Prof. Dr. Tobroni, M.Si. Blog
RSS icon Email icon
  • PENDIDIKAN YANG MENGHORMATI GURU DAN MURID (Refleksi maulid Nabi)

    Posted on December 1st, 2010 tobroni No comments

    Oleh Prof. Dr. Tobroni, M.Si.

    Bulan ini adalah bulan Rabi’ul Awal atau bulan Maulid. Pada bulan ini 14,5 abad yang lalu lahirlah anak manusia dalam keadaan yatim, tetapi ia adalah  manusia pilihan: cerdas,  berbudipekerti luhur,  memiliki kepribadian yang kokoh dan agung.  Ia adalah Nabi Muhammad SAW.   Berbicara tentang Nabi Muhammad SAW akan segera terbayang di benak kita, sosok manusia teladan bagi semua orang, baik si kaya maupun si miskin, berkedudukan maupun orang biasa, tua maupun muda, dan laki-laki maupun perempuan. Keagungan pribadi Muhammad Rasulullah diabadikan dalam al-Qur’an berupa pujian Allah:  “Sungguh pada diri dirimu (Muhammad) terdapat akhlak yang agung” (al-Qalam 4). Dalam ayat lain Allah berfirman  dalam bentuk kalimat berita tetapi berisi perintah untuk meneladani Rasulullah SAW: “Sungguh terdapat teladan yang baik dalam diri Rasulullah bagimu, bagi orang yang berharap berjumpa Allah dan hari akhir” (al-AQhzab 21). Read the rest of this entry »

  • MANAJEMEN DAN KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN ISLAM: Mencari Format Baru Manajemen yang Efektif di Era Globalisasi

    Posted on December 1st, 2010 tobroni No comments

    MANAGEMENT AND LEADERSHIP OF ISLAMIC EDUCATION

    Effective Management in Globalization Era

    Oleh: Prof. Dr. Tobroni, M.Si.

    (Universitas Muhammadiyah Malang Indonesia)

    Abstract

    Once of characteristic of Islamic education is international  orientation. Statement from Mohammed Prophet to go to study in chine and statement from the Koran to study in the long distant[1] (Q.S. 9:122) showed us if Islamic Education has international   oriented. International Orientation is one important aspects to be international recognition and  reference,  and  viability or sustainability in the future.

    There are differences   between internalization and globalization even though both of them have similarities. There are symmetric relation in internationalization, and a-symmetric  relation in the globalization between developed countries and developing countries.  Globalization in education is opportunity for developed counties as provider or exporter education services, and treatment for developing countries as  importer education services. Generally, Moslem counties are developing countries. Read the rest of this entry »

  • SPIRITUAL LEADERSHIP The Problem Solver Krisis Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam

    Posted on November 29th, 2010 tobroni No comments

    Oleh Prof. Dr. Tobroni, M.Si.[1]

    The mind issue of this paper is to describe the spiritual leadership or leadership SQ. Spiritual leadership  in my opinion is the problem solver crisis of leadership in Islamic Education.  Experts in emotional spiritual quotient (ESQ) like Zohar and Agustian argue that  spirituality has extraordinary power which enables human beings to solve any problems. Experts in religious ethics like Weber and Izutsu state that religious ethics is the formation     base for morality and behavior. Behavior of people which tends to asceticism or mysticism depends on ethic values that become basic for morality. Effectiveness of human behavior that results in achievement, depends on spirituality and religious ethics. In this aericle, interrelation between spirituality, religious ethics and asceticism in the human being will make spiritual leadership.

    The conclusions of this article are: first, dominant power in Islamic education development depends on cultural power. The cultural power depends on leadership and the leadership power depends on the commitment of the leaders in  the religious ethics that derives from ethical behavior of God to human beings. These are spiritual leaders who can present God in their hearts and therefore, their souls become calm (nafs al-mutmainnah), their hearts become clean and peaceful (qalbun munîb, qalbun salîm), their minds become healthy and bright (aql ul-salîm) and their bodies become healthy (jism ul-salîm). The one meaning of a spiritual leader is the leader that has intellectual, emotional and spiritual intelligence. Because they have close relationship with worldly spirit, super natural and Ilahi, they can manage emotion and their hearts become calm and peaceful; God Sport is open, conscience and spirituality are working fully; bright minds and logic work normally and IQ, EQ and SQ are integrated to produce the ultimate intelligence. Read the rest of this entry »

  • PENGEMBANGAN MUTU AKADEMIK PTM Lessons Learned dari McGill University (Bagian 3)

    Posted on November 27th, 2010 tobroni No comments

    Prof. Dr. Tobroni, M.Si.

    (bagian 3 dari tiga tulisan)

    Pada bagian 1 dan 2 dikemukakan tentang nilai-nilai dasar yang harus dikembangkan sebagai kekuatan moral dan arah pengembangan perguruan tinggi. Pada Bagian kedua dikemukakan seputar pembinaan kemahasiswaan yang antara lain dibahas tentang pentingnya pembinaan mahasiswa tahun pertama dan pengembangan karier. Sedang pada bagian ketiga dikemukakan tentang pengembangan mutu akademik yang akan membahas tentang pengembangan dosen dan sumberdaya manusia, portofolio  pembelajaran, kultur akademik, perpustakaan,  dan dukungan IT (information technology). Read the rest of this entry »

  • KIAT PENGEMBANGAN PTM Lessons Learned dari McGill University 2

    Posted on November 27th, 2010 tobroni No comments

    Prof. Dr. Tobroni, M.Si.[i]

    (bagian 2 dari tiga tulisan)

    Pada bagian pertama dikemukakan bahwa keberhasilan membangun sebuah perguruan tinggi dilakukan dengan merubah apa yang ada dalam diri manusianya, berupa pola pikir, perilaku dan budaya. Apa yang dicapai oleh manusia yaitu sesuatu yang besar pada awalnya adalah kecil, sesuatu yang sempurna pada awalnya tidak sempurna, dan seterusnya. Siapa yang memulai dan melakukan perubahan? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah factor manusia yang bekerja dalam lembaga itu. Faktor penting berikutnya yang pada umumnya kurang mendapatkan perhatian di Indonesia adalah: pembinaan mahasiswa pada tahun pertama, strategi perekruitan mahasiswa baru dan beasiswa, dan penjaminan mutu dan jaminan kerja bagi lulusan. Read the rest of this entry »

  • TEORI-TEORI MENGUKUR MUTU SEKOLAH

    Posted on November 25th, 2010 tobroni 1 comment

    Oleh: Prof. Dr. Tobroni, M.Si.

    Paling tidak ada empat kategori sekolah apabila dilihat dari mutu dan proses pendidikannya, yaitu: bed school (sekolah yang buruk) , good school, (sekolah yang baik)  effective school (sekolah yang efektif)  dan excellence school (sekolah  unggul). Bed school adalah sekolah yang memiliki in put yang baik atau sangat baik tetapi proses pendidikannya tidak baik dan menghasilkan out put yang tidak bermutu. Good school adalah sekolah yang memiliki in put yang baik, proses baik dan hasilnya (out put-nya) baik. effective school adalah sekolah yang memiliki in put baik/kurang baik, proses pendidikannya sangat baik dan menghasilkan out put baik/sangat baik. Sedang excellence school adalah sekolah yang in put nya sangat baik, prosesnya sangan baik dan menghasilkan lulusan (out put) yang sangat baik. Read the rest of this entry »

  • PENINGKATAN MUTU PERGURUAN TINGGI ISLAM (Lessons Learned dari McGill University)

    Posted on November 25th, 2010 tobroni No comments

    Prof. Dr. Tobroni, M.Si.

    (bagian 1 dari tiga tulisan)

    Pada tanggal 18 Mei sampai 18 Juni 2006 saya melakukan perjalanan ke Kanada tepatnya ke kota Montreal dalam rangka mengikuti training tentang Higher Education Leadership and Management di McGill University Montreal. Acara itu terselenggara atas kerjasama Pemerintah Kanada dan Pemerintah Indonesia melalui CIDA dan Departemen Agama. Sedang yang membiayai acara tersebut adalah CIDA (Canadian International Development Agency), yaitu sebuah funding milik pemerintah Kanada untuk pembangunan internasional. Penulis adalah satu-satunya peserta dari kalangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah diantara 21 peserta lainnya. Selama satu bulan penuh, penulis mendapatkan training tentang bagaimana mengembangkan perguruan tinggi di tanah air menjadi perguruan tinggi  yang baik (menuju the real university) dengan mengacu pada McGill University Montreal Kanada. McGill University adalah salah satu universitas terbaik di Kanada dan mendapatkan predikat “The Research University of the Year 2005” dan peringkat 24 untuk World University Ranking tahun 2005. Bahkan Majalah Times Higher Education Supplement yang diterbitkan di London menempatkan  McGill University sebagai universitas besar dunia sebagaimana Harvard dan Oxford University. Sedangkan materi pelatihan mulai dari bagaimana konsep perguruan tinggi yang ideal (research University), visi-misi, manajemen kepemimpinan sampai pada unit-unit pelaksana teknis sebuah universtias.

    Penulis memandang perlu lesson learned atau gold nugget (hikmah/bongkahan emas ilmu)  dari Kanada dan khususnya dari McGill University ini disebarluaskan untuk pengembangan PTM. Muhammadiyah yang memiliki lebih dari 150 PTM apabila 10 diantaranya dapat menjadi the research university yang sesungguhnya, tentu sudah dapat memberikan kontribusi positif dalam membangun peradaban dunia. Berikut secara berseri dikemukakan tentang: visi dan budaya perguruan tinggi, manajemen dan proses pendidikan, dan Kemahasiswaan Read the rest of this entry »

  • THE ROLE OF RELIGION IN THE FORMATION OF ETHICS EDUCATION SOCIAL BROTHERHOOD AND PEACE (Studies in Malaysia and Indonesia)

    Posted on November 24th, 2010 tobroni No comments

    Oleh: Prof. Dr. Tobroni, M.Si.[1]

    En. Asyraf Isyraqi[2]

    ABSTRACT

    As an allied nation, it appears logical and Malaysia faced various problems which are similar. Some time ago, Indonesia was tested with a variety of horizontal conflicts and other violence or irregularities are not moral values such as corruption, violation of ethics and moral, liberal democracy that went too far so that violate moral values as a nation and akhlakul karimah East and religious nation . The problem that is almost the same but in a smaller scale and still in control also occurs in Malaysia. Read the rest of this entry »

  • REKONSTRUKSI PENDIDIKAN AGAMA UNTUK MEMBANGUN ETIKA SOSIAL DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

    Posted on November 24th, 2010 tobroni No comments

    Oleh: Prof. Dr. Tobroni, M.Si.

    Latar Belakang Permasalahan

    Berbagai permasalahan menimpa Bangsa Indonesia seperti masih adanya konflik sosial di berbagai tempat, sering mengedepankan cara kekerasan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan, praktek korupsi yang semakin canggih dan massif, sering terjadi perkelahian antar pelajar, pelanggaran etika dan susila yang semakin vulgar, munculnya aliran yang dianggap sesat dan cara-cara penyelesaiannya yang cenderung menggunakan kekerasan, tindakan kejahatan yang mengancam ketenteraman dan keamanan, praktek demokrasi liberal yang ekstreem dalam berbagai aspek kehidupan sehingga bertabrakan dengan budaya dan nilai-nilai kepatutan sebagai bangsa Timur dan bangsa yang religius.

    Sebagai bangsa Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga masih menghadapi persoalan yang serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, antara lain masih adanya sebagian umat Islam yang belum at home sebagai Bangsa Indonesia. Mereka belum sepenuhnya menerima keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai bentuk negara yang final. Masih adanya sebagian umat yang belum memiliki kemampuan dan keterampilan untuk hidup bersama dalam keberbedaan. Impak dari sikap itu antara lain berupa masih kuatnya eksklusifitas, maraknya gerakan-gerakan umat yang kontra produktif, seperti terorisme, garakan-gerakan bawah tanah yang bertujuan mengganti bentuk negara, berbagai bentuk pembangkangan dan bahkan perlawanan terhadap negara dan pemerintahan yang sah. Akibat dari sikap sebagian umat Islam ini sangat luas, berangkai dan kontra produktif bagi bangsa dan negara, dan khususnya bagi umat Islam.

    Permasalahan yang serius juga terjadi di dunia pendidikan. Pelanggaran etika sosial dan susila serta kekerasan dalam berbagai bentuknya sering terjadi seperti: perkelaian antar pelajar, seks bebas, tindak pidana, sikap tidak etis terhadap guru, berbagai bentuk pelanggaran tata tertib sekolah, dan minimnya prestasi dan kejayaan yang dicapai para pelajar kita.

    Permasalahan bangsa tersebut di atas semakin diperparah dengan tayangan telivisi yang sangat vulgar, life, tidak mengenal waktu tayang, dan diulang-ulang oleh hampir semua stasiun TV dan juga surat kabar. Peristiwa pembunuhan, pemerkosaan, perkelaian, perampokan, pembakaran, demo yang anarkis, tidakan aparat yang represif, perceraian, terorisme dan berbagai bentuk tindakan kejahatan justru menjadi menu utama dan disiarkan dalam berbagai bentuk tayangan (berita, peristiwa, sinetron, dialog dan lain-lain). Semboyan wartawan adalah “bad news is good news”. Berita baik apabila ada unsur ‘blood” dan “crowd”. Tindakan memperolok, memfitnah, menghina, mengadu domba, pembunuhan karakter justru difasilitasi oleh media.

    Fenomena di atas, apabila kita renungkan akan menimbulkan keprihatinan yang mendalam. Prihatin terhadap kualitas generasi muda di masa depan, prihatin terhadap citra dan daya saing bangsa kita yang semakin rendah dan direndahkan oleh bangsa-bangsa lain. Kita juga prihatin terhadap stigma terhadap sebagian umat Islam yang diidentikkan dengan teroris, anti intelektual dan anti peradaban.

    Berbagai permasalahan tersebut diasumsikan bersumber dari krisis etika dan moral: bisa korupsi dianggap prestasi, penipuan dianggap lumrah asalkan tidak keterlaluan, hilangnya budaya malu (marwah), hilangnya keperawanan tidak lagi disesalkan, politik uang untuk membeli kekuasaan, berbudi bahasa yang santun dianggap suatu kelemahan, agama tidak lagi dipedomani sebagai akhlak melainkan sebagai alat kepentingan dan kekuasaan, dan bahasa kekerasan adalah bahasa kekuasaan dan ketertindasan.

    Adanya krisis etika dan moral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bahkan juga krisis etika dan moral dalam beragama lantas memunculkan pertanyaan tentang peranan dan sumbangan Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk etika dan moral. Walaupun variabel perkembangan permasalahan tersebut sesungguhnya sangat kompleks, namun seringkali secara langsung maupun tidak langsung dihubungkan dengan permasalahan pendidikan agama di sekolah. Pertanyaan seperti ini dianggap sah-sah saja karena sumber dari berbagai permasalahan tersebut adalah akibat adanya krisis etika dan moral, sedangkan tugas pokok pendidikan agama adalah membentuk anak didik memiliki moralitas dan akhlak budi pekerti yang mulia.

    Kondisi tersebut tentu saja sangat memprihatinkan. Kondisi ini menuntut semua pihak untuk mengambil peran masing-masing guna menyelamatkan generasi muda dan bangsa. Kaum agamawan sebagai penjaga etika dan moral masyarakat termasuk di dalamnya guru agama harus diberdayakan agar dapat mengambil peran secara signifikan. Demikian juga pendidikan agama yang memiliki peran strategis harus semakin ditingkatkan mutu dan relevansinya bagi upaya pembangunan moral bangsa. Pendidikan agama di sekolah perlu direkonstruksi agar dapat memerankan tugas dan fungsinya secara efektif yaitu membangun akhlak (etika dan moral) generasi penerus bangsa. Rekonstruksi itu meliputi aspek filosofis, substantif dan metodologis. Read the rest of this entry »

  • PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTIF ISLAM

    Posted on November 24th, 2010 tobroni 1 comment

    Oleh Prof. Dr. Tobroni, M.Si.[1]

    PENDAHULUAN

    Istilah nation and charakter building adalah istilah klasik dan menjadi kosa kata hampir sepanjang sejarah modern Indonesia terutama sejak peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Istilah ini mencuat kembali sejak tahun 2010 ketika pendidikan karakter dijadikan sebagai gerakan nasional pada puncak acara Hari Pendidikan Nasional 20 Mei 2010. Latar belakang munculnya pendidikan karakter ini dilatarbelakangi oleh semakin terkikisnya karakter sebagai bangsa Indonesia, dan sekaligus sebagai upaya pembangunan manusia Indonesia yang berakhlak budi pekerti yang mulia.

    Istilah karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin “charakter”, yang antara lain berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak (Oxford). Sedangkan secara istilah, karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Definisi dari “The stamp of individually or group impressed by nature, education or habit. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Karakter dapat juga diartikan sama dengan akhlak dan budi pekerti, sehingga karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa atau budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik. Read the rest of this entry »