama Tuhan, kepemimpinan yang mencontoh Tuhan, kepemimpinan profetik,  kepemimpinan dimensi keempat dan  kepemimpinan dengan ESQ (emotional spiritual quotient), merupakan kepemimpinan yang mendasarkan diri pada etika religius atau cara hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan perilaku etis Tuhan. Etika religius adalah prinsip-prinsip moral-etis yang diderivasi dari perilaku etis Tuhan terhadap hamba-Nya (manusia), perilaku etis manusia terhadap Tuhannya dan perilaku etis manusia terhadap sesamanya. Nilai-nilai etis itu dalam kadar yang sempurna telah dicontohkan oleh Nabi dengan bantuan dan anugerah yang datang dalam bentuk wahyu al-Qur’an. Karenanya pemimpin spiritual  adalah pemimpin yang memiliki komitmen, dedikasi dan integritas yang kokoh karena memiliki  dasar dan orientasi nilai yang absolut.

    Perilaku pemimpin spiritual dalam melakukan inovasi proses pembelajaran dilakukan dengan mengembangkan konsep spiritualisasi pendidikan. Spiritualisasi pendidikan dikembangkan dalam empat hal: (1)  spiritualisasi tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan harus mengarah pada pembentukan kesalehan, yakitu saleh dalam berperilaku, saleh dalam berilmu, dan saleh dalam berprofesi. (2) spiritualisasi kurikulum. Allah adalah sumber ilmu yang digali lewat wahyu, fitrah (sibghah) dan alam semesta dan kemudian manusia mampu melahirkan berbagai bidang ilmu dan teknologi (iptek). Agar iptek dapat membawa pada rahmatan lil’alamin, diperlukan manusia yang beriman dan bertaqwa (imtak) yaitu manusia  mampu mengintagrasikan iptek dengan asal dan tujuannya yaitu nilai-nilai ilahiah; (3) spiritualisasi proses pembelajaran. Proses pembelajaran hakekatnya adalah dialog antara antara Tuhan dan anak didik lewat guru. Guru diibaratkan sebagai “pipa” penyalur rahmat dan berkat dari Allah kepada anak didik; (4) spiritualisasi subyek didik. Sebagai “pipa” penyalur rahmat dan berkat dari Tuhan, guru harus menjadi orang yang bersih, tidak bermasalah dan terhormat sehingga dapat membersihkan hati dirinya sendiri dan hati anak didik. Guru dan anak didik adalah orang yang hatinya bersih dan  “raksasa tidur” dalam diri mereka bangkit sehingga semua potensi kecerdasan (IQ, EQ dan SQ) dapat terintegrasi dan dapat bekerja secara maksimal. Guru dan murid bukan semata-mata sebagai “instrumen” melainkan harus menjadi spiritual human being. Guru dan murid bukan orang yang punya ilmu (having knowledge), punya agama (having religion) dan punya pengetahuan spiriritualitas (having spirituality), melainkan menjadi (being), yaitu berpengetahuan (being knowledge), beragama (being religion) dan berspiritual (being spirituality)

    Spiritualitas yang dikembangkan dalam kepemimpinan adalah spiritualitas asketik, yaitu intensitas pengabdian kepada Tuhan yang dijalankan dalam kegairahan kerja sehingga dapat membuahkan kesalehan. Spiritualitas asketik dalam tesis Weber merupakan basis teologis dan etis lahirnya semangat kapitalisme. Hal ini terbukti dari pertumbuhan lembaga secara signifikan, dan pertumbuhan lembaga itu diperlukan dalam rangka penumpukan kapital. Misalnya, biaya pendidikan menjadi tidak murah lagi yang ditandai dengan biaya sumbangan pembangunan dan SPP atau BP3 naik berlipat ganda. Semua itu dilakukan  dalam rangka memenuhi kebutuhan fisik dan fasilitas, melengkapi media  pembelajaran, peningkatan kesejahteraan guru dan karyawan dan dana abadi. Kemajuan sekolah termasuk di dalamnya prestasi anak didik adalah instrumen untuk melipatgandakan kapital.


    [1] Lecturer at Muhammadiyah University Malang Indonesia and Visiting Accociate Professor at Malaya University Malaysia.

    [2] Pendidikan Islam yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah lembaga pendidikan yang dikelola oleh umat Islam baik yang berbentuk sekolah atau madrasah, yang dikelola swasta maupun pemerintah. Identitas keislaman biasanya tampak pada nama lembaga pendidikan itu, misi penyelenggaraan dan tambahan muatan pendidikan agama Islam yang lebih banyak dibanding sekolah pada umumnya.

    [3] Lihat www.bagais.go.id. Keprihatinan terhadap rendahnya mutu pendidikan Islam antara lain dikemukakan oleh Azra dalam, Pendidikan Islam, Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos, 2000; dan Tafsir dalam, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994.

    [4] Edmonds. R. 1979. Some School Work and More Can, dalam Social Policy, 9 (2), hal. 28-32.

    [5] F. Hallinger & K. Leithwood. 1994. Introduktion: Exploring the Impact of Principal Leadership. School Effectiveness and School Improvement. Hal.  206-218.

    [6] A. Blumberg & W. Greenfield. 1980. The Effective Principle: Perspectives on School Leadership. Boston: Allyn and Bacon Inc.

    [7]

    [viii] Ian Percy. 1997. Going Deep: Exploring Spirituality in Life and Leadership. Arizona USA: Buckskin Trail.

    [ix] Gay Hendricks & Kate Ludeman. 1996. The Corporate Mystic: A Guidebook for Visionaries With Their Feet on the Ground. New York: Bantam Books.

    [x] Herry Tjahjono. 2003. kepemimpinan Dimensi keempat, Selamat Tinggal Krisis Kepemimpinan. Jakarta: Elex Media Komputindo.

    [xi] Daniel Goleman. 2003. Working With Emotional Intelligence, Kecerdasan Emosi Untuk Mencapai Puncak Prestasi. Jakarta: Gramedia.

    [xii] Robert K. Cooper Dan Ayman Sawaf. 2002. Execitive EQ, Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan Organisasi. Jakarta: Gramedia.

    [xiii] Oxford Advanced Learners’s Dictionary. 1995. Oxford Universuity Press. Hal. 1145-1146.

    [xiv] Michael H. Hart. 1994. Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam sejarah. Jakarta: Pustaka Jaya. Hal. 27.

    [xv] http://www.sinarharapan co.id/ekonomi/mandiri/2002/083/man01.html

    [xvi] Marsha Sinetar, 2001. Spiritual Intelligence, Kecerdasan Spiritual Belajar Dari Anak yang Mempunyai Kesadaran Dini, Jakarta: Elek Media Komputindo, hal. Ix.

    [xvii] Danah Zohar dan Ian Marhall, 2000. SQ. Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, London: Bloomsbury, hal. 3-4.

    [xviii] Gay Hendricks dan Kate Ludeman, 1996. The Corporate Mystic: A Guidebook for Visionaries with Their Feet on  the Ground. New York.: Bantam Book, hal. Xxviii-xxix.

    [xix] Ian Percy, 1997. Going Deep, Exploring Spirituality in Life and leadership, (terj. Rudi Ronald), Jakarta: BIP. Hal. 77.

    [xx] Hrry Tjahjono, 2003. Kepemimpinan Dimensi keempat’ Selamat Tinggal Krisis kepemimpinan. Jakarta: Elek Media Komputindo, hal 99-100.

    [xxi] Kuntowijoyo, 1991. Paradigma Islam Interpretasi Untuk Aksi, Bandung: Mizan, hal 288.

    [xxii] http://www.sinarharapan co.id/ekonomi/mandiri/2002/083/man01.html

    [xxiii] Michael Levin, 2000. Spiritual Intelligence, Awakening the power of Michael Levin, Spiritual Intelligence, Awakening the Power of Your Spirituality and Intuition, London: Hodder & Stoughton. hal. 206.

    [xxiv] Noble Industry (industri mulia). Lembaga pendidikan harus dikelola secara professional sebagaimana layaknya dunia bisnis yang harus mendatangkan keuntungan, akan tetapi keuntungan itu tidak menjadi hak secara mutlak bagi para pemilik modal (yayasan, badan penyelenggara) melainkan dikembalikan untuk kepentingan peningkatan mutu pembelajaran.

    [xxv] Gay Hendricks dan Kate Ludeman, 1996. The Corporate Mystic. New York: Bantam Books.

    [xxvi] Ian Percy, 1997. Going Deep, Exploring Spirituality in Life and Leadership. Arizona: Inspired Productions Press.

    [xxvii] Fotarisman Zaluchu, 2003. Kepemimpinan Dalam nama Tuhan. Yogyakarta: Gloria Graffa.

    [xxviii] Ary Ginanjar Agustian. 2001. ESQ Emotional Spiritual Quotient. Jakarta: Arga.

    [xxix] Projosaksono, ibid.

    [xxx] Bancard, Kenneth dan Johnson Spencer, M.D. 2001. The One Minute Manager. Jakarta: PT Elek Media Komputindo. Lihat juga http://.spiritual-learning.org/message/khanindex.html. Dengan penuh keyakinan Blanchard mengatakan: “Kami percaya bahwa suatu aturan moralitas yang kuat dalam bisnis apapun adalah suatu langkah awal menuju kesuksesan bisnis itu. Kami percaya bahwa para manajer etis adalah manajer-manajer yang berjaya”.

    [xxxi] http://www.sinarharapan co.id/ekonomi/mandiri/2002/083/man01.html

    [xxxii] John Rawls, 1997. A Theory of Justice, New York: Columbia University Press, hal. 12.

    [xxxiii] Ian Percy. 1997. Going Deep, Exploring Spirituality in life and Leadership. Arizona: Inspired Production Press. Hal. 265.

    [xxxiv] Q.S. al-Ra’du (13) : 28.

    [xxxv] W.C. Smith, 1963. Modern Islam in India, Lahore:  Ashraf, hal. 111.

    [xxxvi] QS.  Al-Maidah (6): 162.

    [xxxvii] Ian Percy, ibid. hal. 226-7.

    [xxxviii] Gay Hendricks dan Kate Ludeman, ibid. hal. 18.

    [xxxix] Ian Parcy, ibid, hal. 75-7.

    [xl] Ian Parcy, ibid. hal. 240.

    [xli] Sayyid Mahdi as-Sadr. 2003. The Ahl ul-Bayt; Ethical Role-Models (terj. Ali bin Yahya), Jakarta: Pustaka Zahra, hal. 31.

    Leave a reply

    *