Prof. Dr. Tobroni, M.Si. Blog
RSS icon Email icon
  • PARADIGMA PEMIKIRAN ISLAM

    Posted on December 1st, 2010 tobroni No comments

    Prof. Dr. Tobroni, M.Si.

    Konsep Paradigma

    Istilah ”paradigma” secara harfiah  dapat berarti (general pattern atau model (Oxford Advanced Learner’s Dictionaries). Paradigma juga dapat berarti kaidah, dalil, tasrif dan pola dari suatu teori yang dianggap benar dan baku. Teori yang dianggap benar dan baku dapat dijadikan asumsi atau proposisi sehingga dapat dijadikan pijakan kegiatan ilmiah. Berangkat dari konsep tentang paradigma ini lantas melahirkan konsep-konsep turunannya seperti world view (pandangan dunia), frame work (kerangka kerja), logical frame work analysis dan mindset. Misalnya, keyakinan bahwa kitab suci merupakan wahyu dari Tuhan dan memiliki kebenaran, lantas dijadikan rujukan dalam berfikir, bersikap, dan berperilaku. Pola pikir yang berpedoman pada keyakinan akan kebenaran firman Tuhan,  disebut paradigma teologis, yaitu pandangan dunia dan mindset yang muncul dari sebuah keyakinan teologis, bersumber dari Tuhan.

    Ilmu sosial menurut Giddent memiliki multi paradigma. Paradigma adalah pangkal tolak (starting point) dan sudut pandang (point of view) dalam mengkaji suatu hal. Perbedaan paradigma bukan hanya akan menghasilkan pemahaman yang berbeda, melainkan juga nilai dan norma berbepa pula. Contoh ekstrem diibaratkan ada beberapa orang buta yang berusaha memahami seekor gajah. Ada yang meraba belalainya, telinganya, kakinya, perutnya dan ekornya, dan lantas masing-masing mendefinisikan gajah. Hasilnya adalah masing-masing memiliki pemahaman, pengertian dan perlakuan berbeda terhadap gajah. Dalam kehidupan sosial, paradigma yang berbeda akan menyebabkan keyakinan, nilai, dan norma yang berbeda pula.

    Ketika paradigma tertentu tidak dapat lagi dijadikan pegangan atau tidak lagi mampu menjawab persoalan hidup yang terus berkembang semakin kompleks dan kualitatif, maka paradigma lama akan mengalami anomaly dan kemudian terjadi krisis, dimana paradigma dan nilai-nilai lama tidak lagi dapat dijadikan pegangan sementara nilai-nilai baru belum terbentuk. Akan tetapi masyarakat manusia adalah makhluk yang tidak mau hidup dalam kekacauan (krisis dan chaos). Karena itu segera dibangun paradigma baru.

    Dalam dunia akademik, perilaku ilmiah senantiasa didasarkan pada paradigma tertentu sebagai landasan suatu teori dan metode. Kebenaran ilmiah itu bersifat relatif dan ilmu pengetahuan perlu terus menerus diadakan penelitian (research) untuk menemukan kebenaran baru, merevisi dan menyempurnakan temuan yang sudah ada. Apabila paradigma lama  dianggap tidak lagi relevan dan bahkan menimbulkan krisis, diperlukan paradigma baru. Thomas S. Kuhn dalam The Structur of Scientific Revolution (1996) mengelaborasi  bagaimana perubahan dari paradigma lama yang mapan kemudian mengalami anomaly, krisis, revolusi dan kemudian muncul paradigma baru:

    P. I       NC         A          CR      P. II

    GAMBAR 1, Perubahan Paradigma Ilmu Pengetahuan menurut Thomas Kuhn

    Penjelasan:

    P I   = Paradigma I

    NC  = Normal Science

    A     = Anomalies

    C     = Krisis

    R     = Revolusi

    P II  = Paradigma II

    Apabila konsep tentang paradigma perubahan paradigma tersebut digunakan untuk memahami pendidikan Islam, maka pendidikan Islam harus di research secara berkelanjutan.  Problematika di bidang pendidikan yang terus berkembang mengharuskan adanya teori-teori dan metode-metode pendidikan yang baru.

    Epistemologi dan Perkembangan Keilmuan/Pemikiran  Islam

    Epistemologi secara kebahasaan berasal dari term Yunani [Greek], episteme yang sepadan dengan term knowledge: logos. Epistemologi atau theory of knowledge ini sering diuraikan sebagai: ilmu (bagian dari filsafat) tentang bagaimana mendapatkan ilmu pengetahuan, logika, dan batas ilmu pengetahuan.

    Bidang epistemologis ini menempati posisi yang sangat strategis, karena ia membicarakan tentang cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Mengetahui cara yang benar dalam mendapatkan ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan hasil yang ingin dicapai yaitu berupa ilmu pengetahuan. Pada kelanjutannya kepiawaian dalam menentukan epistimologis, akan sangat berpengaruh pada warna atau jenis ilmu pengetahuan yang dihasilkan.

    Secara umum epistimologi dalam Islam memiliki tiga kecenderungan yang kuat, yaitu bayani, burhani dan irfani,:

    Pertama, epistemologi bayani adalah epistemology yang berangkat dari iman, cara mendapatkan ilmu pengetahuan yang bersumber dari iman, kajian ilmiah tentang iman. Misalnya epistemologi yang berangkat dari keyakinan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah wahyu [teks] atau penalaran dari teks. Epistemologi bayani akan melahirkan  Ilmu-ilmu keislaman seperti hadis, fikih, ushul fikih, tasyawuf, ilmu kalam.  Epistemologis bayani merupakan suatu cara untuk mendapatkan pengetahuan dengan berpijak pada teks, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dalam arti menganggap teks sebagai pengetahuan jadi, dan secara tidak langsung yaitu dengan melakukan penalaran yang berpijak pada teks ini. Dengan kata lain sumber pengetahuan menurut epistemologi ini adalah teks, atau penalaran yang berpijak pada teks.

    Kedua, epistemologi burhani adalah epistemologi yang berpandangan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah akal. Akal menurut epistemologi ini mempunyai kemampuan untuk menemukan berbagai pengetahuan, bahkan dalam bidang agama sekalipun akal mampu untuk mengetahuinya, seperti masalah baik dan buruk. Epistemologi burhani disebut juga dengan pendekatan ilmiah dalam memahami agama atau fenomena keagamaan. Epistemologi burhani dapat menggunakan pendekatan sejarah, sosiologi, antropologi, psikologi, filsafat dan bahasa (hermeneutika).

    Ketiga, epistemologi irfani adalah epistemologi yang beranggapan bahwa ilmu pengetahuan adalah kehendak [irodah]. Epistemologi ini memiliki metode yang khas dalam mendapatkan pengetahuan, yaitu kasyf. Epistemologi ini menggali ilmu pengetahuan berdasarkan pada pengalaman spiritual yang bersifat individual. Ia mendapatkan ilmu pengetahuan/kebenaran melalui pengalaman bathin dan melalui proses-proses yang unique karena tidak bisa dirasionalkan dan diperdebatkan. Epistemologi ini benar-benar sulit dipahami, karena sifatnya yang tidak bisa diverifikasi dan didemonstrasikan. Epistemologi ini lebih mengandalkan pada rasa individual, daripada penggambaran dan penjelasan, bahkan ia menolak penalaran. Penganut epistemologi ini adalah para sufi, para spiritualis.

    Ketiga kecenderungan epistemologis Islam di atas, secara teologis mendapatkan justifikasi dari al-Qur’an. Dalam al-Qur’an banyak ditemukan ayat-ayat yang berbicara tentang pengetahuan yang bersumber pada rasionalitas. Perintah untuk menggunakan akal dengan berbagai macam bentuk kalimat dan ungkapan merupakan suatu indikasi yang jelas untuk hal ini. Akan tetapi meski demikian tidak sedikit pula paparan ayat-ayat yang mengungkap tentang pengetahuan yang bersumber pada intuisi [ hati atau perasaan] terdalam.

    Leave a reply

    *