Prof. Dr. Tobroni, M.Si. Blog
RSS icon Email icon
  • khutbah

    Posted on March 11th, 2011 tobroni No comments

    Islam adalah agama dakwah, setiap muslim adalah da’i kapanpun dan dimanapun berada. Perintah berdakwah itu berlaku bagi individu, kelompok, organisasi perusahaan, bahkan negara. Dakwah adalah aktivitas yang melekat pada setiap orang sepanjang hayatnya.

    Dakwah secara bahasa berarti mengajak atau menyeru baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedang secara istilah adalah mengajak diri sendiri dan orang lain kepada jalan Tuhan, jalan fitrah, jalan kebajikan, kebahagiaan dan  jalan keselamatan. Seruan itu bisa dilakukan dengan ucapan, perkataan dan tulisan (bi al-lisan) dan perbuatan, termasuk di dalamnya dengan kekuasaan  (bi al-hal).

    Sebagai Muslim kita semua adalah da’i, yang berarti kita semua adalah penyeru, pendakwah,  merasa memiliki, peduli dan  menghargai nilai-nilai luhur dan berharga dalam kehidupan. Dengan berdakwah berarti kita lebih menyayangi, menghargai dan menghormati manusia kerana ikut menyelamatkan hidup dan masa depannya. Dalam pengertian yang luas, berdakwah adalah membangun kebudayaan dan peradaban. Hakekat dakwah adalah hidup itu sendiri. Keharusan berdakwah adalah keharusan hidup itu sendiri. Dakwah is necessari of life, calling of life and calling for life to be better.

    Sebaliknya bila hidup seseorang tidak mengemban misi dakwah berarti ia bersikap egois karena tidak ikut ambil bagian dari project besar yaitu menyayangi, menghargai dan menghormati manusia kepada keselamatan dan kebahagiaan hidupnya.

    Berdakwah dengan demikian merupakan tindakan terhormat karena membuat diri dan orang lain terhormat dan selamat. Kalau seseorang menyadari bahwa segala ucapan, perbuatan, simbol-simbol yang melekat padanya bernilai dakwah, maka orang itu pasti memilih ucapan dan tindakan yang terbaik. Karena itu,  menanamkan kesadaran bahwa semua dimensi kehidupan bagi setiap muslim bernilai dakwah menjadi sangat penting. Dakwah bukan hanya di mimbar, di masjid dan ceramah-ceramah agama, melainkan segala dimensi kehidupan setiap muslim bernilai dakwah.

    Hal inilah yang akan menciptakan kehidupan lebih indah, damai, harmoni. Segala bentuk kejahatan seperti korupsi, berbagai bentuk kekerasan dan kerusakan  dapat dikurangi secara berarti. Seorang anggota polisi yang mengemban misi dakwah pasti akan tampil prima dan menjalankan tugas dengan profesional; seorang pedagang yang juga da’i pasti akan lebih jujur dalam berdagang, seorang guru yang juga sekaligus da’i pasti akan dapat mengajar dengan lebih baik, dapat menjadi role model, lebih sabar dan menyayangi murid-muridnya. Pendek kata, dengan dakwah hidup akan lebih bermakna, lebih indah, lebih bersemangat dan lebih segalanya.

    Hadirin Rahimakumullah,

    Perintah berdakwah itu memang berasal dari Allah, akan tetapi bukan untuk kepentingan Allah semata, melainkan untuk keperluan manusia, yaitu agar manusia memilih jalan keselamatan dan kelangsungan hidup di dunia dan bekal di akhirat kelak. Dengan berdakwah manusia sadar akan perjalanan hidupnya, sadar akan hakekat hidupnya (dari mana, ada dimana dan mau kemana, inna lillâhi wa inna ilaihi rajiûn). Karena itu dengan berdakwah manusia akan senantiasa waspada, berhati-hati, berupaya memperbaiki diri dan kualitas hidupnya. Dengan berdakwah hidup akan lebih bermakna, lebih berkualitas, lebih terhormat dan membuat hidup lebih hidup.

    Karena berdakwah adalah tugas dan tindakan mulia, maka harus dilakukan dengan cara-cara yang mulia, oleh orang-orang yang mulia pula dan di tempat yang mulia pula. Dalam al-Qur’an dikatakan bahwa menyeru kepada jalan Tuhan harus dilakukan dengan bi al-hikmah (wisdom, non violent), mau’idhah hasanah (empowerment) dan mujadilah billati hiya ahsan (argumentatif).  Pendek kata, dakwah harus dilakukan dengan kemuliaan dan penuh keadaban.

    ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين

    Dakwah harus dilakukan kepada semua orang, yang sudah menerima Islam (ummah al-ijabah) maupun yang belum menerima seruan Islam (ummah al-da’wah), dan terus menerus sepanjang hayat. Dalam berdakwah harus didasari keihlasan yang tinggi dan bertujuan untuk menyeru kepada jalan Allah, bukan kepada jalan golongan atau aliran agama apalagi partai politik semata. Dengan keihlasan yang tinggi inilah yang akan memberikan kekuatan moral, motivasional maupun spiritual dan kepada pelaku dakwah ketika dakwahnya berhasil maupun belum berhasil.

    Hadirin Rahimakumullah,

    Bagaimana dakwah di era informasi dan komunikasi? Setiap zaman dan makan memiliki watak, persoalan dan tantangan. Demikian juga pada era informasi seperti sekarang ini. Era sekarang ini disebut era teknologi informasi, era informasi dan komunikasi, revolusi informasi dan revolusi digital. Era informasi membawa dampak  adanya keterbukaan, kebebasan berfikir dan berekspresi. Dampak dari adanya keterbukaan  adalah  berakhirnya era monopoli  kebenaran/informasi. Kehidupan keagamaan tidak dapat dilepaskan dari dimensi ruang dan waktu dan tidak dapat lepas dari pengaruh era informasi. Kebenaran penafsiran/pemikiran agama harus siap diuji kembali. Kekeliruhan atau ”kehohongan” paham agama yang selama ini diterima begitu saja sebagai dogma harus siap dikritisi kembali. Muncullah kemudian berbagai aliran, pemikiran dari yang ultra liberal sampai yang ultra salafi. Era keterbukaan juga melahirkan aliran-aliran baru yang dianggap sesat.

    Era informasi dan komunikasi disebut juga era post modernism (posmo). Era posmo berarti  berakhirnya era modern yang ditandai dengan standarisasi, hegemoni Barat atas etika, norma dan estetika (westernisasi). Etika, norma dan estetika lokal dan  tradisional yang bernilai tinggi  menjadi komodity berharga dan dicari orang. Berbagai jenis kesenian, ukiran, lukisan, bentuk bangunan dan  adat yang unik dan bernilai sebagai warisan menjadi berharga dan bahkan bisa menghasilkan devisa melalui  pariwisata. Karena itu berbagai bentuk warisan itu yang dulu menjadi media komunikasi dan media dakwah perlu dihidupkan dan diaktualkan kembali sebagai media dakwah di era informasi dan komunikasi ini.

    Dakwah pada era informasi juga tidak  lepas dari adanya perang informasi (propaganda).  Dalam hal ini Islam sebagai sebuah kekuatan politik dan ekonomi tidak lepas dari sasaran propaganda dari kekuatan politik dan ekonomi anti Islam seperti gerakan islamophobia yang menuduh Islam dan umatnya dengan menempelkan citra buruk kepada Islam dan umatnya.

    Berdasarkan uraian di atas, dakwah pada era informasi dan komunikasi  memerlukan reorientasi dan reformulasi yang meliputi objektif, isi, organisasi, kaedah dan alat yang  relevan dengan persoalan dan tantangan ruang dan waktu. Dakwah mimbar yang menggurui, menakut-nakuti, mengecam dan  mengancam kelompok lain, agama lain atau budaya lain, dan dakwah yang hanya mengawetkan nilai-nilai/pemikiran yang usang, dakwah yang membelenggu dan membebani  perlu ditinjau kembali. Dakwah pada era informasi dan komunikasi adalah dakwah yang cerdas, mencerdaskan dan mencerahkan, dakwah yang bijak dan penuh keadaban, dakwah yang mengilhami, menguatkan dan membebaskan.

    Hadirin Rahimakumullah

    Persoalan dakwah adalah persoalan hidup, dan hidup dalam segala dimensinya adalah kebudayaan. Dakwah tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan, bahkan hakekat berdakwah adalah membangun kebudayaan. Kebudayaan adalah alat dakwah yang paling efektif dan bahkan dakwah itu sendiri.

    Kalau umat Islam menghendaki dakwah yang paling efektif, maka harus menyusun strategi kebudayaan. Strategi kebudayaan sangat diperlukan dalam mendakwahkan Islam. Strategi kebudayaan dibangun berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam dan mindset keislaman diantara pelaku dakwah. Hal itu diperlukan terutama untuk membangun nilai-nilai dan mindet yang sejalan dengan visi dan misi Islam dalam konteks kemajemukan umat Islam itu sendiri maupun kemajemukan seluruh umat manusia. Dengan cara itu, umat Islam dapat melakukan tindakan strategis, memiliki skala prioritas (terfokus), dapat mengeliminasi perbedaan, menghindari pertentangan dan konflik sesama, maupun konflik dengan kekuatan agama lain. Dengan strategi kebudayaan yang jelas, umat Islam dapat menghindarkan diri dari perilaku reaktif dari tindakan propaganda anti Islam. Propaganda anti Islam bertujuan menghabiskan energi umat Islam, memecah belah umat Islam, mendiskreditkan Islam dan umatnya. Dakwah dengan strategi kebudayaan akan menggantikan ketegangan (perang dingin) dengan kompetisi, permusuhan dengan persaudaraan, konflik dengan kerjasama. Kompetisi, persaudaraan dan kerjasama jelas lebih islami, bermakna dan bermartabat dari pada  ketegangan, permusuhan dan konflik. Bukankah Islam itu agama damai yang sangat menjunjung tinggi silaturahim dalam pengertian seluas-luasnya termasuk sillaturrahiem antar bangsa dan peradaban? Tesis propaganda Samuel Huntington dalam The Clash of Civilization yang memposisikan Islam sebagai musuh peradaban Barat seharusnya dijawab dengan bukti-bukti ilmiah berupa  sejarah peradaban Islam yang justru memberikan kontribusi yang sangat besar pada peradaban Barat. Peradaban Barat adalah kelanjutan dari Peradaban Islam. Sebaliknya Kemajuan peradaban Barat harus dibayar dengan jutaan nyawa bangsa-bangsa Asia, Afrika dan Amerika Latin serta kerusakan alam yang hebat. Kesalahan sebagian umat Islam pada era sekarang ini adalah termakan dengan propaganda Barat dan Huntington dengan melakukan tindakan sebagaimana yang mereka tuduhkan itu.

    Dengan memiliki strategi kebudayaan, maknanya umat Islam memiliki nilai-nilai dan mindset dan program umum bersama  yang dijadikan sebagai acuan gerakan.  Dengan memiliki strategi kebudayaan juga akan diketahui dan didefinisikan siapa yang dianggap sebagai sasaran dakwah dan bagaimana mengefektifkannya. Dengan itu,  konflik karena perbedaan mazhab, golongan, partai politik, dan bahkan diantara sesama negara muslim  dapat dihindarkan.

    Hadirin Rahimakumullah,

    Dakwah melalui strategi kebudayaan  itu dapat dilakukan lewat jalur struktural dan kultural. Jalur struktural antara lain melalui politik dan partai politik, birokrasi, undang-undang yang mengemban misi dakwah. Jalur yang kedua adalah jalur kultural. Dakwah pendekatan kultural adalah dakwah dengan pendekatan budaya atau pendekatan kemanusiaan. Pendekatan kultural dapat dilakukan dengan pencerahan, penguatan, pemberdayaan nilai-nilai kemanusiaan dan atau nilai-nilai keislaman. Hal ini terutama dapat dilakukan melalui pendidikan (formal, informal maupun non formal),  pengembangan seni dan budaya, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, informasi dan berbagai program penguatan lainnya. Dakwah melalui jalur kultural ini terbukti lebih efektif. Organisasi sosial keagamaan, yayasan-yayasan, organisasi sosial kemasyarakatan, dan organisasi-organisasi non pemerintah dapat berkiprah seluas-luasnya dalam membangun masyarakat sipil yang tangguh (masyarakat madani). Dakwah dengan pendekatan kultural ini terbukti sangat efektif karena sejalan dengan semangat philantropis yang sangat dianjurkan oleh agama. Pendekatan kultural  dapat memanfaatkan  sumber manusia, sumber sosial, sumber keuangan, sumber organisasi dan sumber informasi. Anjuran berjuang di jalan Allah, bersedekah, berzakat, dan perintah beramar ma’ruf nahi munkar dalam pengertian luas merupakan sumber dan sekaligus kekuatan moral, motivasional, spiritual dan kekuatan wang untuk menopang berbagai gerakan amal-kemanusiaan.

    Pada era informasi dan komunikasi sekarang ini, dakwah dengan pendekatan kultural dianggap lebih tepat karena dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk menyampaikan pesan-pesan damai Islam kepada seluruh dunia, bukan saja kepada ummah al-ijabah tetapi juga kepada ummah al-da’wah di seluruh dunia. Proyek uswah hasanah di bidang pendidikan, kesehatan, penguatan ekonomi, seni budaya dan sosial kemasyarakatan akan lebih relevan dan berkesan.

    Hadirin Rahimakumullah

    Akhirnya mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan kekuatan lahir dan bathin kepada kita untuk selalu menjadi da’i, minimal untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat.

    Leave a reply

    Captcha Garb (1.5)