Prof. Dr. Tobroni, M.Si. Blog
RSS icon Email icon
  • STRATEGI KEBUDAYAAN SEBAGAI ALAT DAKWAH PADA ALAF KETIGA (Bahasa Melayu)

    Posted on December 1st, 2010 tobroni No comments

    Oleh: Tobroni[1]

    Abstract

    Dakwah invite human to truth of God. Dakwah is God, prophet and human calling activity. Generally, dakwah approach were divided  two categories: structural and cultural approach, and dakwah method were divided: bi al-lisan and bi al-hal. Content of dakwah is core belief and core values who be based of civilization. So dakwah is path of civilization project, dakwah is calling for quality human life.

    The third millennium called information technology era. Many challenges and opportunities  of dakwah in this era. So, the actor of dakwah must be creative to make his dakwah more effective. Dakwah will be effective in this era if its path of culture development. Culture development must be nuance of dakwah. Dakwah as cultural strategy is non violent, empowerment and dialogical approach (bi al-hikmah wa al-mau’idhah hasanah wajadilhum billati hiya ahsan)

    Pendahuluan

    Islam adalah agama dakwah, setiap muslim adalah da’i bilapun dan dimanapun berada. Perintah berdakwah itu berlaku bagi individu, kumpulan, organisasi syarikat, bahkan negara. Dakwah adalah aktiviti yang melekat pada setiap orang sepanjang hayatnya.

    Dakwah secara bahasa berarti mengajak atau menyeru baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedang secara istilah adalah mengajak diri sendiri dan orang lain kepada jalan Tuhan, jalan fitrah, jalan kebajikan dan  jalan keselamatan. Seruan itu boleh dilakukan dengan ucapan, perkataan dan tulisan (bi al-lisan) dan perbuatan/karya nyata, simbol, artefak,  termasuk di dalamnya dengan kekuasaan  (bi al-hal). Dakwah berarti kita merasa memiliki, peduli dan  menghargai nilai-nilai luhur dan berharga dalam kehidupan. Dengan berdakwah berarti kita lebih menyayangi, menghargai dan menghormati manusia kerana ikut menyelamatkan hidup dan masa depannya. Dalam pengertian yang luas, berdakwah adalah membangun kebudayaan dan peradaban. Hakekat dakwah adalah hidup itu sendiri. Keharusan berdakwah adalah keharusan hidup itu sendiri. Dakwah is necessari of life, calling of life and colling for life be better.

    Sebaliknya bila hidup seseorang tidak mengemban misi dakwah –mungkin saja ianya menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur untuk dirinya sendiri- berarti ia bersikap egois dan kurang rasa berperikemanusiaan karena tidak ikut ambil bagian dari project besar yaitu kurang menyayangi, menghargai dan menghormati manusia kepada keselamatan dan kebahagiaan hidupnya. Kalau seseorang tidak menyayangi dan menghormati orang lain, maknanya ia memang bukan orang berhormat dan tidak layak dihormati dan dihargai. Berdakwah adalah tindakan terhormat karena membuat diri dan orang lain terhormat. Kalau seseorang menyadari bahwa segala ucapan, perbuatan, simbol-simbol dan artefak-artefak yang melekat padanya bernilai dakwah, bukan karena dorongan libido seksual sebagaimana dikatakan oleh Freud, atau karena motif-motif ekonomi sebagaimana dikatakan oleh Marx, maka orang itu pasti memilih ucapan dan tindakan yang terbaik. Karena itu menanamkan kesadaran bahwa semua dimensi kehidupan bagi setiap muslim bernilai dakwah menjadi sangat penting. Dakwah bukan hanya di mimbar, di masjid dan ceramah-ceramah agama, melainkan segala dimensi kehidupan setiap muslim bernilai dakwah. Hal inilah yang akan menciptakan kehidupan lebih indah, damai, harmoni. Segala bentuk kejahatan seperti rasuah, berbagai bentuk kekerasan (violent) dan kerosakan  dapat dikurangi secara signifikan. Seorang anggota polis yang mengemban misi dakwah pasti akan tampil prima dan menjalankan tugas dengan profesional; seorang pedagang yang juga da’i pasti akan lebih jujur dalam berdagang, seorang cikgu yang juga sekaligus da’i pasti akan dapat mengajar dengan lebih baik, dapat menjadi role model, lebih sabar dan menyayangi murid-muridnya. Pendek kata, dengan dakwah hidup akan lebih bermakna, lebih indah, lebih bersemangat dan lebih segalanya.

    Perintah berdakwah itu memang berasal dari Tuhan, akan tetapi bukan untuk kepentingan Tuhan semata, melainkan untuk keperluan manusia, yaitu agar manusia memilih jalan keselamatan dan kelangsungan hidup di dunia dan bekal di akhirat kelak. Dengan berdakwah manusia sadar akan perjalanan hidupnya, sadar akan hakekat hidupnya (dari mana, ada dimana dan mau kemana, inna lillâhi wa inna ilaihi rajiûn). Karena itu dengan berdakwah manusia akan sentiasa waspada, berhati-hati, berupaya memperbaiki diri dan kualiti hidupnya. Dengan berdakwah hidup akan lebih bermakna, lebih berkualiti, lebih terhormat dan membuat hidup lebih hidup.

    Karena berdakwah adalah tugas dan tindakan mulia, maka harus dilakukan dengan cara-cara yang mulia, oleh orang-orang yang mulia pula dan di tempat yang mulia pula. Dalam al-Qur’an dikatakan bahwa menyeru kepada jalan Tuhan harus dilakukan dengan bi al-hikmah (wisdom, non violent), mau’idhah hasanah (empowerment) dan mujadilah billati hiya ahsan (argumentatif, discource).  Pendeknya, dakwah harus dilakukan dengan kemuliaan dan penuh keadaban.

    Dakwah harus dilakukan kepada semua orang, yang sudah menerima Islam (ummah al-ijabah) maupun yang belum menerima seruan Islam (ummah al-da’wah), dan terus menerus sepanjang hayat. Dalam berdakwah harus didasari keihlasan yang tinggi dan bertujuan untuk menyeru kepada jalan Tuhan, bukan kepada jalan golongan atau aliran agama apalagi partai politik semata. Dengan keihlasan yang tinggi inilah yang akan memberikan kekuatan moral, motivasional maupun spiritual dan kepada pelaku dakwah ketika dakwahnya berhasil maupun belum berhasil.

    Persoalan Dakwah di Era Alaf Ketiga

    Setiap tempat (space) dan zaman (time) memiliki watak, persoalan dan cabaran masing-masing. Demikian juga pada zaman alaf ketiga dan di berbagai belahan dunia seperti sekarang ini. Alaf ketiga disebut juga era teknologi informasi, era informasi, revolusi informasi dan revolusi digital. Alaf ketiga disebut juga era post modernism. Era informasi membawa impak adanya keterbukaan, kebebasan berfikir dan berekspresi. Impak dari adanya keterbukaan  adalah  berakhirnya era monopoli  kebenaran/informasi. Di bidang sistem pemerintahan berkembang tuntutan desentralisasi dan otonomi; di bidang manajemen berkembang Total Quality management (TQM);  di bidang pendidikan/pembelajaran muncul model pembelajaran konstruktivisme; di bidang arsitektur berkembang posmodernisme; dan dalam bidang sosial budaya muncul pemikiran pluralisme multikulturalisme yang melintasi batas negara maupun geografis (globalisasi). Agama yang keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari space and time tidak dapat lepas dari pengaruh era informasi. Kebenaran penafsiran/pemikiran agama harus siap diuji kembali  dan kejanggalan atau ”kehohongan” paham agama karena ada hiddent agenda di dalamnya yang selama ini diterima begitu saja sebagai dogma harus siap dikritisi kembali. Muncullah kemudian berbagai aliran, pemikiran dari yang ultra liberal seperti Islam Liberal sampai yang ultra salafi seperti Salafi Jihadi (Taliban, Jemaah Islamiah (JI), al-Qaida). Era keterbukaan juga melahirkan aliran-aliran baru yang dianggap sesat.

    Era alaf ketiga disebut juga era post modernism (posmo). Era posmo maknanya berakhirnya era modern yang ditandai dengan standardization (standarisasi), hegemoni Barat atas etika, norma dan estetika (westernisasi). Etika, norma dan estetika lokal dan  tradisional yang bernilai tinggi (heritage) menjadi komodity berharga dan dicari orang. Berbagai jenis kesenian, ukiran, lukisan, bentuk bangunan dan  adat yang unik dan bernilai sebagai warisan (heritage) menjadi tujuan pelancongan. Karena itu berbagai bentuk warisan itu yang dulu menjadi media komunikasi dan media dakwah perlu dihidupkan dan diaktualkan kembali sebagai media dakwah di era alaf ketiga ini.

    Dakwah pada era informasi juga tidak  lepas dari adanya perang informasi (propaganda).  Dalam hal ini Islam sebagai sebuah kekuatan politik dan ekonomi tidak lepas dari sasaran propaganda dari kekuatan politik dan ekonomi anti Islam seperti gerakan islamophobia yang menuduh Islam dan umatnya sebagai: anti demokrasi, terorisme, barbarisme/anti peradaban, anti intelektual, anti pluralisme dan multikulturalsme, anti feminisme, menganjurkan poligami,  arabisme,  dan stereotype dan stigma lainnya.

    Berdasarkan huraian di atas, dakwah pada alaf ketiga memerlukan reorientasi dan reformulasi yang meliputi objektif, isi, organisasi, kaedah dan alat yang  relevan dengan soalan dan cabaran zaman dan makan. Dakwah mimbar yang menggurui, menakut-nakuti, mengecam dan  mengancam kelompok lain, agama lain atau budaya lain, dan dakwah yang hanya mengawetkan nilai-nilai/pemikiran yang usang, dakwah yang membelenggu dan membebani  perlu ditinjau kembali. Dakwah pada alaf ketiga adalah dakwah yang cerdas, mencerdaskan dan mencerahkan, dakwah yang bijak dan penuh keadaban, dakwah yang mengilhami, menguatkan dan membebaskan.

    Perlunya reorientasi dan reformulasi dakwah Islam pada alaf ketiga kerana masih ada kesenjangan antara dakwah yang idea (dassolen) dan yang realita (dassain).  Berikut dikemukakan matrik persoalan dakwah pada alaf ketiga berdasarkan pengamatan:

    DAKWAH ANTAR IDEA DAN REALITA

    Komponen Dakwah Yang Idea  (dassolen) Yang Realita (dassain)
    Tujuan dakwah Ke jalan Allah Ke jalan golongan/ mazhab/ partai
    Isi dakwah Kebenaran Islam universal Kebenaran golongan/mazhab
    Sasaran dakwah Ummah al-da’wah dan ummah al-ijabah Ummah al-ijabah
    Metode/kaedah dakwah Bi al-lisan dan bi al-hal Lebih dominan bi al-lisan atau dakwah mimbar
    Sifat dakwah inklusif Dominan yang eksklusif
    Sifat dakwah Bil-hikmah wa al-mau’idah… Masih lebih dominan yang menggurui, mengancam, mengolok-olok golongan/agama lain
    Organisasi dakwah Well organized Kumpulan, perorangan
    Program dakwah Terprogram, terencana, terukur Insidental, kes per kes
    Konteks dakwah Integrated dengan persoalan hidup Sparated dengan persoalan hidup
    Alat dakwah Sarat teknologi, sarat modal dan networking dengan dimensi dan persoalan hidup Menggunakan teknologi, kurang modal dan kurang networking dengan dimensi dan persoalan  kehidupan
    Perilaku dakwah ofensif defensif
    Hubungan antar organisasi dakwah Networking dan kerjasama antar organisasi dakwah Kompetisi dan konflik antar organisasi dakwah
    Dakwah dan kebudayaan Dakwah bagian dari strategi kebudayaan Dakwah untuk mengkanter kebudayaan

    Alat Dakwah pada Alaf Ketiga: Membangun Strategi Kubudayaan

    Persoalan dakwah adalah persoalan hidup, dan hidup dalam segala dimensinya adalah kebudayaan. Dakwah tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, bahkan hakekat berdakwah adalah membangun kebudayaan. Kebudayaan adalah alat dakwah yang paling efektif dan bahkan dakwah itu sendiri.

    Kalau umat Islam menghendaki dakwah yang paling efektif, maka harus menyusun strategi kebudayaan. Strategi kebudayaan sangat diperlukan dalam mendakwahkan Islam. Strategi kebudayaan dibangun berdasarkan core belief, core values dan mindset keislaman diantara pelaku dakwah dan umat Islam pada umumnya. Hal itu diperlukan terutama untuk membangun nilai-nilai dan mindet yang sejalan dengan visi dan misi Islam dalam konteks kemajemukan umat Islam itu sendiri maupun kemajemukan seluruh umat manusia. Dengan visi-misi yang jelas dan berlandaskan pada core belief dan core values Islam, umat Islam dapat melakukan tindakan strategis, memiliki skala prioritas (terfokus), dapat mengeliminasi perbedaan, menghindari pertentangan dan konflik sesama, maupun konflik dengan kekuatan agama lain. Dengan strategi kebudayaan yang jelas, umat Islam dapat menghindarkan diri dari perilaku reaktif dari tindakan propaganda anti Islam. Propaganda anti Islam bertujuan menghabiskan energi umat Islam, memecah belah umat Islam, mendiskreditkan Islam dan umatnya. Dakwah dengan strategi kebudayaan akan menggantikan ketegangan (perang dingin) dengan kompetisi, permusuhan dengan persaudaraan, konflik dengan kerjasama. Kompetisi, persaudaraan dan kerjasama jelas lebih islami, bermakna dan bermartabat dari pada  ketegangan, permusuhan dan konflik. Bukankah Islam itu agama damai yang sangat menjunjung tinggi silaturahim dalam pengertian seluas-luasnya termasuk sillaturrahiem antar bangsa dan peradaban? Tesis propaganda Samuel Huntington dalam The Clash of Civilization yang memposisikan Islam sebagai musuh peradaban Barat seharusnya dijawab dengan bukti-bukti ilmiah sejarah peradaban Islam yang justru memberikan kontribusi yang sangat besar pada peradaban Barat. Peradaban Barat adalah kelanjutan dari Peradaban Islam. Sebaliknya Kemajuan peradaban Barat harus dibayar dengan jutaan nyawa bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin serta kerusakan alam yang hebat. Kesalahan sebagian umat Islam pada era alaf ketiga ini adalah termakan dengan propaganda Barat dan Huntington dengan melakukan tindakan sebagaimana yang mereka tuduhkan itu: terorisme, anti demokrasi, anti intelektual, anti peradaban, anti pluralisme dan membelenggu perempuan.

    Dengan memiliki strategi kebudayaan, maknanya umat Islam memiliki nilai-nilai dan mindset dan program umum bersama  yang dijadikan sebagai general pattern.  Dengan memiliki strategi kebudayaan juga akan diketahui dan didefinisikan siapa yang dianggap musuh bersama, bila harus bekerjasama dan berkompetisi. Dengan itu,  konflik karena perbedaan mazhab, golongan, partai politik, dan bahkan diantara sesama negara muslim  dapat dihindarkan.

    Dakwah melalui strategi kebudayaan  itu dapat dilakukan lewat jalur struktural dan kultural. Jalur struktural antara lain melalui politik dan partai politik, birokrasi, undang-undang yang mengemban misi dakwah. Dari sini muncul istilah politik untuk dakwah dan dakwah lewat politik, islamisasi birokrasi, dan pelembagaan syariah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dakwah lewat jalur struktural itu diperlukan sumber manusia yang handal, yaitu manusia yang memiliki kecanggihan berpikir, keahlian bersiasat, sikap kepemimpinan dan keterbukaan yang tinggi dan kesabaran menghadapi lawan-lawan politik yang tidak sejalan. Tanpa itu, dakwah dengan pendekatan struktural hanya akan melahirkan pola pikir idealistik-destruktif, idealistik-anomaly dan tradisi oposisi (pembangkangan) terhadap sistem politik dan kekuasaan yang ada sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian besar gerakan Islam sepanjang sejarahnya. Sikap politik idealistik normatif destruktif adalah mencita-citakan sistem politik yang ideal seraya menolak sistem yang ada akan tetapi yang ideal itu secara idografis dan nomotetik tidak/belum teruji dalam sejarah sekarang dan masa depan. Dakwah lewat pendekatan struktural ini sangat rawan dengan conflic of interest, konflik dengan pengusa, dan bahkan konflik antar pelaku dakwah. Contoh model dakwah ini adalah Gerakan Pan Islamisme Jamaluddin al-Afghani, Hizbuttahrir dan Salafi Haraki. Gerakan Islam di Filipina Selatan, Thailand Selatan, Thaliban dan bahkan  sebagian besar gerakan Islam baru (newly Islamic Movement) berorientasi struktural.

    Jalur yang kedua adalah jalur kultural. Dakwah pendekatan kultural adalah dakwah dengan pendekatan budaya atau pendekatan humanistik yang non politik atau non partisan. Pendekatan kultural dapat dilakukan dengan pencerahan (enlighment), penguatan (inforcement), pemberdayaan (empowerment) nilai-nilai kemanusiaan dan atau nilai-nilai keislaman. Hal ini terutama dapat dilakukan melalui pendidikan (formal, informal maupun non formal),  pengembangan seni dan budaya, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, informasi dan berbagai program penguatan lainnya. Jalur kultural ini biasanya dilakukan oleh organisasi non goverment seperti organisasi sosial keagamaan, yayasan-yayasan, organisasi sosial kemasyarakatan, dan organisasi-organisasi non pemerintah (Non Goverment Organization).

    Dalam prakteknya organisasi-organisasi ini sangat efektif dalam membangun masyarakat sipil yang tangguh (masyarakat madani) dan kekuatan dakwah biasanya bukan terletak pada dukungan kekuasaan, melainkan pada budaya yang berlaku di masyarakat. Dakwah dengan pendekatan kultural ini terbukti sangat efektif karena sejalan dengan semangat philantropis yang sangat dianjurkan oleh agama. Pendekatan kultural  dapat memanfaatkan  sumber manusia, sumber sosial, sumber kewangan, sumber organisasi dan sumber informasi. Anjuran berjuang di jalan Allah, bersedekah, berzakat, dan perintah beramar ma’ruf nahi munkar dalam pengertian luas merupakan sumber dan sekaligus kekuatan moral, motivasional, spiritual dan kekuatan wang untuk menopang berbagai gerakan amal-kemanusiaan.

    Dakwah dengan pendekatan kultural terbukti dalam sejarah lebih berkesan, tahan lama, damai dan harmoni. Pada Alaf ketiga atau era teknologi informasi ini, dakwah dengan pendekatan kultural dianggap lebih tepat karena dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk menyampaikan pesan-pesan damai Islam kepada seluruh dunia, bukan saja kepada ummah al-ijabah tetapi juga kepada ummah al-da’wah di seluruh dunia. Proyek uswah hasanah di bidang pendidikan, kesehatan, penguatan ekonomi, seni budaya dan sosial kemasyarakatan akan lebih relevan dan berkesan.

    Muhammadiyah: Model Gerakan Dakwah dengan Strategi Kebudayaan

    Muhammadiyah adalah organisasi sosial keagamaan atau boleh disebut juga sebagai Islamic Non Goverment Organization (NGO keagamaan), ditubuhkan pada 18 Nopember 1912. Pada muktamarnya yang ke 46 di Yogyakarta pada tahun 2010, Muhammadiyah genap berusia 100 tahun menurut kalender Hijriah. Muhammadiyah adalah organisasi sosial keagamaan tertua di Indonesia, dan organisasi sosial pergerakan kemerdekaan yang masih eksis.

    Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di kota Yogyakarta memiliki profil sebagai berikut:

    1. Visi: Islam yang rahmatan lil’alamin, Islam yang berkemajuan, Islam yang gagah dan kuat dalam menghadapi kekuatan Barat (Penjajah) dan Kristen (misi zending).
    2. Misi: Melakukan gerakan amar ma’ruf nahi munkar (dalam makna yang seluas-luasnya)
    3. Semboyan: kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah al-shahihah, berlomba-lomba di dalam kebajikan (fastabiqu al-khairât), hidup hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah
    4. Inspirator gerakan : surat al-Ma’un
    5. Significan other: Ibnu Taimiyah, Moh. Abduh dan Rasyid Ridlo
    6. Program: (1) Kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah (revivalisme) termasuk salaf al-shalih yang disertai tajdid (modernisme) di bidang pemikiran dan gerakan; (2) meningkatkan derajat pendidikan, kesehatan dan sumber manusia penduduk pribumi (muslim), menyantuni fakir-miskin, anak yatim, orang-orang  lemah  dan golongan mustadz’afin lainnya.
    7. Amal usaha yang dimiliki: 149 universiti, sekolah tinggi dan  akademi; 13.000  sekolah rendah dan menengah, dan ribuan kinderganten; ratusan pesantren (pendidikan tradisional); ribuan madrasah diniyah; ribuan balai kesehatan: hospital, poliklinik, balai bersalin; ribuan hektar tanah wakaf; ribuan masjid dan surau (mushalla);  ribuan office di seluruh Indonesia dan cabang khusus luar negeri. Semua asset itu bukan milik pribadi, melainkan milik Persyarikatan (organisasi) Muhammadiyah
    8. Jumlah anggota berkad pengenal aktif ±1.500.000 orang dan ±15 – 20 juta  simpatisan
    9. Organisasi otonom: Aisiyah (wanita), Naisatul A’isiyah (belia puteri), Ikatan Pemuda Muhammadiyah (belia putra), Ikatan remaja  Muhammadiyah (putera-puteri), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah/IMM (mahasiswa), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (pelajar), Tapak Suci (bela diri) dan  Hizbul Wathan (kepanduan).

    Melihat profil Muhammadiyah tersebut, tidak terlalu berlebihan apabila Muhammadiyah merupakan NGO keagamaan terbesar dan paling rapi di dunia (muslim), paling konsisten dalam melayani umat, paling konsisten untuk tidak terseret dalam politik praktis, paling konsisten dalam pengabdiannya di bidang pendidikan dan kesehatan, dapat menjaga hubungan dengan umat dan kerajaan secara seimbang, dan paling konsisten dalam mengimbangi tetapi tidak memusuhi dan bahkan melakukan dialog dengan  gerakan/missi zending Kristen sejak zaman penjajahan/kolonial sampai sekarang.

    Dengan prinsip-prinsip di atas, Muhammadiyah merasa tidak memiliki musuh walaupun tetap ada yang memusuhi. Muhammadiyah menjawab berbagai tuduhan dan kritik dengan jawaban seperlunya dan dengan amalan nyata. Dakwah Muhammadiyah adalah dakwah yang mendahulukan amar ma’ruf dari pada nahi munkar, dakwah yang anti keganasan (non violent), dakwah yang menguatkuasakan (empowerment), dakwah yang menggembirakan, dan dakwah yang membebaskan, yaitu membebaskan dari belenggu kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, penyakit, mental inferioriti complex dan lain sebagainya.

    Dengan keteguhannya berhidmat di bidang dakwah, Muhammadiyah telah mendapatkan pengakuan luas dalam membangun peradaban umat, membangun bangsa dan negara. Dengan amalan nyata ini, Muhammadiyah banyak mendapatkan sokongan dari berbagai pihak dengan tanpa meminta-minta. Kontribusi dakwah Muhammadiyah dalam membangun peradaban umat antara lai berupa:

    1. Budaya amar ma’ruf nahi munkar. Muhammadiyah telah membangun dan memberikan contoh nyata dalam mengaplikasikan ajaran Islam khususnya tugas melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar secara konsisten. Wujud nyata amar ma’ruf antara lain dilakukan tabligh, pengajian dari level kampung (cawangan) sampai level pusat. Mindset amar ma’ruf nahi munkar ini tertanam kuat dalam sistem kepribadian warga Muhammadiyah sehingga memberikan kontribusi bagi penegakan hukum, undang-undang termasuk anti korupsi (rasuah), kolusi dan nepotisme.
    2. Budaya kerja. Untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil’alamin dan dalam rangka berfastaqiqul khairat, warga Muhammadiyah dituntut kerja keras, kerja cerdas dan kerja ihlas. Untuk mendirikan sebuah ranting (cawangan tingkat kampung) atau Cabang (daerah) harus disertai amal usaha minimal berupa pengajian rutin. Dari pengajian rutin kemudian ditubuhkan lembaga pendidikan seperti Madrasah Diniyah atau Taman Kanak-kanak (Kindergarten, Bustanul Athfal) dan seterusnya. Untuk menubuhkan Muhammadiyah tingkat Daerah (distrik) harus ada amal usaha seperti sekolah, balai kesehatan dan  panti asuhan. Dengan ketentuan ini warga Muhammadiyah dididik kerja dan kerja, amal dan amal. Setiap warga Muhammadiyah harus bisa berbuat untuk lingkungannya. Dimana ada warga Muhammadiyah atau persyarikatan Muhammadiyah dipastikan ada amal usahanya. Kultur Muhammadiyah adalah kultur sedikit bicara banyak kerja, menghindari dari polemik khilafiah yang melelahkan, menghindari fitnah dan saling kritik atau olok-olok diantara sesama gerakan Islam.
    3. Dakwah Muhammadiyah adalah dakwah bi al-hal atau dakwah dengan menggunakan alat dakwah. Alat dakwah itu dapat berbentuk amal-amal usahanya berupa lembaga-lembaga pendidikan, balai-balai kesehatan yang disebut Penolong Kesengsaraan Umum (PKU), dan panti-panti asuhan. Amal usaha ini terbuka untuk awam dan tidak ada keistimewaan bagi warga Muhammadiyah. Dengan amal usaha inilah Muhammadiyah mengenalkan dirinya, berdialog dan berdakwah. Tujuan Dakwah Muhammadiyah dapat dibagi dalam lima level:

    (1) level pertama, menjadi muslim yang benar dan menyokong gerakan Muhammadiyah,

    (2) level kedua, menjadi muslim yang baik,

    (3) level ketiga, senang kepada Islam,

    (4) level keempat, tidak memusuhi Islam dan

    (5) tidak memusuhi Muhammadiyah karena pernah merasakan amal usaha Muhammadiyah.

    4. Dakwah Muhammadiyah adalah dakwah yang berdimensi jangka panjang, membangun generasi dan membangun peradaban baru. Dalam merayu kepada Islam, Muhammadiyah menggunakan konsep dakwah keluarga. Konsep dakwah keluarga ini memiliki pengertian: (1) setiap keluarga muhammadiyah berkewajiban mengajak keluarga terdekat (tetangga) dan sanak saudara, (2) kalau orang tua keluarga itu belum bisa menerima, maka dididik anaknya dan seterusnya cucu (datuk) nya.

    5. Dakwah Muhammadiyah adalah dakwah membangun kader. Orientasi dakwah kader memang tidak hanya kuantiti, melainkan kualiti lebih diutamakan. Dengan memiliki kader yang berkualiti maka gerak Muhammadiyah akan semakin laju termasuk perkembangan amal usahanya. Konsep dakwah kader ini ada konsekuensinya, yaitu Anggota aktif Muhammadiyah tidak dapat bersifat massif dan bahkan terkesan elitis. Hal ini memang tidak bisa dihindari megingat Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan yang mampu menggabungkan watak salafi dan modernisme sekaligus. Kecenderungan gerakan Islam yang ada  ada selama ini tidak mampu menggabungkan kedua hal tersebut: yang salafi denderung leteral-tekstual dan anti modernisme, sedang yang modernisme cenderung kurang memperhatikan teks bahkan meninggalkan teks (makna zahir) sebuah teks baik al-Qur’an maupun al-Hadits. Bahkan tidak jarang antara salafi dengan modern saling menyerang. Tetapi hal itu tidak terjadi di Muhammadiyah dan inilah salah satu keunikan dan keistimewaan Muhammadihah, yaitu berislam yang benar sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dan para Sahabat Salafussalih, dan cekap dalam mengatasi berbagai soalan kontemporer. Muhammadiyah diibaratkan sebagai tenda besar yang semua muslim dapat berteduh dengan nyaman dan damai (at home).

    6. Tidak terseret pada politik praktis. Muhammadiyah yang telah berusia hampir satu abad telah memiliki pengalaman hidup dalam berbagai zaman mulai zaman Kolonial Belanda, Inggris, Jepang, sampai zaman kemerdekaan baik pada zaman Orde Lama, Orde Baru maupun Zaman Reformasi. Tegangan dari dalam dan tekanan dari luar agar Muhammadiyah terjun ke politik praktis begitu kuat, namun khittah Muhammadiyah yang tidak menghendaki berpolitik praktis dan independensi gerakannya selama ini, dapat menjaga dari berpolitik praktis. Tanpa berpolitik praktispun sesungguhnya Muhammadiyah telah memiliki kekuasaan, yaitu mengatur sikap politik warganya dan mengendalikan amal usahanya. Politik Muhammadiyah adalah high politic yaitu memproduksi, mensosialisasikan dan mengawal nilai-nilai etis dalam berpolitik. Kedua politik Muhammadiyah bukan politik aliran atau golongan, melainkan politik kebangsaan dan kenegaraan. Muhammadiyah adalah bagian dari Bangsa Indonesia dan milik semua Bangsa Indonesia dan untuk bangsa Indonesia. Muhammadiyah bukan partisan, Muhammadiyah adalah organisasi dan gerakan dakwah yang harus bersikap terbuka. Muhammadiyah Dapat masuk di semua lini dalam kehidupan bangsa dan negara: di organisasi militer, birokrasi sipil, partai politik, sarikat-sarikat dan NGO.

    Organisasi Dakwah semacam Muhammadiyah akhir-akhir ini justru semakin langka, yang ramai justru yang tidak dapat dibedakan antara organisasi dakwah dengan organisasi politik. Masjid bukan lagi milik umat tetapi milik partai, khutbah atau ceramah agama sama dengan kempen sebuah partai.

    Penutup

    Dakwah adalah tugas ketuhanan, kerasulan dan kemanusiaan. Dakwah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia yang berkeadaban. Isi dakwah pada dasarnya adalah nilai-nilai luhur yang mengangkat harkat dan menyelamatkan kehidupan manusia dan menjadi ruh peradaban. Aktiviti dakwah adalah motor penggerak peradaban. Dakwah yang tidak melahirkan peradaban; tidak meningkatkan kemuliaan akhlak, kesejahteraan, kenyamanan, keharmonisan dan keindahan, pada hakekatnya bukan dakwah kepada jalan Tuhan, melainkan ambisi suatu kelompok/golongan.

    Era alaf ketiga adalah zaman keterbukaan, zaman dimana tabir kepalsuan jubah-jubah agama dan ideologi akan terbongkar, yang pada saat yang sama dibarengi dengan pencarian agama yang fitri, agama nilai dan spiritualitas. Strategi dakwah yang efektif pada alaf ketiga adalah dakwah inheren dengan strategi kebudayaan yang dilakukan dengan pendekatan struktural maupun kultural.

    DAFTAR BACAAN:

    Fukuyama, Francis. Memperkuat Negara: tata pemerintahan dan tata dunia baru abad 21. Jakarta: Gramedia 2004

    Tim Pembina al-Islam. Muhammadiyah: Sejarah, Gerakan dan Amal Usaha. UMM Press, 1993.

    Huntington, Samuel. The Clash of Civilization and the Remaking of World Order. New York: Touchstone Centre, 1997.

    Naisbitt, John. Mind set. New York: Harper Collins, 2006

    BIODATA PENULIS

    Tobroni Lahir di Blitar Jawa Timur pada 6 Oktober 1965. Prof Madya Pelawat di API-UM. Lecturer di Fakultas Agama Islam dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. Gelar Ph.D diperoleh dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2005. Memperoleh pendidikan tambahan antara lain pada tahun 2003 tentang Islamic Studies and Arabic Teaching di Leipzig University Jerman (Timur) dan The Higher Education System in Germany di Hamburg University Jerman. Tahun 2005 melakukan Visiting Academic di Australian National University Canberra, Australia, dan tahun 2006 tentang Higher Education Leadership and Management Course di McGill University Canada. Menulis di beberapa media massa, majalah dan jurnal. Buku terakhir yang diterbitkan adalah The Spiritual Leadership 2005, Paradigma Pendidikan Islam (2008) dan Megembangkan Mutu Perguruan Tinggi Islam (2008). Hidup bahagia di Malang Indonesia bersama keluarga yang disayangi: istri Ririek Wuryantini, dan tiga orang anak Hero Adibi Abda (Hero), Sabiella Maris Adiba (Diba), dan Mahira Charmi Ainaya (Aya).


    [1] Dosen tetap Universitas Muhammadiyah Malang Indonesia, Visiting Associate Professor di Akademi Pengajian Islam University Malaya Malaysia.

    Leave a reply

    Captcha Garb (1.5)